MATTANEWS.CO, CIAMIS – Riani Bilqis, gadis kecil berusia 12 tahun asal Ciamis hanya bisa duduk di atas kursi. Hal itu dikarenakan efek dari penyakit yang dideritanya.
Diketahui Riani menderita gangguan ginjal. Karena keterbatasan ekonomi, Riani tidak menjalani pengobatan secara medis.
Akibat penyakit tersebut membuat perawakan Riani tampak lebih kecil dari postur tubuh anak seusianya.
Riani hanya bisa duduk di kursi tanpa menikmati masa kecil yang bahagia seperti anak-anak sebayanya. Beruntung dia punya orang tua yang selalu mengurus dan menyayanginya.
Riani dan keluarganya tinggal di Dusun Warung Kulon RT/RW 05/02 Desa Imbanagara Raya, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Secara global, insiden gangguan ginjal pada anak mencapai 33,7 persen dengan angka kematian 13,8 persen. Sementara di Indonesia, data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 2017 mencatat sebanyak 212 anak dari 19 rumah sakit yang terdata mengalami gangguan ginjal.
Jumlah penderita gangguan ginjal kronis yang terus meningkat membuat penyakit ini mesti diwaspadai.
Gangguan ginjal pada anak terbagi atas akut dan kronis. Gangguan akut merujuk pada kerusakan ginjal secara mendadak dan singkat. Sementara gangguan kronis, sebagaimana yang diidap Riani, terjadi lebih dari tiga bulan dan sering kali hingga seumur hidup.
Penyakit luka pada ginjal yang diidap Riani telah berlangsung lama. Awalnya, saat masih berusia satu tahun Riani mengalami keretakan tulang ekor sehingga mengakibatkan urat saraf terjepit.
“Akibat dari urat saraf kejepit, anak saya baru bisa berjalan disaat menginjak usia 7 tahun,” ucap Rini Damayanti (34), ibunda Riani saat diwawancara di kediamannya, Senin (6/9/2021).
Sejak tiga bulan terakhir, penyakit luka ginjal yang diderita Riani terasa semakin parah. Kakinya mulai membengkak, bagian tenggorokan gatal-gatal dan perutnya semakin sakit, berjalan pun harus dibantu orang tuanya.
Keterbatasan ekonomi, orang tuanya tidak bisa membawa Riani ke Rumah Sakit dan hanya mampu berobat jalan di salah satu Klinik milik Mantri Iji di Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
“Sudah dua tahun saya mengajukan permohonan Kartu Indonesia Sehat (KIS) Waluya, tapi sampai saat ini belum mendapatkan,” ungkapnya.
Rini menjelaskan kalau daftar kartu BPJS berbayar, dia dan suaminya tidak akan sanggup untuk membayar KIS BPJS bulanan. Karena pekerjaan Suami Rini sebagai tukang antar isi ulang air galon dengan penghasilan 50 ribu perhari. Penghasilannya hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari Istri dan ketiga anaknya.
“Siapa yang tega melihat anak sendiri menderita penyakit seperti ini, tapi saya pasrah pada tuhan yang maha kuasa, semoga anak saya diberikan kesembuhan dan bisa sekolah seperti anak-anak sebayanya,” tandasnya.














