MATTANEWS.CO, CIAMIS – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat melalui Bidang Wilayah III Ciamis menggelar kegiatan Riak Ramadan bersama Kelompok Pecinta Alam (KPA) sebagai upaya edukasi konservasi kepada masyarakat dan generasi muda. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan satwa liar di kawasan konservasi, Jum’at (13/03/2026)
Kepala Bidang BKSDA Jawa Barat Wilayah III Ciamis, Achmad Arifin, menjelaskan bahwa pihaknya memiliki wilayah kerja yang cukup luas, mencakup 11 kabupaten/kota dengan sekitar 16 kawasan konservasi yang berada di bawah pengelolaan BKSDA.
“Alhamdulillah kami dari Balai Besar KSDA Jawa Barat, khususnya Bidang Wilayah III Ciamis, bersama teman-teman Kelompok Pecinta Alam melaksanakan kegiatan Riak Ramadan ini sebagai bagian dari edukasi konservasi kepada masyarakat,” ujar Achmad Arifin.
Ia menegaskan bahwa BKSDA yang berada di bawah Kementerian Kehutanan memiliki komitmen kuat dalam menjaga kelestarian alam. Hal tersebut sejalan dengan tugas pokok dan fungsi BKSDA yang dikenal dengan konsep 3P, yaitu perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati beserta ekosistemnya, serta pemanfaatan sumber daya alam secara lestari.
Dalam kegiatan tersebut, BKSDA juga menampilkan berbagai alat peraga edukasi konservasi seperti flyer tentang keanekaragaman hayati, informasi mengenai kawasan suaka margasatwa, hingga pemaparan tentang Suaka Margasatwa Gunung Sawal yang menjadi habitat penting bagi berbagai satwa liar dilindungi.
Menurut Achmad Arifin, kawasan Gunung Sawal merupakan rumah yang nyaman bagi berbagai jenis satwa, di antaranya macan tutul jawa, elang jawa, lutung jawa, hingga surili.
“Kami juga memberikan edukasi mengenai penyelamatan satwa liar. Di sini kami menampilkan berbagai peralatan yang digunakan saat melakukan evakuasi satwa, seperti kendaraan unit penyelamatan satwa, kandang evakuasi, alat penjepit, sarung tangan khusus, dan peralatan lainnya yang digunakan ketika ada satwa dilindungi turun ke permukiman warga,” jelasnya.
Selain itu, masyarakat juga diperlihatkan fosil tulang belulang macan tutul yang oleh masyarakat Ciamis dikenal dengan sebutan “Macan Tutul Abah”. Fosil tersebut ditemukan di kawasan Gunung Sawal sekitar tahun 2017 dan kini dijadikan sarana edukasi agar masyarakat memahami keberadaan satwa liar di kawasan tersebut.
Melalui edukasi tersebut, BKSDA berharap masyarakat dapat memahami pentingnya koeksistensi, yaitu hidup berdampingan dengan satwa liar yang berada di sekitar kawasan hutan tanpa merusak ekosistemnya.
Achmad Arifin juga menjelaskan bahwa kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal hingga saat ini masih menjadi habitat bagi macan tutul jawa. Untuk memastikan keberadaan satwa tersebut, BKSDA bersama tim peneliti saat ini tengah melakukan survei melalui program Javan Wide Leopard Survey (JWLS).
“Kami memasang sejumlah kamera trap di beberapa titik untuk mengetahui struktur populasi macan tutul jawa di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal. Dugaan kami satwa tersebut masih ada, bahkan populasinya cukup baik karena habitatnya masih terjaga,” ungkapnya.
Ia pun mengajak masyarakat, khususnya generasi muda dan komunitas pecinta alam, untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan.
“Alam adalah modal dasar pembangunan. Jika terjadi bencana seperti longsor, banjir, atau kerusakan lingkungan, sering kali kita baru menyadarinya setelah terjadi. Oleh karena itu kita harus mulai menjaga alam sejak sekarang sebagai bentuk mitigasi agar fungsi lingkungan seperti penyedia oksigen, air, dan penyangga kehidupan tetap terjaga,” pungkas Achmad Arifin.














