Terkendala Alat Komunikasi, Belasan Pelajar di Bogor Terancam Putus Sekolah

  • Whatsapp
Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) via online harus dilakukan para pelajar di Kabupaten Bogor Jawa Barat (Jabar) agar tidak ketinggalan materi sekolah (Bambang MG / Mattanews.co)
Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) via online harus dilakukan para pelajar di Kabupaten Bogor Jawa Barat (Jabar) agar tidak ketinggalan materi sekolah (Bambang MG / Mattanews.co)

Reporter : Bambang MG

MATTANEWS.CO, BOGOR – Pemerintah menginstruksikan kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan dari rumah, demi mencegah penyebaran virus corona (Covid-19).

Bacaan Lainnya

Namun persoalannya, tak semua murid memiliki gadget atau fasilitas yang memadai, sehingga KBM di rumah pun terkendala. Selain signal dan kuota internet, alat telekomunikasi pun menjadi salah satu beban bagi para orang tua siswa.

Sementara, bantuan dari pemerintah soal kebijakan ponsel gratis yang digadang-gadang demi mendukung lancarnya sarana dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi para murid sekolah hanyalah angin surga. Akibatnya, tak sedikit siswa berpotensi putus sekolah.

Seperti yang dialami belasan pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) PGRI Sukamakmur Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar).

Salah satu staf Guru SMP PGRI Sukamakmur Agus Hermawan menyebut, ada sekitar 15 orang siswanya yang kesulitan mengikuti PJJ, karena ketiadaan ponsel pintar untuk mengikuti PJJ.

Menurutnya, kesadaran warga Sukamakmur akan pentingnya pendidikan tidak sejalan dengan penghasilan orangtua. Sehingga hal itu menjadi salah satu faktor siswa memutuskan untuk berhenti sekolah.

Pasalnya, mayoritas penduduk Sukamakmur Kabupaten Bogor hanya berprofesi sebagai buruh tani dengan penghasilan rendah.

Meski demikian, pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya. Terutama dalam mengatur sistem pembelajaran, melalui fasilitas sekolah agar murid tidak ketinggalan materi.

“Kami telah berupaya dengan cara murid datang ke sekolah. Namun lagi-lagi, jarak sekolah dengan rumah menjadi kendala. Selama ini mereka meminjam handphone tetangganya,” terang Agus.

Kondisi perekonomian orangtuanya yang serba pas-pasan, membuat mereka tak mampu menyediakan ponsel pintar guna menunjang PJJ belasan pelajar tersebut.

Deni Nardi (42), salah satu wali murid SMP PGRI Sukamakmur Kabupaten Bogor mengakui, selama PJJ berlangsung dirinya merasa terbebani dengan sistem pembelajaran yang mengharuskan anaknya memiliki alat komunikasi.

“Jangankan beli ponsel, untuk kebutuhan sehari-hari saja susah. Lebih baik anak putus sekolah dan belajar di pondok pesantren saja,” ucapnya.

Editor : Nefri

 

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait