MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Riuh sorak warga di tepian Sungai Musi seakan tak pernah padam ketika perahu bidar melesat membelah arus. Tradisi tahunan yang menjadi ikon Palembang itu kembali hadir untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Di balik sorak sorai dan semangat kebersamaan, ada ratusan aparat yang bekerja senyap memastikan keamanan jalannya pesta rakyat ini.
Festival Bidar tahun ini melibatkan 555 personel gabungan. Mereka tersebar di darat maupun di perairan, membentuk lingkar pengamanan agar tradisi turun-temurun ini berjalan aman, tertib, dan penuh kegembiraan.
Pengamanan Lalu Lintas
Kasat Lantas Polrestabes Palembang, AKBP Finan S Radipta, mengatakan kepolisian menurunkan 300 personel untuk mengatur arus lalu lintas di sekitar lokasi festival.
“Kami sudah menyiapkan rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas jalan menuju Sungai Musi. Tujuannya agar penonton yang datang tidak terjebak macet dan suasana tetap kondusif,” ujarnya.
Bapak berpangkat melati dua itu menambahkan, untuk pengamanan Festival Bidar, anggotanya akan tetap mengatur arus lalu lintas di sepanjang Jalan HM Riyacudu, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I Palembang.
“Bukan itu saja, bagi pengendara yang membawa kendaraannya, baik R2 maupun R4 diharapkan parkir di tempat yang sudah disiapkan. Tidak diperbolehkan parkir diatas Jembatan, baik itu Jembatan Ampera, Musi IV maupun Musi VI,” tegasnya.
Kendali Operasi
Sementara itu, Kabag Ops Polrestabes Palembang, Kompol Musa Jedi, menegaskan pola pengamanan dirancang agar penonton tetap merasa nyaman meski jumlah massa sangat besar.
“Dari total 555 personel, selain kepolisian, ada dukungan dari Pol-PP, Lanal, Dinas Perhubungan, dan juga tim internal Polrestabes. Semua bergerak terpadu, dengan titik fokus pengamanan di jalur darat dan perairan,” jelasnya.
Bapak berpangkat melati satu itu menjelaskan, untuk mengantisipasi terjadinya penumpukan dibeberapa titik, khususnya di tiga jembatan yang menjadi Ikon ‘Wong Palembang” itu, Jembatan Ampera, Jembatan Musi IV dan Musi VI pihaknya akan mensterilkannya dari kendaraan serta para pedagang.
“Nantinya, diatas tiga jembatan itu akan kita sterilkan dari kendaraan dan pedagang. Petugas akan berjaga. Pemberlakuan itu dimulai dari Jumat 15 Agustus 2025 hingga pada Minggu 17 Agustus 2025,” urainya.
Peran Pol-PP
Kasat Pol-PP Kota Palembang, Herison, menambahkan, sebanyak 90 personel Pol-PP diterjunkan untuk menjaga ketertiban di area penonton.
“Kami fokus pada penertiban kerumunan, mencegah penonton masuk ke jalur lomba, dan memastikan lingkungan tetap aman serta bersih. Festival ini milik bersama, jadi semua pihak harus sama-sama menjaga,” katanya.
Pengawasan di Sungai
Tak kalah penting, pengamanan di jalur air menjadi tanggung jawab Direktur Polda Sumsel. Dirut Pol Air, Kombespol Sonny Mahar Budi A, menjelaskan ada 75 personel yang bersiaga di sungai.
“Keselamatan peserta lomba maupun masyarakat yang berada di perairan jadi prioritas kami. Personel Pol Air disebar dengan perahu patroli untuk mengantisipasi insiden, sekaligus memastikan jalur Sungai Musi tetap steril selama perlombaan,” tegasnya.
Selain itu, pengamanan juga melibatkan 30 personel tim Polrestabes Palembang, 20 personel Lanal, serta 40 petugas Dinas Perhubungan yang fokus pada pengaturan jalur transportasi di sekitar lokasi.
Tantangan di Tengah Puluhan Ribu Penonton
Encik M Alaudin alias Jaka Peserta Lomba Prahu Bidar menyebutkan Pengamanan arus di acara Festival Prahu Bidar nyatanya masih banyaknya penonton yang mengunakan perahu mendekati arus lomba.
“Kendalanya yang pasti (perahu) penonton. Dari tahun lalu, panitia sudah berusaha semaksimal mungkin namun di lapangan terlihat warga masih menggunakan perahu ketek, speedboat, maupun tongkang,” katanya.
Jaka menyampaikan, meski lajur sungai belum steril optimal, dibandingkan tahun lalu area festival lebih teratur 2025. Tetapi lanjutnya, persoalan penonton yang berada di kawasan perlombaan, memang jadi momok besar bagi dirinya dan tim bidar lain.
“Tahun lalu lebih crowded mengingat kami tertabrak perahu. Untuk tahun ini lebih stabil dan dapat dikendalikan oleh panitia,” ujar Jaka.
Harmoni Budaya dan Keamanan
Deru dayung, teriakan kompak para pendayung, dan tepuk tangan penonton berpadu dengan kerja serius para petugas yang menjaga jalannya acara. Semangat gotong royong terlihat bukan hanya dari para peserta di atas bidar, tetapi juga dari aparat gabungan yang saling menguatkan demi kelancaran festival.
Di usia ke-80 tahun kemerdekaan Indonesia, Festival Bidar kembali membuktikan dirinya bukan hanya perlombaan, melainkan sebuah ruang kebersamaan: rakyat bersorak di tepian, para pendayung berjuang di sungai, dan aparat berjaga tanpa lelah di darat maupun di air. Semua berpadu, merayakan kemerdekaan dengan cara khas Palembang.














