MATTANEWS.CO – Laci kayu itu tidak pernah dikunci. Letaknya di sudut lemari tua, sedikit seret ketika ditarik, dan selalu mengeluarkan bunyi pelan setiap kali dibuka.
Di dalamnya, tersimpan sebuah buku kecil berwarna hijau.
Sampulnya sudah pudar. Sudutnya melengkung. Beberapa halamannya menguning dimakan waktu. Namun bagi Wahyuni (49), benda itu adalah salah satu yang paling berharga dalam hidupnya.
Ia membuka halaman pertama dengan hati-hati.
Di sana tercatat angka kecil Rp100.000.
Tanggalnya sudah lama.
“Itu setoran pertama saya,” katanya, sambil tersenyum tipis.
Tidak ada yang istimewa dari angka itu. Bahkan bagi sebagian orang, mungkin tidak cukup untuk satu kali makan di kota besar. Namun bagi Wahyuni, angka itu adalah awal dari sesuatu yang besar.
Sesuatu yang ia bangun perlahan, dalam diam.
Ia bukan pegawai tetap. Penghasilannya tidak menentu. Sehari-hari ia membantu usaha kecil keluarganya, kadang berjualan, kadang hanya menunggu pembeli datang.
Karena itu, menabung bukan hal mudah.
“Kalau lagi ramai, bisa setor Rp200 ribu. Tapi kalau sepi, ya Rp50 ribu saja sudah syukur,” ujarnya.
Halaman demi halaman ia buka. Setoran demi setoran tercatat rapi. Tidak besar, tetapi konsisten.
Ada jeda panjang di beberapa bagian. Waktu-waktu ketika ia tidak bisa menabung sama sekali.
“Itu biasanya pas ada kebutuhan mendadak,” katanya.
Namun yang menarik, tidak ada satu pun halaman yang benar-benar kosong.
Selalu ada angka, sekecil apa pun.
Seolah-olah ia tidak pernah benar-benar berhenti.
Yang tidak disadari Wahyuni, buku kecil itu bukan hanya miliknya.
Ia adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Dari jutaan buku serupa di seluruh Indonesia, dana haji terkumpul hingga mencapai lebih dari Rp180 triliun. Angka yang mungkin sulit dibayangkan, tetapi berasal dari setoran-setoran kecil seperti miliknya.
Dana itu kemudian dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) melalui berbagai instrumen investasi syariah.
Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah, menegaskan bahwa setiap rupiah yang masuk memiliki nilai yang sama.
“Setiap dana yang disetorkan oleh jemaah adalah amanah yang harus dijaga dan dikelola secara profesional untuk memberikan manfaat,” ujarnya.
Namun bagi Wahyuni, semua itu terasa jauh.
Ia tidak pernah memikirkan ke mana dananya pergi. Ia tidak membaca laporan keuangan. Ia juga tidak memahami istilah seperti “nilai manfaat” atau “instrumen investasi”.
Ia hanya tahu satu hal: ia harus terus menabung.
“Kalau berhenti, ya tidak akan sampai,” katanya.
Meski demikian, tanpa ia sadari, setoran kecilnya ikut bergerak.
Dikelola. Dikembangkan. Dijaga.
Dan suatu saat, kembali kepadanya dalam bentuk yang nyata.
Nilai manfaat dari pengelolaan dana haji digunakan untuk membantu menekan biaya yang harus dibayar oleh jamaah. Artinya, apa yang ia tabung tidak hanya diam, tetapi ikut bekerja.
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Hilman Latief, menjelaskan bahwa sistem ini dirancang untuk memberikan manfaat kolektif.
“Pengelolaan dana haji memberikan manfaat yang dapat dirasakan oleh seluruh jemaah, termasuk dalam menjaga keterjangkauan biaya,” ujarnya.
Bagi Wahyuni, manfaat itu tidak terlihat dalam bentuk laporan.
Ia terlihat dalam angka yang lebih kecil saat pelunasan nanti.
“Kalau memang bisa meringankan, itu sangat membantu,” katanya pelan.
Di sinilah makna sebenarnya dari pengelolaan dana haji menjadi nyata.
Bahwa sistem besar itu tidak berdiri di ruang kosong. Ia berdiri di atas kepercayaan jutaan orang yang menabung sedikit demi sedikit.
Pengamat ekonomi syariah, Yusuf Wibisono, menyebut bahwa kekuatan dana haji terletak pada akumulasi partisipasi masyarakat.
“Dana haji merupakan hasil dari setoran kolektif yang dikelola untuk memberikan manfaat bersama,” ujarnya.
Artinya, setiap setoran sekecil apa pun memiliki peran.
Tidak ada yang terlalu kecil untuk berarti.
Wahyuni menutup bukunya perlahan. Ia tidak tahu kapan akan berangkat. Ia juga tidak tahu berapa lama lagi harus menunggu.
Namun ia tahu satu hal yang lebih penting.
Ia sudah berjalan.
“Yang penting saya tidak berhenti,” katanya.
Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.
Bahwa sistem sebesar apa pun, tetap dimulai dari langkah kecil.
Bahwa angka triliunan rupiah, pada akhirnya, berasal dari setoran sederhana yang nyaris tak terlihat.
Dan bahwa manfaat yang dirasakan hari ini, adalah hasil dari kesabaran banyak orang yang memilih untuk terus percaya meski perlahan, meski sedikit, meski tanpa kepastian waktu.
Laci kayu itu kembali ditutup.
Buku kecil itu kembali disimpan.
Diam, sederhana, dan nyaris terlupakan.
Namun di baliknya, ada peran yang tidak kecil.
Karena dari situlah semuanya bermula.
Dan dari situlah, perjalanan besar itu terus berjalan.














