Adsafelink | Shorten your link and earn money

Reporter : Anang

Ogan Komering Ilir, Mattanews.coJauh dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) membuat penjual eceran bahan bakar minyak, baik Premium, Solar dan Pertalite menjamur di sejumlah desa di Sumatra Selatan. Salah satunya di Desa Jejawi, Kecamatan Jejawi, Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Untuk bisa meraih SPBU, warga di Desa Jejawi harus menempuh 40 kilometer ke Palembang atau 28 kilometer ke Kayu Agung. Butuh waktu 2 hingga 3 jam untuk mencapai SPBU. Itu pula yang membuat penjual BBM eceran tumbuh berkembang di sepanjang jalan antar desa tersebut.

Tidak hanya sebatas harga yang cukup jauh berbeda dibanding harga di SPBU, kekuatiran lain muncul diantaranya keraguan kualitas BBM yang dijual. Hartono (41 tahun), warga Desa Jejawi, menuturkan, selama bertahun-tahun masyarakat desa tersebut kesulitan mendapat BBM dengan harga yang ditetapkan pemerintah.

“Jarak SPBU di Palembang dan Kayu Agung, cukupjauh. Sekitar dua jam untuk bisa sampai kesana. Karena itu, kami mengandalkan BBM yang dijual eceran. Harganya selisih jauh,” kata dia.

Dijelaskan ayah dari 4 anak itu, permasalahan yang timbul bukan hanya soal harga. Melainkan juga kualitas BBM. “Kita kan tidak tahu, apakah BBM yang selama ini beli di eceran, timbangannya benar, apakah BBM nya murni atau tidak. Dampaknya pada kendaraan kami, harus sering keluarkan biaya untuk ke bengkel dan sebagainya,” jelasnya.

Sejak Agustus 2020, masyarakat Desa Jejawi mengaku lega dan bersyukur dengan adanya Pertashop. Hal itu lantaran, Pertashop menjual BBM jenis Pertamax dengan harga Rp9.200 dimana harga ini tidak berbeda dengan harga jual BBM jenis Pertalite atau Premium di penjual BBM eceran.

“Tentunya, Pertashop ini benar-benar membantu kami. Walau hanya menjual Pertamax, tapi harganya tidak jauh berbeda dibanding dengan BBM yang dijual pengecer. Yang paling penting, kualitas BBM yang dijual di Pertashop dijamin,” jelasnya.

Kepala Desa Jejawi, Zulkarnain, mengatakan, masyarakat di Desa Jejawi memang sangat mengharapkan adanya Pertashop sejak lama. “Memang masyarakat pengen adanya Pertashop seperti ini. Karena minyaknya asli dari Pertamina, ukuran pas, dan harga sesuai dengan ketentuan Pemerintah,” jelasnya.

Ia menuturkan, dari desa tersebut untuk menggapai SPBU di Palembang ataupun di Kayu Agung cukup jauh. Diakuinya, memang di desa tersebut ada banyak penjual minyak eceran, namun kualitas minyaknya tidak bisa dijamin.

“Kalau eceran, harganya jauh dari harga yang ditetapkan pemerintah. Jadi memang adanya Pertashop, masyarakat bersyukur. Karena memang masyarakat kita sudah banyak yang tahu BBM mana yang baik dan yang tidak. Mereka juga tersadar karena kendaraan mereka yang merasakan kualitas BBMnya,” jelas pria berusia 50 tahun itu.

Suasana pengisian BBM jenis Pertamax di Pertashop Desa Jejawi, Kecamatan Jejawi, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumsel.

Sementara itu, PIC Pertashop Pertamina Retail Wilayah Sumsel, Renold mengatakan, Pertashop merupakan program dari Pemerintah. Pertashop ditempatkan di unit desa untuk membantu masyarakat yang kesulitan menggapai SPBU karena lokasinya cukup jauh.

“Karenanya kami dari Pertamina juga semakin bersemangat untuk membangun Pertashop di daerah pelosok. Karena memang dari hasil evaluasi, antusias masyarakat sangat besar dengan keberadaan Pertashop ini dan ini merupakan harapan dan mimpi masyarakat sejak lama,” jelasnya.

