BERITA TERKINI

Tingkat Kecerdasan Anak di Usia Dini

×

Tingkat Kecerdasan Anak di Usia Dini

Sebarkan artikel ini

Penulis : Ricky Faerdinal

LABUHANBATU, Mattanews.co – Pertumbuhan dan perkembangan anak harus diperhatikan sedari kecil. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua hal yang berbeda, namun saling berkaitan dan sulit dipisahkan. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif, yaitu peningkatan ukuran dan struktur.

Sedangkan perkembangan berkaitan dengan perubahan kualitatif dan kuantitatif. Dapat didefinisikan sebagai deretan progresif dari perubahan yang teratur dan koheren. Progresif menandai bahwa perubahan terarah. Teratur dan koheren menunjukkan adanya hubungan nyata antara perubahan yang terjadi dan yang telah mendahuluinya (Hurlock, 2013).

Pada tulisan Elizabeth Hurlock mengemukakan jenis-jenis perubahan selama proses perkembangan adalah sebagai berikut: Perubahan ukuran, contohnya adalah perubahan dalam hal penambahan tinggi badan dan berat badan. Seorang anak dikatakan memiliki perkembangan yang normal, apabila adanya kesesuaian antara usianya dengan berat badan dan tinggi badan rata-rata anak yang seusia dengannya.

Standar perkembangan ini bisa diperoleh dari Kartu Menuju Sehat (KMS) yang diberikan di posyandu, puskesmas dan di poli tumbuh kembang anak lainnya. Perubahan dalam ukuran juga berarti adanya perubahan dalam kegiatan mental seseorang, seperti kemampuan dalam mengingat sesuatu, menyelesaikan masalah beradaptasi dan lain sebagainya.

Selain itu, perubahan proporsi. Adanya perubahan dalam proporsi merupakan salah satu ciri terjadinya perubahan dalam perkembangan. Proporsi tersebut dapat berarti perubahan dalam proporsi kemampuan berpikir dan perubahan dalam proporsi kemampuan lainnya. Contohnya anak usia 0-2 tahun berada pada tahap kognitif sensorimotor. Kemudian pada usia 2-4 tahun, ia akan mengalami perubahan dalam proporsi kognitifnya, dari sensorimotor menjadi praoperasional.

Kemudian, hilangnya ciri lama. Maksud dari hilangnya cirri lama yaitu, perubahan dalam perkembangan juga berarti hilangnya ciri-ciri perkembangan suatu fase berganti dengan fase selanjutnya. Contohnya hilangnya ciri-ciri anak usia 0-1 yang berada pada fase oral, seperti suka menghisap jari pada anak usia 2 tahun.

Usia 2 tahun, pada umumnya anak tidak lagi suka menghisap jarinya. Yang terakhir, mendapatkan ciri baru yang muncul pada diri anak menandai adanya proses perkembangan dalam dirinya, contohnya, semula anak hanya bisa mengucapkan 2-3 kata, sejalan dengan usianya, ia dapat menyebutkan kalimat lengkap yang lebih dari 3 kata.

Perkembangan memiliki karakteristik yang dapat diramalkan. Hal ini berlaku tidak hanya untuk perkembangan mental tetapi juga untuk perkembangan fisik. Berikut ini terdapat lima karakteristik perkembangan yaitu, Adanya kesamaan dalam pola perkembangan. Setiap anak memiliki pola perkembangan yang sama dari satu tahap menuju tahap berikutnya. Contohnya, sebelum seorang anak dapat berjalan, ia akan melalui tahap belajar berdiri.

Point terpenting yakni, perkembangan bergerak dari tanggapan yang umum menuju tanggapan khusus, contohnya disini adalah seorang bayi pada awalnya hanya bisa menangis sebagai reaksi ketidaksukaannya/ketidaknyamanannya terhadap sesuatu. Reaksi menangis tersebut bersifat umum.

Seiring dengan bertambahnya usia, bayi akan menunjukkan berbagai macam reaksi terhadap kondisi yang tidak disukainya, seperti membalikkan badan, berteriak keras-keras dan lain sebagainya (sifat-sifat khusus). Perkembangan berlangsung secara berkesinambungan.

Pada anak, perkembangan adalah suatu tahapan yang tidak terputus-putus, selalu ada kelanjutan dalam setiap tahapan. Setiap anak yang lahir normal akan mengalami tahapan perkembangan kemampuan kognitif yang berkelanjutan, seperti yang dikemukakan oleh Piaget. Misalnya, yaitu tahapan sensorimotor, dilanjutkan menjadi praoperasional kemudian menjadi kongkret operasional dan menjadi formal operasional.

Berbagai bidang berkembang dengan kecepatan berbeda. Contohnya setiap anak akan berbeda-beda perkembangannya dalam hal perkembangan bicaranya. Ada anak yang bisa berbicara lancar di usia 12 bulan dan ada anak yang lancar bicara di usia 18 bulan. Perbedaan tersebut adalah hal yang wajar selama berada pada rentang normal perkembangan bicara anak.

Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah stimulasi, gizi dan tingkat kecerdasan anak. Anak yang memperoleh gizi yang baik, cerdas dan selalu distimulasi (dibacakan buku cerita, diajak bernyanyi, diajak bercakap-cakap) akan cenderung lebih cepat bicara lancar daripada anak yang kurang distimulasi, gizinya kurang baik atau tingkat kecerdasannya di bawah rata-rata.

Ada korelasi dalam perkembangan perkembangan kemampuan berpikir seorang anak ditandai dengan bertambahnya perbendaharaan kata yang dimilikinya. Dalam perkembangan, dikenal istilah masa peka. Masa peka ialah masanya suatu fungsi mudah/peka untuk dikembangkan. Masa peka merupakan masa yang terjadi dalam perkembangan pada saat-saat tertentu. Masa peka ini diperkenalkan dalam dunia pendidikan. Ketika seorang anak berada pada masa pekanya, maka ia akan lebih mudah mempelajari sesuatu dibandingkan jika ia diminta mempelajari sesuatu padahal masa pekanya terhadap hal tersebut sudah terlewati.

Terkait dengan masa peka merupakan masa yang terjadi dalam dunia pendidikan, peran PAUD (Pendidikan Usia DIni) harus lebih lagi menjadi perhatian seluruh lapisan masyarakat. Program pemerintah PAUD tersebut harus benar-benar menjadi tolok ukur perkembangan anak dalam memperoleh pembelajaran sesuai dengan daya tangkap pemikiran di usianya terebut.

Dari program Pemerintah dikupas, Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosiologi, emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Pendidikan anak usia dini tidak sekedar berfungsi untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak, juga untuk mengoptimalkan perkembangan otak. Pendidikan anak usia dini dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja seperti halnya interaksi manusia yang terjadi di dalam keluarga, teman sebaya, dan dari hubungan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak usia dini.

Lebih kepada pendidikan yang penuh pemahaman, pengembangan dan kesempatan seluas-luasnya diberikan pada anak untuk menunjukan potensi dirinya sendiri dengan memberikan pengarahan yang jelas pada anak. Dengan demikian anak akan terdidik lebih cerdas dan menjadi seorang anak yang berpikir positif dan berpikiran terbuka.

Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini. Pertama, membentuk anak yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa. Kemudian hal kedua, membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

Editor : Anang