MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Tradisi Ziarah Ulama dan Waliyullah adalah tradisi yang selalu hidup dalam perkembangan Islam di Nusantara. Perkembangan tradisi ziarah di Indonesia, bukan hanya berpusat di Pulau Jawa, namun juga di Sumatera khususnya di Palembang. Menjelang masuknya Bulan Ramadhan di Palembang, dilaksanakan tradisi Ziarah yang melibatkan ribuan peziarah dari dalam dan luar negeri, yang dikenal dengan tradisi Ziarah Kubra.
Cikal bakal tradisi Ziarah Kubra yang sudah dilaksanakan selama puluhan Tahun oleh sekelompok Umat Islam di Kota Palembang, dikenal dengan tradisi Ziarah Penutup. Tradisi ziarah penutup dilaksanakan pada akhir bulan syakban dan hanya melibatkan Komunitas Alawiyyin dan kerabat Kesultanan Palembang. Komunitas Alawiyyin adalah kelompok masyarakat yang mengidentifikasikan mereka sebagai keturunan Imam Alwi bin Ubaidillah yang merupakan keturunan Nabi Muhammad dari Jalur Sayyidina Husein, yang tinggal di Hadramaut, Yaman Selatan. Negeri asa sebagian besar para pendakwah Islam di Nusantara. Kehadiran Komunitas Alawiyyin a di Kota Palembang, teridentifikasi dari mulai abad ke -17 M.
Pada tahun 2003, sekelompok pemuda dari komunitas Alawiyyin di Palembang, menginisiasi dan mentranformasikan tradisi ziarah penutup menjadi tradisi Ziarah Kubra. Tujuannya untuk membesarkan manfaat dan syiar dakwah Islam melalui tradisi Ziarah Kubra. Istilah Ziarah Kubra dimunculkan, karena banyaknya peziarah yang hadir dan berharap keberkahan nya lebih besar. Tujuan utama dari tradisi ziarah adalah Instropeksi diri terhadap kehidupan sesudah mati dan mengharapkan keberkahan para Ulama dan waliyullah yang menjadi objek ziarah.
Rangkaian prosesi tradisi Ziarah Kubra tahun ini dilaksanakan pada tanggal 1, 2 dan 3 Maret 2024. Akan dihadiri ulama dan habaib dari penjuru nusantara dan manca negara. Ribuan peziarah akan terlibat aktif dalam tradisi Ziarah Kubra ini.
Ziarah Kubra hari pertama, dimulai pada hari Jum’at, tanggal 1 Maret 2024. Ziarah ke Makam Habib Aqil bin Muhammad bin Yahya dan dilanjutkan Ziarah ke Gubah Duku , Permakaman Habib Ahmad bin Syeh Shahab. Habib Ahmad bin Syeh bin Shahab adalah seorang ulama yang dermawan.
Semasa hidupnya, beliau dan Habib Umar bin Muhammad As-Seggaf termasuk orang pertama yang melakukan perluasan pembangunan Masjid Agung Palembang setelah Sultan Mahmud Badaruddin. Selain itu, beliau juga turut andil membangun Masjid Jami’ di Kecamatan Muntok, Pulau Bangka, serta membangun Mushalla Darul Muttaqien (sekarang telah menjadi masjid) yang berlokasi di Jl. Dr. M. Isa (Dekat Pasar Kuto) Palembang.
Pada Sore harinya dilaksanan Haul Habib Ahmad bin Abdullah Alhabsyi di Pondok Pesantren Ar Riyadh, 13 Ulu Palembang. Beliau mendirikan Pesantren Putri Az-Zahra (1984) 13 Ulu, Pesantren Ar-Riyadh Hadaiqurroyyan (1989), yang bergerak di bidang pertanian dan peternakan,
Ziarah Kubra hari kedua, Hari Sabtu Tanggal 2 Maret 2024. Diawali dengan kegiatan Qosidah Burdah di Rumah Habib Ahmad binHasan Alhabsyi, di Kampung Karang Panjang 12 Ulu Palembang. Selanjutnya menuju ke permakaman Telaga Swidak, dimana terdapat beberapa Gubah seperti gubah-gubah lainnya yaitu Gubah Kenduruan, Gubah Gundul, Gubah Bilfaqih, Gubah Basyaib, Gubah Habib Ahmad bin Ali BSA dan lain-lain. Al-Habib Al-Quthb Ahmad bin Hasan Al-Habsyi, yang merupakan guru besar para wali di Palembang. Selanjutnya pada siang hari melanjutkan Ziarah ke Gubah Baabussalam, 16 Ulu . Dimana dimakamkan Habib Hamid Al-Haddad yang merupakan cicit dari Shahibur Ratibul Haddad.
Di Permakaman Babus Salam dimakamkan juga Shahibul Maqam Al-Habib Alwi bin Syeikh As-Seggaf seorang waliyullah yang dermawan dan penuh keberkahan. Kemudian ditutup dengan Haul Habib Abdurrahman bin Alwi As-Seggaf. Pada Sore hari dllaksanakan Haul Waliyullah besar yang menjadi penghulu sebagian nasab Sadah Ba’alawi, yaitu Al-Faqihil Muqaddam Tsani Al-Imam Abdurrahman As-Seggaf bin Muhammad Maula Ad-Dawilaih.
Ziarah Kubra hari ketiga, Hari Ahad Tanggal 3 Maret 2024. Haul Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdullah bin Idrus Shahab dan Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdurrahman bin Hamid dilaksanakan pada Hari Minggu Pagi di Perkampungan Alawiyyin Sungai Bayas 8 Ilir Kuto Batu Palembang.
Kemudian dilanjutkan permakaman Gubah Pangeran Syarif Ali Syeikh Abubakar yang berlokasi di Kelurahan 5 Ilir Boom Baru. Beliau seorang Ulama, hartawan dan juga menantu Sultan Husin Dhiauddin. Dari Pemakaman Pangeran Syarif Ali, ziarah dilanjutkan ke Permakaman Kesultanan Kawah Tengkurep. Permakaman ini terletak di Kelurahan 3 Ilir Boom Baru Palembang.
Pemakaman ini dibangun pada tahun 1728 M oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758 M). Semua Ulama penasehat agama kesultanan Palembang yang biasanya dimakamkan bersebelahan dengan para sultan, berasal dari Komunitas Alawiyyin.
Rute ziarah pun berakhir di Permakaman Gubah Kambang Koci yang terletak bersebelahan dengan Permakaman Kawah Tengkurep. Pada tahun 1151 H / 1735 M, Sultan Mahmud Badaruddin I mewakafkan sebidang tanah yang cukup luas untuk pemakaman anak cucu serta menantunya. Saat ini, hampir keseluruhan keturunan komunitas Alawiyyin yang tinggal di Palembang dan di memiliki silsilah bersambung dengan para habaib yang dimakamkan di pemakaman ini, paling tidak silsilah dari sebelah ibu. Beberapa penghulu habaib alawiyyin yang dimakamkan disini.
Termasuk dalam Rangkaian Ziarah Kubra ‘Ulama dan Auliya’ Palembang Darussalam, adalah wisata bahari menyusuri Sungai Musi dan berziarah ke makam Kyai Merogan, seorang waliyullah yang berjasa besar dalam dakwah Islam di Kota Palembang. Wisata Bahari dilaksanakan pada Hari Ahad Sore setelah Acara Puncak Ziarah Kubra dan dimulai dari Benteng Kuto Besak. berziarah ke makam Kyai Merogan.(*)














