[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Klik Disini Untuk Mendengarkan Berita”]
MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Rancangan Kepengurusan Keluarga Silat Nasional (Kelatnas) Perisai Diri (PD) Sumatera Selatan (Sumsel) sudah selesai. Jajaran Pengurus PD Provinsi Sumsel, saat ini sedang menjadwalkan rencana pelantikan.
Hal itu dikatakan Ketua Terpilih Pengurus PD Provinsi Sumsel Zulfikar Ali Fajri, di sela-sela latihan rutin di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Palembang Sumsel.
Zulfikar yang kesehariannya juga Penghulu di KUA Alang-Alang Lebar Palembang ini menjelaskan, Pengurus PD Pusat sudah mengirimkan Surat Keputusan (SK) Pengurus PD Sumsel, pada tanggal 16 Februari 2021 lalu.
Setelah SK diterima, mewakili pengurus PD di Sumsel, Zulfikar berharap agar Ketua Umum Pusat PD Dwi Soetjpto yang juga Kepala SKK Migas, agar dapat melantik Pengurus PD di Sumsel.
“Kami sudah mengajukan surat permohonan pelantikan ke pengurus Pusat. Harapan kami, Pak Ketum dapat hadir dan melantik kami di Sumsel,” ujar Zulfikar, Senin (15/3/2021).
Alumnus Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Fatah Palembang yang akrab dipanggil ustad Zulfikar ini berkeinginan, agar PD di Sumsel yang kini sedang kembali digiatkan. Serta akan bangkit lagi dan berjaya di Sumsel.
Sebagai bentuk motivasi bagi Kelatnas PD di Sumsel, lanjutnya, sudah beberapa bulan terakhir PD di Palembang menggiatkan latihan rutin di BDK Palembang, setiap Ahad bada salat Asar.
“Melalui latihan ini, kita ingin membangkitkan lagi kejayaan Perisai Diri di Sumsel, yang memang sebelumnya pernah kita raih. Semangat ini menjadi potensi yang sedang kita kembangkan lagi, agar kejayaan Perisai Diri di Sumsel bangkit kembali. Salah satunya melalui latihan rutin di BDK setiap Ahad ba’da Ashar,” ujarnya.
Sejak Usia 9 Tahun Belajar Silat

Zukfikar menjelaskan, PD merupakan salah satu perguruan silat di Indonesia yang didirikan Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo, atau lebih akrab dipanggil Pak Dirdjo (1913 – 1983).
Pak Dirdjo dalam catatan sejarah, merupakan Putra dari R.M. Pakoe Soedirdjo atau buyut dari Sri Paduka Pakoe Alaman II.
Sejak umur 9 tahun, Pak Dirdjo sudah mulai belajar silat. Terutama ketika dirinya masih berada di lingkungan keraton Pakoe Alaman Yogyakarta. Pada usia 16 tahun, Pak Dirdjo sudah mulai merantau untuk berguru ilmu silat keliling nusantara.
“Setelah merasa cukup, Pak Dirdjo kemudian mengembangkan ilmu silatnya yang telah ia dapatkan dari berbagai perguruan silat di nusantara,” ucapnya.
Tepatnya di Parakan, Jawa Tengah, tahun 1936, Pak Dirdjo mendirikan perguruan silat Eka Kalbu (Satu Hati). Di tengah kesibukannya di perguruan silat Eka Kalbu ini, Pak Dirdjo bertemu dengan Yap Kie San, salah satu suhu dari aliran Kungfu Siaw Liem Sie.
Pak Dirdjo tak mau menyia-nyiakan pertemuan itu, lalu bertarung dengan salah satu murid Suhu Yap Kie San.
“Namun Pak Dirdjo kali itu harus mengakui keunggulan murid Yap Kie San. Sudah menjadi prinsip Pak Dirdjo, setiap kali kalah di salah satu perguruan silat, Pak Dirdjo kemudian harus berguru di perguruan silat, tempat dirinya dikalahkan,” katanya.
Dengan segala upaya dilakukan, akhirnya Pak Dirdjo diterima sebagai salah satu murid Yap Kie San. Dari murid yang dilatih Yap Kie San, hanya 6 pesilat yang dinyatakan lulus, terdiri dari 4 orang keturunan Tionghoa, dan 2 dari Indonesia.
Yaitu Pak Dirdjo dan R. Brotosoetardjo, yang kemudian dikenal sebagai pendiri perguruan silat BIMA. Sekitar 14 tahun Pak Dirdjo berguru dengan Yap Kie San.
Berbekal ilmu silat yang sudah didapatkan, Pak Dirjo kemudian mengolah dan meramu berbagai ilmu silat itu dalam bentuk teknik silat yang sangat sesuai dengan anatomi tubuh manusia.
Tepatnya pada 02 Juli 1955 di Surabaya, secara resmi Keluarga Silat Nasional (Kelatnas) Indonesia Perisai Diri, yang sehari-hari dikenal dengan sebutan “PD” akhirnya berdiri.
Metode Serang Hindar

Lahirnya motto ‘Pandai Silat Tanpa Cidera; berdasarkan metode latihan praktis di Kelatnas PD. ‘Metode Serang-Hindar’ adalah metode yang tidak ditemukan dalam beladiri manapun di dunia,” ujar Zulfikar, mengutip nukilan sejarah tentang PD.
Zulfikar menjelaskan, dalam latihan Serang-Hindar, setiap anggota dibekali dengan pedoman tehnik untuk menyerang dan menghindar dengan ketentuan yang baku dan ilmiah.
Melalui metode itu, Zulfikar menjelaskan setiap anggota mampu menerapkan gerak menyerang dan menghindar dalam posisi sesaat, ketika berhadapan atau berdekatan dengan lawan tanpa harus merubah posisi tubuh.
Dia mengungkapkan, metode latihan Serang-Hindar juga melatih mental pesilat, dalam menghadapi situasi apapun. Serta sigap dalam mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi.
“Pada akhirnya, metode ini dapat membentuk sikap dan karakter pribadi yang berfikir cepat dan bertindak tepat serta antisipatif,” ucapnya.
Selain itu, Zulfikar menjelaskan metode Serang-Hindar akan mewujudkan semangat saling asah, asih dan asuh. Sebab menurutnya, masing-masing berusaha mempraktikkan gerakan yang benar dan tidak saling mencederai.
Bila kemudian akan mengenai sasaran sebagai akibat terlambat menghindar, maka diarahkan ke bagian tubuh yang tidak berbahaya.
“Ini hanya sekedar mengingatkan, kalau yang bersangkutan lambat atau salah bergerak,” ujarnya.
Kejuaraan Internasional sejak 1990
Zulfikar menambahkan, Perguruan Silat PD bukan hanya berkembang di Indonesia, tetapi juga tumbuh dan meluas di luar negeri, seperti di Australia, Amerika, Jepang, Netherland, Switzerland, Inggris, Timor Leste dan Jerman.
Menurutnya, ini menggambarkan bahwa Kelatnas Indonesia Perisai Diri merupakan perguruan silat modern yang dapat berkembang di berbagai daerah. Oleh sebab itu, kejuaraan di Perisai Diri melintasi dalam dan luar negeri.
“Dalam kejuaraan, kita ada kejuaraan antar pelajar sejak 2012, kejuaraan nasional antar perguruan tinggi sejak tahun 1975, dan di tingkat internasional, kita ada yang namanya Perisai Diri International Championship (PDIC) yang sudah berlangsung sejak tahun 1990. PDIC ini berawal dari kejuaraan nasional antar provinsi pertama tahun 1964, kemudian sejak 1990 menjadi PDIC,” katanya.
****













