MATTANEWS.CO, MALANG – Seorang warga Kabupaten Malang, Dewi Nurmanik, warga Jalan Welirang nomor 52 RT 3 , RW 3 Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, mengalami pre eklamsi atau biasa disebut keracunan kehamilan, mengakibatkan gangguan penglihatan kabur pada kedua mata pasien tersebut.
Hal itu diungkapkan oleh Christian merupakan suami dari pasien Dewi Nurmanik yang menderita kedua mata akibat keracunan.
“Saya Cristian seorang buruh harian dengan empat orang anak. Pada kehamilan ke 4 putri kami, Istri saya mengalami pre eklamsi atau keracunan kehamilan parah, sehingga penglihatannya buram,” tuturnya.
Menurut Cristian, pada diagnose awal keracunan kehamilan akan berangsur membaik seiring stabilnya tensi darah, namun setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter mata, terdapat pembengkakan serta pembuluh darah yang saling bersilang.
Lebih lanjut, suami Dewi ini menceritakan bahwa diawal kehamilan ke 32 Minggu, mata pasien mengalami pembengkakan yang mengakibatkan pandangan kabur, setelah periksa ke bidan, harus dirujuk ke RSUD Kanjuruhan Malang.
“Karena diduga mengalami pre eklamsi, setelah dilakukan observasi dinyatakan pasien mengalami pre eklamsi dengan hipertensi sehingga harus segera dilakukan operasi sesar,” tuturnya.
Operasi berjalan lancar, namun penglihatan semakin buram, sehingga dilakukanlah observasi oleh dokter mata dengan terapi pelebaran retina.
“Dalam operasi tersebut ditemukan ada pembengkakan dan pendarahan akibat pecahnya pembuluh darah. Selanjutnya kami disarankan until melakukan foto fundus until mengetahui seberapa parah kondisi Mata Dewi,” ujar Cristian.
Hasilnya pada mata terdapat pembengkakan yang menyebabkan blind spot, pada mata kiri Dewi juga ada pembuluh darah yang pecah dan saling silang yang menyebabkan pandangan kabur, kilatan cahaya.
Kini kondisi Dewi kesulitan melihat, harus segera melakukan suntik pada Bola Mata di RSSA Malang untuk menghidari kerusakan mata semakin parah.
Tidak sampai disitu, terapi setiap seminggu sekali dengan minum vitamin 3x sehari yang didukung pengobatan herbal dan okay tetes 1x sehari Pengobatan alternative 1 minggu 2 kali.
Melihat kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat orang tua pasien juga mengalami stroke dan kondisi saudaranya hidup pas-pasan bahkan ada yang kurang mampu, ibu pasien sudah meningal dunia.
Perlu diketahui bahwa pasien sekarang tinggal di kontrakan dengan empat orang anak dan suaminya, sedangkan suaminya bekerja buruh harian lepas dan jarang mendapatkan pekerjaan tetap. Pasien mengalami kesulitan beraktifitas karena keterbatasan penglihatan dan sering pusing, sehingga suaminya yang membatu mengurus anak-anak dirumah.
Dengan kondisi tersebut, suami pasien gak bisa kerja, anak yang pertama masih Tk B, yang ke 2 Paud, yang ke 3 umur 2,5 tahun dan yang terakhir baru umur 1,5 bulan.
“Jangankan untuk melakukan aktivitas sehari hari dan mengurus anak, untuk melakukan kegiatan sendiri aja sering pusing kepalanya,” ucap Cristian.
Biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan sekitar Rp.25.000.000,- untuk suntik mata dalam 2 bulan ( 1x sebulan ) per mata Rp 5.000.000 jadi totalnya Rp.20.000.000,- Dan biaya lain lain untuk kontrol, nebus obat, transportasi, foto fundus Rp.5.000.000,-
Penghasilan suami Dewi hanya cukup untuk makan anak istri. Sedangkan anaknya Dewi kecil-kecil semua. Selain itu Dewi juga harus merawat orang tua kandungnya yang terkena penyakit stroke.
Kini keluarga pasien menunggu uluran tangan bagi dermawan, serta perhatian pemerintah untuk membantu pengobatan pasien bisa melalui Rekening BCA 123112596, atas nama Dewi Nuanik atau bisa menghubungi nomor telp Dewi 62 823-3669-1506.















