MATTANEWS.CO, SAROLANGUN – Potret memprihatinkan dunia pendidikan terjadi di Desa Bukit Berantai, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun. Sejumlah siswa SD 157 Bukit Berantai terpaksa berenang menyeberangi sungai demi bisa pergi ke sekolah setelah jembatan gantung penghubung utama putus akibat banjir bandang.
Kondisi ini menjadi perhatian publik karena para pelajar harus mempertaruhkan keselamatan setiap hari hanya untuk mendapatkan hak pendidikan. Sungai yang mereka seberangi memiliki arus cukup deras dan kedalaman yang berbahaya, terutama bagi anak-anak usia sekolah dasar.
Salah seorang siswi dengan polos memohon perhatian pemerintah agar segera membangun kembali jembatan yang rusak tersebut.

“Assalamualaikum selamat pagi, kami dari SD Bukit Berantai, Kabupaten Sarolangun memohon kepada pemerintah untuk membangun jembatan karena kami kesusahan dalam melewati sungai,” ujarnya.
Guru SD 157 Bukit Berantai, Sarwono Tumangger, menjelaskan bahwa jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses utama siswa menuju sekolah.
“Para siswa harus bertaruh nyawa melewati sungai yang cukup dalam dan deras,” katanya.
Tak hanya menghambat akses pendidikan, putusnya jembatan juga berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat Desa Bukit Berantai. Warga kesulitan menjalankan aktivitas ekonomi, distribusi hasil kebun terganggu, hingga mobilitas harian menjadi terbatas.
“Kami terkurung, ekonomi warga terhambat,” ungkap warga setempat.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Sarolangun segera mengambil langkah cepat melalui pembangunan jembatan darurat maupun perbaikan permanen agar aktivitas sekolah dan ekonomi dapat kembali normal.
“Kami berharap kepada pemerintah, dalam hal ini Bupati Sarolangun, untuk segera mengambil tindakan dengan memperbaiki jembatan kami,” harap warga.
Diketahui, jembatan gantung di atas Sungai Narso tersebut putus akibat banjir bandang yang melanda wilayah Kecamatan Batang Asai dan sekitarnya pada Minggu (26/4/2026).
Wakil Bupati Sarolangun, Gerry Trisatwika, menyebut total ada tujuh jembatan gantung yang mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.
“Tiga jembatan gantung putus yakni di Desa Bukit Berantai Kecamatan Batang Asai, Desa Tanjung Gagak dan Desa Muaro Lati Kecamatan Bathin VIII,” ujarnya saat meninjau lokasi pascabanjir.
Selain tiga jembatan putus, tiga lainnya mengalami rusak berat, yakni di Desa Simpang Narso, Desa Teluk Kecimbung, dan Desa Pulau Melako. Sementara satu jembatan di Desa Sungai Abang mengalami rusak ringan.
Peristiwa ini menjadi alarm serius bahwa pembangunan infrastruktur dasar di daerah rawan bencana harus menjadi prioritas. Warga berharap anak-anak di Bukit Berantai tidak lagi berenang demi sekolah, dan hak pendidikan bisa dinikmati dengan aman serta layak.(*)