Dijelaskan Renold, saat ini sudah ada lima Pertashop yang beroperasi di Sumsel. Diantaranya ada dua di OKI (Desa Jejawi dan Desa Teratai), dua di Muara Enim (Desa Sukadana dan Desa Karang Agung), dan satu di OKU (Desa Marga Bakti).

Sementara ada lima Pertashop lagi yang masih dalam proses persiapan yakni dua di Banyuasin (Desa Gandus dan Desa Sukamulya), dua di OKU (Desa Pagar Dewa dan Desa Tanjung Sari), serta satu di Muara Enim (Desa Tanjung Terang).

“Kami yakin lima Pertashop ini bisa dioperasionalkan sebelum akhir tahun ini,” jelasnya. Dalam mekanismenya, Renold menjelaskan, Pertashop merupakan program dengan skema kerjasama antara Pertamina dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dimana tujuan dibangunnya Pertashop ini agar dapat mendorong perekonomian di pelosok desa, serta membantu terwujudnya energi berkeadilan di Indonesia.

“Kita dari Pertamina Retail mengoperasikan Pertashop selama tiga bulan, setelah tiga bulan maka penanggungjawab diserahkan kepada BUMDes,” jelasnya.

Antusias oleh masyarakat itu, terlihat dari konsumsi Pertamax di Pertashop Desa Jejawi tersebut. Dimana pada pekan pertama saat dioperasionalkannya Pertashop hanya berkisar 100 liter perhari, namun saat ini konsumsinya sudah mencapai 250-300 liter per harinya.

Dan pihaknya, secara rutin mengirimkan pasokan BBM setiap 8 hari sekali dengan mengangkut 3.000 liter atau 3 KL ke Pertashop tersebut.

“Di awal operasional memang hanya ada sekitar 100 liter per harinya, mungkin ini karena masih dalam tahap sosialisasi dan pengenalan kepada masyarakat. Namun berjalannya waktu, saat ini konsumsi harian di Pertashop semakin meningkat, dimana saat ini sudah mencapai 300 liter per hari. Ini pencapaian yang luar biasa, masyarakat sudah banyak yang beradaptasi dengan keberadaan Pertashop di desa ini,” beber dia.

Bukan hanya untuk memastikan pendistribusian BBM kepada masyarakat, adanya Pertashop juga memberdayakan sumber daya desa. Sebab, para operator yang bekerja di Pertashop ini merupakan para pemuda desa tersebut yang lolos dalam perekrutan pegawai.

“Untuk operator, kita merekrut dari pemuda desa. Bukan di BKO dari kota. Setelah lolos seleksi, para pemuda tersebut kita berikan pelatihan untuk memberikan pelayanan di Pertashop kepada konsumen,” ucapnya.

Bahkan untuk penginputan dan pengiriman setoran hasil penjualan pun sudah dilatih. “Mereka yang menerima uang tunai dari konsumen, setiap harinya di setor melalui Brilink yang ada di desa tersebut,” jelasnya.

Ditambahkan Region Manager Communication, Relations & CSR Sumbagsel, Dewi Sri Utami, pembangunan Pertashop di Sumsel kian gencar dilakukan. “Jadi memang Pertamina ini secara bertahap terus mendorong pembangunan Pertashop,” ucapnya.

Dewi menjelaskan, Pertashop merupakan lembaga penyalur resmi Pertamina dengan skala yang lebih kecil, untuk melayani kebutuhan BBM berkualitas seperti Pertamax, Bright Gas dan pelumas yang belum terlayani oleh penyalur resmi Pertamina lainnya seperti SPBU.

Pertashop ini sangat memiliki manfaat bagi konsumen diantaranya, menghadirkan produk dengan kualitas dan harga yang sama dengan SPBU, takaran yang tepat serta memperhatikan adanya faktor keamanan.

“Harga dan kualitas BBM yang sama dengan SPBU. Kami sangat berharap fasilitas ini makin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pedesaan,” ucapnya.

Diakui Dewi, Pertashop menjadi bagian penting program One Village One Outlet (OVOO) yang bertujuan untuk menjangkau wilayah terpencil yang belum terlayani oleh SPBU reguler, sehingga masyarakat mendapat hak yang sama untuk mencukupi kebutuhan energinya sebagaimana masyarakat perkotaan.

Editor : Chitet

 

Print Friendly, PDF & Email
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here