BERITA TERKINIHEADLINEMATTA OPINI

Penjajahan Tanpa Rantai

×

Penjajahan Tanpa Rantai

Sebarkan artikel ini

Oleh : Gatot sugiharto

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Kita tahu ada yang salah. Kita marah, memperdebatkannya, lalu perlahan melupakannya. Besok, kesalahan serupa terjadi lagi. Anehnya, lama-kelamaan kita tidak lagi terkejut.

Sejak kapan manusia begitu akrab dengan sesuatu yang sebenarnya merusak kehidupannya sendiri?
Pertanyaan itu cukup lama mengganggu pikiran saya.

Dari sejarah peradaban hingga hari ini, saya melihat bahwa penjajahan ternyata tidak selalu membutuhkan rantai. Dahulu, wilayah dan sumber daya dikuasai secara nyata. Kini, penguasaan bisa berlangsung melalui kepentingan politik, ketergantungan ekonomi, banjir informasi, dan kebiasaan yang perlahan kita anggap wajar.

Mahalnya biaya politik dapat menciptakan ketergantungan kepada pemodal. Kepentingan memengaruhi kebijakan, sementara persoalan masyarakat terus berulang. Mereka yang terdesak kebutuhan hidup pun semakin rentan terhadap tawaran keuntungan sesaat.

Semuanya bisa saling mengunci.

Belum lagi hiburan tanpa henti, propaganda, dan janji keberhasilan instan yang terus memperebutkan perhatian kita. Persoalan dibicarakan, tetapi sering tenggelam sebelum menemukan penyelesaian.

Saya teringat gambaran zombie dalam film. Tentu hanya sebuah kiasan. Manusia tetap hidup, bekerja, bahkan cerdas, tetapi perlahan kehilangan kepekaan, daya kritis, dan kepedulian terhadap sesamanya.

Barangkali inilah yang saya maksud dengan penjajahan tanpa rantai.

Dan saya pun mungkin pernah terjebak di dalamnya. Terlalu cepat percaya, terbawa arus, atau menganggap sesuatu benar tanpa sungguh-sungguh memeriksanya.

Ternyata Menjadi Sadar tidak Semudah Mengucapkannya

Saya semakin gelisah memikirkan anak-anak yang sedang tumbuh, bahkan mereka yang belum lahir. Jangan-jangan yang kita wariskan bukan hanya persoalan ekonomi, politik, dan lingkungan, tetapi juga cara berpikir yang perlahan kehilangan nurani.

Mungkin perubahan harus dimulai dari hal sederhana. Kembali berbicara dalam keluarga, membiasakan anak-anak bertanya, memeriksa informasi, dan menghidupkan kepedulian terhadap sesama.

Sebab kesadaran membutuhkan keberanian untuk berpikir, dan cinta kasih agar tidak kehilangan arah kemanusiaannya.

Dan satu pertanyaan masih tinggal dalam pikiran saya.

Jika suatu hari anak cucu kita mewarisi dunia yang merdeka, tetapi manusia di dalamnya kehilangan kemerdekaan berpikir, kesadaran, dan cinta kasih, sesungguhnya peradaban seperti apa yang sedang kita tinggalkan bagi mereka yang belum lahir?

Penulis: Gatot Sultan
Editor: Redaksi