MATTANEWS.CO, JAMBI – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi bersama 15 organisasi mendirikan Posko Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sebagai respons terhadap kondisi kebakaran dan kabut asap yang terjadi di sejumlah wilayah Jambi.
Posko tersebut didirikan pada Minggu (30/8/2026) untuk menghimpun informasi mengenai kejadian karhutla, menerima laporan masyarakat, memantau kondisi lapangan, serta mendokumentasikan dampak kebakaran dan kabut asap yang dirasakan warga.
WALHI Jambi menyebut pendirian posko merupakan bentuk keterlibatan masyarakat sipil dalam merespons kondisi karhutla sekaligus mendorong pemerintah dan pihak terkait agar memberikan penanganan secara cepat terhadap wilayah yang terdampak.
Selain pemantauan, posko juga menjadi ruang pengaduan bagi masyarakat terkait kejadian karhutla maupun dampak kabut asap yang mereka alami.
WALHI Jambi juga mendesak pemerintah memastikan masyarakat terdampak memperoleh perlindungan, akses layanan kesehatan, informasi kualitas udara yang transparan, serta jaminan keselamatan, khususnya bagi kelompok rentan.
Organisasi tersebut turut mendorong penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan. Menurut WALHI Jambi, langkah tersebut diperlukan agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Berdasarkan hasil pantauan yang disampaikan WALHI Jambi, terdapat 99 titik panas atau hotspot pada Minggu (30/8/2026). Selain itu, WALHI Jambi mencatat sedikitnya 2.333 hektare lahan telah terbakar sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
WALHI Jambi menilai angka tersebut menunjukkan masih besarnya ancaman karhutla terhadap lingkungan dan masyarakat di Jambi.
Sebelumnya, WALHI Jambi mengaku telah menyampaikan imbauan pada April 2026 terkait potensi peningkatan risiko karhutla. Organisasi tersebut juga melakukan pemantauan dan deteksi dini untuk memetakan wilayah rawan karhutla serta lokasi yang mengalami kebakaran berulang.
Upaya tersebut dilanjutkan dengan penguatan kepada warga dampingan agar masyarakat desa dapat terlibat dalam pemantauan dan pelaporan kejadian kebakaran sebagai bagian dari deteksi dini.
Direktur Eksekutif WALHI Jambi, Oscar Anugrah, mengatakan kondisi karhutla yang terjadi membutuhkan penanganan serius dan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
“Karhutla semakin meluas, kabut asap semakin tebal sementara rakyat dipaksa hidup dalam ancaman bencana ekologis. Posko darurat karhutla adalah bentuk teguran keras bahwa situasi karhutla sudah membutuhkan penanganan yang serius, cepat, transparan dan terukur,” ujar Oscar.
Menurut Oscar, persoalan kabut asap tidak semestinya dipandang sebagai kondisi yang harus diterima masyarakat setiap musim kemarau. Ia menilai persoalan tersebut berkaitan dengan lingkungan dan keselamatan masyarakat yang membutuhkan penanganan secara menyeluruh.
“Rakyat berhak menghirup udara bersih, bukan menghirup asap dari kegagalan pengelolaan lingkungan,” tegasnya.
Melalui Posko Darurat Karhutla, WALHI Jambi bersama organisasi yang terlibat berharap informasi dari masyarakat dapat dihimpun secara lebih cepat dan menjadi bahan bagi pemerintah serta pihak terkait dalam melakukan penanganan kebakaran, perlindungan warga, dan pencegahan karhutla secara berkelanjutan.














