MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU — Jalur transportasi darat yang menghubungkan Putussibau, Kapuas Hulu, dengan Kuching, Sarawak, Malaysia, memasuki babak baru. Trayek lintas negara Putussibau–Badau–Lubok Antu–Kuching resmi diperkenalkan melalui kegiatan Soft Launching di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Badau, Rabu (7/10/2026).
Peluncuran ini menandai langkah baru dalam memperkuat konektivitas darat antara Kalimantan Barat dan Sarawak. PLBN Badau ditetapkan sebagai titik pertukaran penumpang dalam pola layanan back to back antara Indonesia dan Malaysia.
Dalam skema tersebut, bus DAMRI melayani perjalanan dari Terminal Kedamin Putussibau menuju PLBN Badau. Dari sisi Malaysia, layanan dilanjutkan menggunakan bus dari Lubok Antu menuju Central Kuching.
Dengan pola itu, masyarakat dari Putussibau kini memiliki alternatif perjalanan menuju Kuching melalui jalur darat dengan titik pertukaran di kawasan perbatasan.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Barat, Drs. Hermanus, M.Si., mengatakan pengoperasian trayek tersebut merupakan hasil proses panjang dan koordinasi antara pemerintah Indonesia dan Sarawak.
“Trayek ini bukan hanya menghadirkan pilihan transportasi baru bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya kita memperkuat konektivitas Kalimantan Barat dengan Sarawak. Dengan adanya layanan ini, mobilitas masyarakat di wilayah perbatasan diharapkan menjadi lebih mudah, aman, dan nyaman,” ujar Hermanus.
Menurutnya, gagasan pengoperasian trayek Putussibau–Kuching telah dibahas sejak Sosek Malindo 2014 dan sempat dilakukan uji coba bersama pada 2017.
Rencana pelayanan Angkutan Lintas Batas Negara (ALBN) Putussibau–Kuching kemudian kembali ditindaklanjuti melalui kunjungan delegasi Malaysia kepada Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu pada Juli 2025.
“Rencana pelayanan Angkutan Lintas Batas Negara Putussibau–Kuching kemudian ditindaklanjuti melalui kunjungan delegasi Malaysia ke Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu pada Juli 2025 untuk penjajakan awal rencana pelayanan trayek melalui PLBN Badau,” jelasnya.
Dorongan tersebut kemudian diperkuat melalui hasil Sidang ke-40 Sosek Malindo Tingkat Negeri Sarawak dan Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak.
Dalam operasional tahap awal, perjalanan dari Terminal Kedamin Putussibau menuju PLBN Badau memiliki jarak sekitar 174 kilometer. Sementara perjalanan dari Lubok Antu menuju Kuching mencapai sekitar 252 kilometer.
Layanan tersebut menggunakan bus berkapasitas sekitar 30–40 penumpang.
PLBN Badau Jadi Titik Kunci
Kepala PLBN Badau, Wendelinus Fanu, menilai pengoperasian trayek ini menjadi momentum penting bagi kawasan perbatasan.
Menurutnya, keberadaan PLBN Badau sebagai titik pertukaran penumpang tidak hanya berkaitan dengan layanan transportasi, tetapi juga memperkuat fungsi perbatasan sebagai penghubung masyarakat kedua wilayah.
“Dengan ditetapkannya PLBN Badau sebagai titik pertukaran penumpang dalam layanan transportasi Putussibau–Kuching, kami melihat ini sebagai langkah positif dalam memperkuat konektivitas masyarakat Kalimantan Barat dengan Sarawak,” ujar Wendelinus.
Ia menegaskan pihaknya siap mendukung kelancaran pelayanan lintas batas serta memastikan koordinasi antarunsur Customs, Immigration and Quarantine (CIQ) berjalan dengan baik.
“Kami siap mendukung kelancaran pelayanan lintas batas serta memastikan koordinasi antarunsur CIQ berjalan dengan baik, sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan yang aman, tertib, dan nyaman,” katanya.
Wendelinus berharap kemudahan akses transportasi tersebut turut membuka ruang pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat perbatasan.
“Harapannya, dengan semakin mudahnya akses transportasi, akan semakin banyak peluang yang terbuka bagi masyarakat, baik dalam bidang perdagangan, pariwisata maupun kegiatan ekonomi lainnya,” tambahnya.
DAMRI Siapkan Layanan Putussibau–Badau
Sementara itu, General Manager Perum DAMRI Pontianak menyampaikan kesiapan DAMRI mendukung pengoperasian trayek tersebut.
Menurutnya, layanan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan transportasi yang lebih terintegrasi bagi masyarakat Kalimantan Barat.
“Kami melihat trayek ini sebagai peluang untuk menghadirkan layanan transportasi yang semakin terintegrasi bagi masyarakat. DAMRI berkomitmen menjaga aspek keselamatan, kenyamanan, dan ketepatan pelayanan sehingga masyarakat dapat memanfaatkan layanan ini dengan baik,” ungkapnya.
Untuk tahap awal, bus DAMRI dari Terminal Kedamin Putussibau berangkat pukul 08.00 WIB.
Sementara layanan dari arah Malaysia berangkat dari Central Kuching pukul 07.00 waktu Malaysia.
Tarif perjalanan Putussibau–Kuching ditetapkan Rp400.000, sedangkan perjalanan Putussibau–PLBN Badau sebesar Rp200.000.
Layanan tersebut direncanakan beroperasi setiap hari.
Bukan Sekadar Bus, Ada Harapan Ekonomi di Perbatasan
Kehadiran trayek Putussibau–Kuching tidak sekadar menambah pilihan moda transportasi. Jalur ini juga membawa harapan terhadap semakin terbukanya aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan.
Bagi masyarakat Kapuas Hulu, Kuching selama ini menjadi salah satu tujuan perjalanan untuk berbagai kebutuhan. Dengan adanya layanan transportasi yang lebih terstruktur, akses perjalanan menuju Sarawak diharapkan menjadi lebih praktis.
Salah seorang masyarakat yang hadir dalam kegiatan Soft Launching menyambut positif pembukaan trayek tersebut.
“Kami tentu menyambut baik adanya bus ini. Selama ini perjalanan ke arah Kuching membutuhkan beberapa tahapan dan pilihan transportasi. Dengan adanya trayek ini, masyarakat memiliki alternatif yang lebih mudah, terutama bagi yang memang sering bepergian ke Malaysia,” ujarnya.
Selain mobilitas masyarakat, keberadaan trayek ini juga berpotensi mendukung sektor perdagangan, jasa dan pariwisata.
Kapuas Hulu memiliki sejumlah destinasi wisata alam yang berada di kawasan perbatasan. Kemudahan akses transportasi diharapkan dapat menjadi salah satu faktor pendukung meningkatnya kunjungan dan aktivitas ekonomi masyarakat lokal.
Dengan demikian, PLBN Badau tidak hanya berperan sebagai pintu keluar-masuk orang dan barang antarnegara. Pos perbatasan tersebut juga mulai mengambil peran lebih luas sebagai simpul konektivitas transportasi antara Kalimantan Barat dan Sarawak.
Kegiatan Soft Launching ditandai dengan pelepasan bus operasional trayek Putussibau–Badau–Lubok Antu–Kuching.
Momentum tersebut menjadi penanda dimulainya babak baru konektivitas transportasi darat lintas negara dari wilayah timur Kalimantan Barat menuju Sarawak.
Jika layanan ini berjalan optimal, jalur Putussibau–Kuching diharapkan bukan hanya mendekatkan jarak perjalanan, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi interaksi masyarakat, perdagangan, pariwisata dan pertumbuhan ekonomi di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia. (*)














