BERITA TERKINI

Soal Kepemilikan Perseta, Edi Tutuko: Ini Menyangkut Sejarah Sepakbola Tulungagung

×

Soal Kepemilikan Perseta, Edi Tutuko: Ini Menyangkut Sejarah Sepakbola Tulungagung

Sebarkan artikel ini
Mantan Ketua Perseta 2009-2014 Edi Tutuko usai diwawancara di salah satu lobi hotel di Kabupaten Tulungagung, Sabtu (2/9) Foto: Ferry Kaligis/mattanews.co

MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG – Mantan Ketua Persatuan Sepak Bola Tulungagung (Perseta) periode 2009-2014 Edi Tutuko menganggap soal kepemilikan klub sepakbola Perseta kebanggaan Tulungagung bisa diselesaikan dengan mengesampingkan kepentingan pribadi.

“Jadi begini, kepemilikan Perseta masih berpolemik, seharusnya kepentingan pribadi dibuang jauh, utamakan kepentingan masyarakat Tulungagung,” kata Edi Tutuko kepada mattnews.co saat berbincang di loby salah satu hotel di Kabupaten Tulungagung, Sabtu (2/10/2021).

“Dulu saya saat menjadi Ketua Perseta bukan atas nama pribadi, namun mewakili klub yang waktu itu anggota dari Pengurus cabang (Pengcab) PSSI Tulungagung,” imbuhnya.

Ia mengungkapkan, setelah membaca berita di salah satu media online terkait kepemilikan klub kebanggaan masyarakat Tulungagung dikuasi oleh perseorangan dan sudah berbadan hukum menjadi sedih.

Kalau ada oknum mengatakan Perseta milik pribadi itu sama dengan merampok masyarakat Tulungagung dan membutakan sejarah dan mengubur sepak bola di kota Marmer.

“Jujur saja, secara pribadi saya sedih, tahu-tahu dapat kabar Perseta milik pribadi sudah berbadan hukum lagi,” ungkapnya nada sedih itu.

“Masyarakat Tulungagung harus bangkit agar bisa dikembalikan milik bersama dan dikelola oleh Askab PSSI Tulungagung,” sambungnya.

Lebih lanjut Edi menceritakan pada masa keemasan Perseta sehingga menjadi buah bibir di blantika sepakbola Nasional.

“Kita mengetahui bersama, atlet sepak bola Tulungagung menjadi pemain Nasional pada waktu itu, diantaranya ada Dede Hugo, Yongki Aribowo dan lain-lain,” cerita Edi.

“Atlet-atlet pemain bola yang berprestasi dan mengharumkan Tulungagung tidak luput mendapat apresiasi dari Pemerintah kabupaten. Selain dapat bonus juga fasilitas bisa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS),” imbuh Pria Mantan Wasit sepak bola itu.

Lebih dalam, kontraktor ini pun memaparkan salah satu indikator Perseta menjadi terpuruk adalah faktor manajemen.

“Jadi begini, seharusnya manajemen dalam mengarungi kompetisi harus pasang target,” paparnya.

“Perlu diketahui sewaktu masa keemasan Perseta target dalam kompetisi sangat jelas, selain itu pemainnya diambil dari produk binaan kompetisi di klub internal Perseta itu sendiri,” sambungnya.

Menurut Dia, flash back (Kilas balik.red) awal terjadinya polemik Perseta sehingga klub kebanggaan masyarakat Tulungagung menjadi terpuruk.

“Saya (Sekretaris Pengcab Tulungagung semasa itu.red) mohon maaf mungkin ceritanya sudah jelas dan secara pribadi saya dirugikan, dan merasa bersalah karena menandatangani LPJ waktu itu, namun perlu saya tegaskan yang mengetahui keuangan adalah Ketua Pengcab PSSI Tulungagung Supriyono dan Bendahara Aang Pungky dan Sekretaris Pengcab Tulungagung,” terangnya.

“Mungkin disitu awal Perseta menjadi terpuruk, sebab waktu itu anggaran kesebelasan masyarakat Tulungagung bersumber dari APBD,” ujar Edi.

Dengan sejarah seperti itu, kata Edi selaku masyarakat pecinta bola di Tulungagung menyampaikan kalau memang benar Perseta sekarang dikuasai perseorangan maka bagaimana caranya harus diambil dikembalikan kepada masyarakat Tulungagung kemudian dikelola oleh Askab PSSI.

“Saya akan sampaikan kepada Bupati Tulungagung, Ketua DPRD, Ketua Askab PSSI bagaimana Perseta bisa diambil, kalau sudah berbadan hukum bagaimana diperbaiki karena ini menyangkut sejarah sepak bola Tulungagung,” tuturnya.

“Mohon maaf, saya bukan akan mengambil alih, tapi secara prinsip kita merasa berjuang mati -matian secara pribadi maupun bersama saya merasa kecewa kalau Perseta milik pribadi,” imbuhnya.

“Tolong jangan membutakan dan melupakan sejarah. Oleh sebab itu dalam waktu dekat kita juga akan bersurat sebagai peduli sepakbola Tulungagung sekaligus nanti kita menggalang teman-teman suporter bahwa Perseta itu milik masyarakat Tulungagung,” tukasnya.