MATTANEWS.CO, MALANG – Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Malang telah menerapkan program Swasembada pangan berbasis sekolah.
Program tersebut sudah dilaksanakan di berbagai sekolah yang ada di Kabupaten Malang. Tercatat 15 sekolah telah aktif menerapkan konsep tersebut.
Salah satunya program yang sudah berjalan di SMP Negeri 1 Wajak, Kabupaten Malang, saat sekolah berstatus Adiwiyata Mandiri ini menjadi pusat perhatian dalam Program Swasembada Pangan Berbasis Sekolah.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Malang dan Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN), yang bertujuan menanamkan kesadaran pentingnya kemandirian pangan sejak usia dini.
Bupati Malang, H.M Sanusi dalam sambutanya menegaskan bahwa ketahanan pangan harus dimulai dari lingkungan pendidikan.
Pihaknya juga mengajak generasi muda untuk tidak memandang rendah profesi petani, melainkan menjadikannya sebagai peluang masa depan berbasis teknologi dan bisnis.
“Jangan malu jadi petani. Jadilah petani modern yang menguasai teknologi. Pangan adalah masa depan kita; siapa yang menguasai pangan, dia yang akan memimpin dunia,” pesan Bupati Sanusi.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Umum YSPN, Daryatmo, memaparkan konsep sederhana namun berdampak besar. Ia mencontohkan, jika setiap siswa menanam tiga pohon cabai, maka potensi produksi nasional dapat mencukupi kebutuhan masyarakat secara mandiri.
“Tujuan kami bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga mengatasi krisis regenerasi petani. Pertanian harus dipahami sebagai sektor agribisnis yang menjanjikan,” ujarnya.
Daryatmo menilai bahwa Kabupaten Malang memiliki potensi luar biasa untuk menjadi percontohan nasional, mengingat kesuburan tanahnya yang mendukung, sebagaimana keberhasilan program serupa di berbagai daerah lain di Indonesia.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan bantuan bibit kepada siswa secara simbolis serta pemberian cinderamata kepada Bupati Malang. Rombongan kemudian meninjau langsung kebun sekolah yang berfungsi sebagai laboratorium alam bagi para siswa.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Bagus Sulistyawan mengatakan bahwa program ketahanan pangan berbasis sekolah sudah diterapkan pada banyak sekolah di Kabupaten Malang.
“Sudah ada 15 sekolah telah aktif menerapkan konsep tersebut secara serius, dengan model pengelolaan yang tidak hanya terbatas pada budidaya tanaman,” paparnya, Senin (27/4/2026).
Menurutnya, program ketahanan pangan telah dirintis oleh sejumlah sekolah, salah satunya SMPN 1 Wajak yang menjadi contoh pengembangan terintegrasi.
“Program ini sebenarnya bukan hal yang baru bagi Kabupaten Malang, karena program ketahanan pangan berbasis sekolah itu tidak hanya ada di SMPN 1 Wajak saja,” terang Bagus.
Bahkan, SMPN 1 Wajak telah mengembangkan berbagai komponen ketahanan pangan, mulai dari kebun pembibitan hingga kolam ikan sebagai sumber pangan alternatif.
“Jadi SMP 1 Wajak ini sebenarnya sudah merintis, dia juga selain Adiwiyata mandiri, dia juga sudah merintis apa-apa yang masuk dalam poin atau komponen ketahanan pangan berbasis sekolah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Bagus mengungkapkan bahwa konsep ketahanan pangan yang diterapkan tidak hanya berfokus pada sektor pertanian, tetapi juga mencakup perikanan sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan pangan.
“Ketahanan pangan yang ada di sini yang sudah diterapkan itu tidak hanya menanam, tapi juga ada kolam ikan. Ketahanan pangan kan tidak hanya dari tumbuh-tumbuhan,” tuturnya.
Program serupa sebenarnya telah diterapkan di banyak sekolah di Kabupaten Malang, baik jenjang SD maupun SMP. Namun, yang benar-benar fokus dan berkembang optimal saat ini berkisar 15 sekolah.
“Di Kabupaten Malang tidak hanya SMPN 1 Wajak saja yang punya seperti ini, ada sekitar 15 yang sudah menerapkan seperti ini. Jadi hampir semua sudah menerapkan, cuma yang konsen itu sekitar 15-an sekolah,” tandasnya.














