Ustad Hanif Berjanji Akan Cegah Penyebaran Paham Radikal Yang Bisa Merusak Persatuan Bangsa

  • Whatsapp

MATTANEWS.CO, BANGKA TENGAH – Aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama kembali marak beberapa waktu belakangan ini. Seperti aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral di Kota Makassar. Hal ini tentu saja menarik perhatian dari sejumlah kalangan. Seluruh komponen masyarakat dengan tegas menyatakan menolak aksi tersebut, karena bertentangan dengan ajaran agama yang ada di Indonesia.

Seperti disampaikan Hasif  Safi’i kepada awak media, setelah melihat beberapa waktu belakangan ini, dengan tegas dirinya menyatakan menolak aksi, paham, organisasi serta ajaran yang mengajak untuk melakukan aksi kekerasan.

Menurut Ustad yang juga pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Roudhatul Hidayah, yang berlokasi di Gang Selma, Rt 01, Rw 01, Desa Jeruk, Kecamatan Pangkalan Baru, Bangka Tengah ini, bahwa tidak ada satupun agama yang membenarkan aksi kekerasan, apa lagi bom bunuh diri.

“Aksi Kekerasan seperti ini tidak dibenarkan dalam suatu agama manapun, sehingga Para Tokoh Agama dan Para Alim Ulama harus mengambil peran sebagai panutan sosial dan menghimbau masyarakat untuk tidak terpapar terhadap Gerakan Radikal dan Terorisme khususnya di Wilayah Bangka Belitung,” ujar Ustadz Hasif (15/04/2021).

Ustadz Hasif juga mengatakan, bahwa pihaknya akan terus berpegang teguh pada posisi bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu Pancasila sebagai Ideologi dan Pandangan Hidup Bangsa Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dan Semangat Bhinneka Tunggal Ika.

“Saya selaku Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Roudhatul Hidayah bertekad mempersiapkan dan membentuk generasi muda yang memiliki jiwa nasionalisme yang kuat, demokratis, jujur, berkeadilan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai, etika Santri, hak asasi manusia, kemajemukan, kerukunan, persatuan dan kesatuan bangsa yang Berwawasan Nusantara,” terang Ustad Hasif.

Selain itu, Ustad Hasif dengan tegas menyatakan, bahwa dirinya menolak keberadaan organisasi dan aktivitas yang berorientasi atau berafiliasi dengan gerakan radikalisme, terorisme,  atau organisasi kemasyarakatan serta organisasi politik, yang bertentangan dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan peraturan perundang-undangan.

“Saya selaku Pengasuh Pondok Pesantren dibawah naungan NU mengajak seluruh komponen bangsa untuk melakukan upaya pencegahan penyebaran paham dan / atau gerakan radikalisme, terorisme dan / atau ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 Khususnya di Wilayah Bangka Belitung,” tandasnya.

Sebagai tambahan pengetahuan, Deradikalisasi berasal dari kata “radikal” dengan imbuhan “de” yang berarti mengurangi atau mereduksi, dan kata “asasi”, di belakang kata radikal berarti proses, cara atau perbuatan. Jadilah deradikalisasi adalah suatu upaya mereduksi kegiatan-kegiatan radikal dan menetralisasi paham radikal bagi mereka yang terlibat teroris dan simpatisannya serta anggota masyarakat yang telah terekspose paham-paham radikal dan terorisme.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait