BERITA TERKININUSANTARAPEMERINTAHAN

Di Balik Biaya Haji: Peran Sunyi Dana Umat Menjaga Ibadah Tetap Terjangkau

×

Di Balik Biaya Haji: Peran Sunyi Dana Umat Menjaga Ibadah Tetap Terjangkau

Sebarkan artikel ini
AiIlustrasi/ROP

MATTANEWS.CO – Setiap kali pemerintah mengumumkan biaya haji, perbincangan itu hampir selalu sama. Mahal, memberatkan, atau masih terjangkau semua bergantung pada sudut pandang masing-masing.

Namun bagi Nurhayati (45), seorang ibu rumah tangga yang telah menabung selama bertahun-tahun, angka bukan sekadar perdebatan.

“Yang penting masih bisa dijangkau. Kalau terlalu tinggi, kami yang di bawah ini pasti kesulitan,” katanya.

Ucapan Nurhayati mencerminkan kegelisahan banyak calon jamaah. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil, kenaikan biaya haji bisa menjadi beban yang tidak ringan.

Namun di balik angka yang diumumkan setiap tahun, ada satu komponen penting yang sering luput dari perhatian: peran dana haji yang dikelola untuk menjaga biaya tetap terkendali.

Di Indonesia, biaya penyelenggaraan ibadah haji tidak sepenuhnya dibebankan kepada jamaah. Sebagian besar ditopang oleh nilai manfaat dari pengelolaan dana haji oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

Data menunjukkan, untuk tahun 2026, rata-rata biaya penyelenggaraan haji berada di kisaran Rp87 juta. Namun jamaah hanya membayar sekitar Rp54 juta. Selisihnya ditutup dari nilai manfaat.

Artinya, hampir 40 persen biaya haji disubsidi dari hasil pengelolaan dana umat itu sendiri.

Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah, menegaskan bahwa peran nilai manfaat sangat krusial dalam menjaga keseimbangan pembiayaan.

“Nilai manfaat dari pengelolaan dana haji menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pembiayaan haji agar tetap terjangkau,” ujarnya.

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Sepanjang 2025, BPKH mencatat nilai manfaat mencapai sekitar Rp12 triliun. Angka tersebut menjadi penyangga utama dalam struktur pembiayaan haji.

Namun, menjaga nilai manfaat bukan perkara mudah. Dana yang dikelola harus tetap aman, tetapi juga produktif.

Sebagian besar dana ditempatkan pada instrumen investasi syariah yang relatif stabil, seperti Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Instrumen ini memberikan imbal hasil yang cukup untuk menjaga nilai dana, tanpa mengambil risiko besar.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan dana haji tidak berorientasi pada keuntungan semata, melainkan pada keseimbangan antara manfaat dan keamanan.

“Pengelolaan dana haji harus dilakukan secara hati-hati, profesional, dan sesuai prinsip syariah, dengan tetap mengedepankan keamanan dana jemaah,” kata Fadlul.

Namun di luar strategi pengelolaan, tantangan datang dari faktor yang tidak bisa dikendalikan. Kenaikan biaya layanan di Arab Saudi, inflasi global, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah menjadi variabel yang terus berubah.

Di tengah tekanan itu, dana haji bekerja dalam diam.

Ia tidak terlihat oleh jamaah yang membayar setoran. Tidak terasa langsung oleh mereka yang masih menunggu antrean. Namun perannya nyata dalam menjaga agar biaya tidak melonjak tajam.

Anggota Dewan Pengawas BPKH, Mulyadi, mengingatkan bahwa pengelolaan dana haji tidak boleh hanya berfokus pada angka.

“Pengelolaan dana haji harus tetap berorientasi pada peningkatan kualitas penyelenggaraan ibadah haji,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa optimalisasi nilai manfaat harus tetap berada dalam koridor pelayanan kepada jamaah.

“Optimalisasi nilai manfaat penting, namun tidak boleh mengabaikan tujuan utama, yaitu pelayanan kepada jemaah,” tambahnya.

Di sinilah letak keseimbangan yang harus dijaga. Dana harus berkembang, tetapi tidak boleh berisiko. Manfaat harus optimal, tetapi tidak boleh mengorbankan keamanan.

Bagi Nurhayati, semua itu mungkin tidak terlihat secara langsung. Ia tidak mengikuti laporan keuangan, tidak membaca angka investasi, dan tidak memantau kinerja BPKH.

Namun ia merasakan dampaknya.

“Kalau masih bisa dibayar, berarti masih ada harapan,” katanya.

Harapan itulah yang menjadi inti dari seluruh sistem ini.

Bahwa ibadah haji tidak hanya milik mereka yang mampu secara finansial, tetapi juga tetap bisa dijangkau oleh masyarakat luas.

Di balik angka biaya yang diumumkan setiap tahun, ada kerja panjang yang tidak selalu terlihat. Ada sistem yang menjaga agar keseimbangan tetap terjaga.

Dan di situlah dana haji memainkan perannya bukan sebagai angka, tetapi sebagai penopang harapan jutaan umat.