MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Diiringi tabuhan gendang, alunan sape, dan tarian adat yang memukau, Desa Tanjung Karang berubah menjadi panggung budaya pada Jumat 22 Mei 2026.
Komandan Distrik Militer 1206 Putussibau Letkol Arm Andreas Prabowo Putro, hadir langsung bersama istri untuk menyatu dengan masyarakat dalam perayaan *Gawai Dayak*.
Kehadiran orang nomor satu di Kodim 1206 Putussibau ini bukan sekadar seremonial.
Ia datang membawa pesan tegas bahwa pelestarian budaya Dayak adalah tanggung jawab bersama, sekaligus benteng kokoh untuk menjaga persatuan bangsa.
*Panggung Budaya yang Menggema di Tanjung Karang*
Sejak pagi, Desa Tanjung Karang sudah dipadati warga. Tokoh adat, perangkat desa, dan masyarakat dari berbagai dusun berkumpul dengan pakaian adat lengkap. Senyum, tawa, dan sapaan hangat mengiringi setiap langkah tamu yang datang.
Gawai Dayak tahun ini digelar lebih meriah dari biasanya. Prosesi adat, tarian tradisional, musik sape, dan ritual syukur atas hasil panen menjadi rangkaian utama.
Bagi masyarakat Dayak, Gawai bukan hanya pesta panen, tetapi juga momentum sakral untuk mempererat persaudaraan dan merawat warisan leluhur.
Di tengah keramaian itu, kehadiran Letkol Arm Andreas Prabowo Putro bersama Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang L Dim 1206/Psb menjadi sorotan. Pasangan ini disambut hangat, disalami, dan diajak berbaur bersama warga tanpa sekat.
*”Budaya Jangan Sampai Punah di Tangan Kita”*
Berdiri di hadapan para tetua adat dan ratusan warga, Dandim menyampaikan apresiasi mendalam.
Ia menilai, semangat masyarakat Tanjung Karang dalam menjaga adat istiadat patut menjadi contoh bagi daerah lain di Kapuas Hulu.
“Budaya merupakan kekayaan bangsa yang harus diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi. Jangan sampai identitas Dayak punah hanya karena kita abai,” tegasnya.
Menurut Dandim, kegiatan seperti Gawai Dayak memiliki peran strategis. Selain sebagai ungkapan syukur, acara ini mempererat kebersamaan, memperkuat nilai gotong royong, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air yang berakar pada kearifan lokal.
“Melalui Gawai Dayak ini, kebersamaan kita semakin kuat. Persatuan tidak hanya diucapkan, tetapi dihidupkan lewat gotong royong dan saling menghormati adat masing-masing,” tambahnya.
*TNI dan Masyarakat, Satu dalam Kebudayaan*
Momen kebersamaan semakin terasa ketika Dandim dan istri duduk bersama warga, menyaksikan penampilan seni budaya tradisional. Sorakan tepuk tangan menggema setiap kali penari tampil memukau dengan gerakan khas Dayak.
Tokoh adat Desa Tanjung Karang menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam. Kehadiran Dandim dinilai sebagai bentuk perhatian nyata TNI terhadap masyarakat adat dan budaya lokal.
“Kehadiran Bapak Dandim dan Ibu menjadi motivasi bagi kami. Ini bukti bahwa TNI tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjaga jati diri bangsa melalui budaya,” ujar salah satu tokoh adat.
*Harmoni TNI-Rakyat di Tanah Dayak*
Acara ditutup dengan suasana penuh keakraban. Tidak ada jarak antara prajurit dan warga. Semua menyatu dalam semangat Gawai Dayak yang sarat makna.
Menurut Dandim, kegiatan ini Lebih dari sekadar perayaan, Gawai Dayak di Tanjung Karang menjadi bukti bahwa hubungan harmonis antara TNI dan masyarakat di Kapuas Hulu terus terawat.
“Di tengah derasnya arus modernisasi, kehadiran TNI dalam acara adat seperti ini mengirim pesan kuat *budaya Dayak hidup, dijaga, dan dihormati*, “pungkasnya mengakhiri. (*)















