BERITA TERKINIHEADLINEPEMERINTAHAN

Usai Banjir di Kabupaten OKI, Risiko Penyakit dan Soal Mitigasi Mengemuka

×

Usai Banjir di Kabupaten OKI, Risiko Penyakit dan Soal Mitigasi Mengemuka

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, OKI – Surutnya banjir di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menandai berakhirnya fase darurat, tapi bukan akhir persoalan. Pemerintah daerah kini dihadapkan pada dua pekerjaan rumah sekaligus yakni mencegah krisis kesehatan pascabanjir dan menjawab kegagalan mitigasi yang membuat banjir terus berulang.

Air banjir yang selama sepekan terakhir menggenangi sejumlah desa di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, mulai berangsur surut. Namun, surutnya genangan tidak serta-merta menandai berakhirnya krisis. Pemerintah daerah justru menghadapi tantangan baru: ancaman gangguan kesehatan warga pascabanjir.

Pantauan di Kecamatan Lempuing menunjukkan debit air menurun signifikan sejak akhir pekan lalu. Di Desa Tebing Suluh, genangan yang sebelumnya setinggi dada orang dewasa kini menyisakan lumpur dan air tergenang di beberapa titik rendah. Warga mulai kembali ke rumah untuk membersihkan sisa banjir.

“Sekarang sudah jauh surut dibanding kemarin-kemarin,” kata Trisno, warga Tebing Suluh, Senin.

Kondisi serupa terjadi di Desa Sumber Makmur. Sebanyak 30 kepala keluarga yang sempat mengungsi di SD Negeri 1 Sumber Makmur telah kembali ke rumah masing-masing. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKI menyebut fase evakuasi darurat telah berakhir di sejumlah lokasi.

“Mereka sudah kembali dan mulai membersihkan lingkungan,” ujar Kepala BPBD OKI, Listiadi Martin.

Meski demikian, Pemerintah Kabupaten OKI menilai fase pascabanjir justru menyimpan risiko yang tak kalah serius. Bupati OKI H. Muchendi menegaskan, lingkungan lembap, air tercemar, serta sanitasi yang belum pulih berpotensi memicu penyakit, terutama pada kelompok rentan.

“Setelah banjir surut, risiko kesehatan meningkat. Ini fase yang tidak boleh diabaikan,” kata Muchendi saat meninjau Desa Cahya Tani, Lempuing.

Keluhan kesehatan mulai muncul. Kepala Desa Cahya Tani, Yasin, mengatakan sebagian warga mengalami gangguan ringan seperti gatal-gatal dan iritasi kulit akibat paparan air kotor. “Sudah ada warga yang mengeluh, tapi masih bisa ditangani tenaga kesehatan,” ujarnya.

Merespons kondisi itu, pemerintah daerah menginstruksikan tenaga medis tetap siaga di wilayah terdampak. Layanan kesehatan diminta aktif mendatangi warga, melakukan pemeriksaan dasar, serta memastikan ketersediaan obat-obatan.

“Jangan menunggu parah. Jika ada keluhan, segera periksa,” kata Muchendi.

Selain persoalan kesehatan, banjir juga meninggalkan kerusakan infrastruktur dan ancaman ekonomi. Sejumlah jembatan gantung menuju area persawahan dilaporkan terdampak, alat elektronik sekolah rusak, serta sekitar 595 hektare sawah terendam banjir.

Untuk lahan pertanian yang terancam gagal panen, pemerintah daerah berjanji menyiapkan penggantian benih padi agar petani bisa kembali menanam. Perbaikan infrastruktur, kata Muchendi, akan dilakukan secara bertahap sesuai tingkat kerusakan.

Pemerintah daerah juga mengingatkan warga agar tetap waspada terhadap potensi hujan susulan, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan air konsumsi aman. Lumpur dan sampah sisa banjir diminta segera dibersihkan untuk mencegah sumber penyakit.

“Banjir mungkin surut, tapi dampaknya belum selesai,” pungkasnya.