BERITA TERKINI

Sekapur Sirih, Estetika Penerimaan dan Seni Kesadaran di Era Modern

×

Sekapur Sirih, Estetika Penerimaan dan Seni Kesadaran di Era Modern

Sebarkan artikel ini

Oleh : Gatot sultan

MATTANEWS.CO – Dalam riuh rendah peradaban digital yang serba cepat, masyarakat modern seringkali kehilangan “jangkar” dalam berinteraksi. Komunikasi sering kali terjebak dalam pragmatisme yang dingin. Namun, jika kita menoleh sejenak ke arah tepian Sungai Musi, ke dalam tradisi kebesaran Wong Kito, kita akan menemukan sebuah artefak budaya yang melampaui sekadar seremoni: Sekapur Sirih.

Di Palembang, sekapur sirih bukan sekadar tumpukan daun dan rempah di atas cerana atau tepak. Ia adalah sebuah risalah filosofis tentang bagaimana manusia seharusnya “hadir” secara penuh di hadapan sesamanya.

Ontologi Tepak: Wadah Alam Semesta

Secara ontologis, komponen dalam sekapur sirih yaitu sirih, pinang, gambir, kapur, dan cengkih yang merupakan simbolisasi dari keragaman sifat manusia. Sirih yang merambat namun tidak mematikan pohon inangnya melambangkan sifat rendah hati dan memuliakan. Pinang yang tinggi lurus melambangkan kejujuran dan keteguhan budi. Kapur yang putih bersih melambangkan ketulusan hati, sementara gambir yang kelat dan cengkih yang pedas-wangi adalah representasi dari pahit getirnya kehidupan yang harus diterima dengan keanggunan.

Dalam tradisi Palembang, penyajian sekapur sirih dalam Tari Tanggai atau upacara penyambutan tamu adalah sebuah deklarasi “Penerimaan Radikal”. Sebelum kata-kata dipertukarkan, sebelum negosiasi dimulai, ada sebuah jeda sakral di mana ego ditanggalkan demi menghargai eksistensi orang lain.

Seni Kesadaran (Mindfulness) dalam Selembar Daun

Jika dikaitkan dengan relevansi masa kini, sekapur sirih adalah bentuk awal dari Seni Kesadaran atau Mindfulness. Di dunia modern, kita sering berbicara kepada seseorang, tapi jarang bersama seseorang. Kita mendengarkan untuk menjawab, bukan mendengarkan untuk memahami.

Sekapur sirih mengajarkan kita untuk berhenti sejenak (The Sacred Pause). Mengunyah sirih membutuhkan waktu; ia adalah proses yang lambat, menuntut indra pengecap untuk mengenali spektrum rasa yang kompleks. Ini adalah antitesis dari budaya “instan” kita. Ia mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia membutuhkan “pemanasan” batin, sebuah proses alkimia di mana rasa hormat harus lebih dahulu mendahului maksud dan tujuan.

Relevansi di Era Disrupsi: Menemukan Kembali “Adab”

Di tengah banjir informasi dan polarisasi sosial, kita sedang mengalami krisis “ruang antara”. Sekapur sirih menawarkan solusi budaya melalui konsep Adab. Dalam kearifan lokal Palembang, memuliakan tamu dengan sirih berarti membuka diri sepenuhnya.

Secara filosofis, ini adalah sebuah panggilan bagi manusia modern untuk:

Memulihkan Kehadiran (Presence): Belajar hadir secara utuh dalam setiap pertemuan, tanpa terdistraksi oleh layar gawai atau kecemasan masa depan.

Harmonisasi Perbedaan: Seperti sirih dan kapur yang menghasilkan warna merah saat dikunyah, perbedaan pendapat seharusnya bisa melebur menjadi energi baru yang memperkaya, bukan menghancurkan.

Etika Transparansi: Kapur yang putih di dalam sirih mengingatkan bahwa di balik diplomasi sosial yang rumit, harus ada niat yang murni dan bersih.

Penutup
Merawat Akar di Langit Modernitas

Sekapur sirih tidak boleh hanya menjadi pajangan museum atau formalitas panggung yang kehilangan nyawa. Ia adalah teknologi batin warisan leluhur Palembang untuk menjaga kewarasan sosial. Di masa modern ini, mempraktikkan filosofi sekapur sirih berarti memilih untuk menjadi manusia yang lebih empatik, lebih sadar, dan lebih menghargai proses daripada sekadar hasil.

Kita mungkin tidak lagi mengunyah sirih secara fisik setiap hari, namun kita bisa selalu menyajikan “sekapur sirih batin”,sebuah keramahan yang tulus dan kesediaan untuk mendengarkan kepada setiap jiwa yang kita temui di jalan kehidupan. Karena pada akhirnya, peradaban yang besar bukanlah yang paling canggih teknologinya, melainkan yang paling mampu memanusiakan manusianya.

Salam Budaya
Seni kesadaran
RUMAH ASPIRASI BUDAYA