MATTANEWS.CO, CIAMIS – Aktivis lingkungan yang tergabung dalam Aliansi Tanpa Nama (ATN) menggelar aksi dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Pendopo Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin (7/6).
Dalam aksinya, mereka menuntut pemerintah serius dengan kebijakan yang berpihak pada lingkungan dan rakyat, serta mengkritisi pengelolaan sampah plastik di Ciamis.
Massa ATN melakukan aksi jalan kaki dari depan Gedung Pengadilan Negeri Ciamis menuju Setda Ciamis. Dalam melakukan aksi, sempat terjadi ketegangan antara massa dan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di pintu gerbang Setda, hingga akhirnya diizinkan masuk oleh petugas dengan tata cara Protokol Kesehatan (Prokes).
Dalam aksi peduli lingkungan tersebut, diisi dengan teateritikal dengan membungkus kepala menggunakan plastik hitam, sambil membacakan puisi yang dilakukan oleh Ridwan Hasimi, salah satu Penggiat Seni Kabupaten Ciamis.
Teateritikal tersebut sebagai gambaran bahwa kehidupan manusia di muka bumi sudah dipenuhi oleh sampah plastik. Aksi ini mendapat pengawalan dari Satpol PP Ciamis dan kepolisian.
Koordinator Lapangan (Korlap), Radithya Muhammad Ichsan mengatakan dalam memperingati hari lingkungan hidup sedunia dari tahun ke tahun sering melakukan pemungutan sampah bahkan pengelolaan sampah organik menjadi magot dan sebagainya.
“Di tahun ini, kami semua sudah geram, kita sudah lelah dan muak dengan janji-janji palsu pemerintah Kabupaten Ciamis dalam penanganan pengurangan penggunaan sampah plastik,” ucapnya, Selasa (8/6/2021).
Lebih lanjut dia mengatakan urgensi dari pengelolaan sampah yang tidak kompleks dan sangat tidak baik.
Kalau daerah kota memang diperhatikan terkait pengambilan sampah rutin, akan tetapi di daerah pelosok seperti di Panjalu terhambat pengangkutan sampah itu sendiri sehingga kemudian menjadi penumpukan sampah.
“Dan juga terkait pengelolaan limbah medis atau limbah B3, dimana Kabupaten Ciamis belum mampu menyediakan tempat pengelolaan limbah B3. Hingga terjadi kasus pembakaran limbah medis atau B3 di beberapa Puskesmas yang ada di Ciamis,” jelasnya.
Jika limbah B3 dibakar oleh oknum-oknum puskesmas di Ciamis, lanjut Radit, tentu ini merusak polusi udara dan pencemaran lingkungan, sebab limbah medis itu racun, jelas bahaya jika dibakar, karena sudah ada perusahaan pihak ke-3 untuk penanganan limbah medis.
“Begitupun di RSUD Ciamis, kami menemukan banyak sekali limbah medis atau B3 yang berceceran dimana-mana, bahkan di tempat pembuangan sampah,” paparnya.
Radit melanjutkan, bawa aksi ini juga menuntut atau menanyakan kajian terkait konservasi dan pembentukan tim pokja gunung sawal, yang tentunya ini membutuhkan biaya dari pemerintah daerah yang begitu besar, akan tetapi masyarakat sendiri tidak merasakan hasil dari konservasi itu sendiri.
“Akibat perusakan gunung sawal terus-terusan sampai saat ini, bahkan pohon-pohonnya di tebang oleh oknum-oknum perhutani, dengan alasan akan ditanami kopi, akibatnya para petani padi dan pembudidaya ikan merasakan dampaknya, yaitu disaat kemarau 1 bulan saja air sekitar kaki gunung sawal mengalami kekeringan,” ungkapnya.
Bukan melarang, kata Dia, akan tetapi perlu sustainable artinya pertanian ini harus berkelanjutan agriculture, tidak hanya mementingkan nilai ekonomi saja, tetapi dampak lingkungan juga harus diperhatikan.
Selanjutnya massa ATN menekan kepada bupati untuk membuat Peraturan Bupati (Perbup) dan Peraturan Daerah (Perda) terkait penggunaan kantong plastik. Karena kantong plastik ini sulit diurai.
“Setelah aksi ini, harapan ke depan kesepakatan kawan-kawan kita akan konsisten tetap menjaga lingkungan ini tetap hidup di Kabupaten Ciamis, selain itu kita akan konsisten mengawal kebijakan-kebijakan terkait apa yang telah kita audiensikan,” ujarnya.
Ia dan pihaknya berharap, masyarakat dapat merasakan langsung dampak dari aksi yang telah mereka lakukan.














