BERITA TERKINI

Pengaruh Musik Sebagai Media Pesan Damai dan Anti Perang

×

Pengaruh Musik Sebagai Media Pesan Damai dan Anti Perang

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, PALEMBANG/INDONESIA – Sejak bertahun-tahun lamanya, musik diketahui sebagai media multifungsi yang dapat merubah sesuatu sesuai dengan isi lagu, perspektif dan ekspektasi bagi penikmatnya.

Pada umumnya, musik atau lagu bisa dijadikan sebagai obat sedih atau mengubah mood menjadi lebih baik.

Namun tidak diketahui banyak orang, ada satu fungsi yang dimiliki oleh musik yang dianggap mampu memberikan manfaat dan dorongan bagi masyarakat luas dalam membuat dan membangun sebuah gerakan sosial.

Salah satunya, musik menjadi media penyampai pesan damai ketika di era perang.

Dengan kemampuan musik yang bersifat fleksibel dan universal, musik dianggap mampu membangun gerakan yang menolak adanya peperangan dan mendorong terciptanya dunia tanpa kekerasan.

Dilansir dari Maximum Rock n Roll Magazine, pada tahun 1960an, musik telah menunjukkan fungsinya sebagai media pesan damai yang memprotes dan menghujat perang Vietnam di kala itu.

Perang yang diketahui menelan lebih kurang 2 juta korban meninggal dunia, menjadi latarbelakang musisi dunia memberikan perhatian terhadap perang tersebut.

Era itu menggugah sejumlah musisi yang memprotes terjadinya perang tersebut dan berharap agar perang segera dihentikan.

Bob Dylan, Jhon Lennon dan Jimi Hendrix adalah beberapa nama musisi yang kerap kali memprotes perang dan menuntut perdamaian dunia.

Jhon Lennon

Ia dan teman-teman satu bandnya, The Beatles menciptakan lagu yang menunjukkan kekesalan dan kemarahannya terhadap perang Vietnam di kala itu.

Selain itu, Jhon Lennon dan teman-temannya memprotes dan mengkritik peran PBB yang dianggap gagal dalam menciptakan perdamaian dunia.

Hal itu dituangkan dalam karya mereka yang berjudul ‘give peace a chance‘.

Jimi Hendrix

Pada pergelaran musik terbesar di tahun 1969, Woodstock Music Festival yang juga bertemakan perdamaian, ia melakukan aksi panggung yang merepresentasikan suara tembakan dan suara pemakaman ala militer.

Saat itu, Jimi melakukan hal tersebut dengan menggunakan gitarnya. Ia mengatakan, apa yang ia lakukan adalah penegasan bahwa perang adalah perbuatan yang sia-sia saja.

“Perang hanya memberikan kesengsaraan dan rasa kehilangan yang sangat berlarut-larut,” ujarnya usai diwawancarai Maximum Rock n Roll Magazine pada tahun 1969.

Bob Dylan

Musisi folk asal Amerika Serikat itu menjadi pioner musisi lainnya yang mengungkapkan kekesalannya terhadap campur tangan Amerika Serikat di perang Vietnam.

Kala itu ia menciptakan sebuah lagu yang berjudul ‘The times they are a changin’.

Di lagu tersebut, ia menganggap apa yang dilakukan Amerika Serikat justru memperparah keadaan dan menyulut perang lebih besar.

Dari karya-karya yang diciptakan musisi tersebut membuat arus protes anti perang pun semakin besar di penjuru dunia.

Di Indonesia sendiri, arus pergerakan anti perang pun ikut tumbuh melalui media musik.

Beberapa musisi Indonesia seperti Iwan Fals, Slank dan beberapa musik lainnya turut menyuarakan hal yang sama.

Dalam lagu Puing I, Puing II dan Nyanyian Perang karya Iwan Fals menceritakan tentang kisah akhir dari sebuah peperangan yang sangat membuat hati pendengarnya seperti tersayat.

Lagu tersebut pun berpengaruh pada pola pikir orang yang mendengarkan lagu tersebut. Setidaknya, menjadikan lagu tersebut sebagai lagu yang mereka kenang dari Iwan Fals.

Selain itu, menumbuhkan kebencian akan peperangan dan mencintai kedamaian pada penggemar Iwan Fals sendiri.

“Iwan Fals telah mewakili perasaan bahwa perang memang tidak berguna,” ucap Ari, salah satu penggemar berat Iwan Fals, Minggu (23/5/2021).

Dampak lain pun mengalir bak aliran darah, sang penggemar yang juga berprofesi sebagai musisi, lebih senang mengajak orang-orang untuk cinta damai di lagu yang ia ciptakan daripada mengumbar kebencian.

Tidak jauh berbeda, Slank yang dikenal sebagai grup raksasa dengan hampir setengah dari penduduk Indonesia merupakan penggemarnya, dikenal sebagai band yang tidak pernah lelah untuk memprotes keadaan sosial dan politik yang terjadi di Indonesia.

Hal tersebut juga mengalirkan pemahaman anti perang dan cinta damai kepada penggemarnya.

Terungkap dalam setiap pertunjukan, Slank selalu mengucapkan kata ‘Peace/Piss’ dan mengajak para penggemarnya untuk saling mencintai sesama.

Firman, Ketua Slanker Fans Club Palembang mengatakan, ia dan teman-temannya tertarik dengan Slank karena lirik lagu yang tegas dan menjadikan cinta damai adalah media untuk hidup bersama.

Dampak lain pun terlihat dari terlibatnya beberapa anggota Slanker  dalam aksi damai dan berbagi sesama di Kota Palembang.

“Slank mengajarkan cinta damai yang lebih banyak untungnya daripada mencintai perang,” ujar sang Ketua.