BERITA TERKINIEKONOMI & BISNISNUSANTARATNI DAN POLRI

Polda Sumsel Gandeng APHI Perkuat Pencegahan Karhutla Hadapi Kemarau 2026

×

Polda Sumsel Gandeng APHI Perkuat Pencegahan Karhutla Hadapi Kemarau 2026

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Polda Sumsel) menggandeng Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) dalam Pelatihan Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun 2026 guna memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman musim kemarau dan potensi kebakaran lahan gambut di Sumatera Selatan.

Pelatihan yang berlangsung pada 20–22 Mei 2026 di Jakabaring Sport City (JSC) Palembang tersebut diikuti oleh jajaran Polres di Sumsel, TNI, BPBD, Manggala Agni, Regu Penanggulangan Kebakaran (RPK) perusahaan, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.

Kepala Operasi (Karops) Polda Sumatera Selatan Kombes Pol. Muhammad Anis Prasetio Santoso mengatakan wilayah gambut di Sumsel memiliki tingkat kerawanan tinggi sehingga membutuhkan pemahaman khusus terkait pola pencegahan dan penanganan karhutla.

“Gambut di Sumsel cukup luas dan kita harus mengetahui cara-cara penanganan kebakaran di areal gambut dengan berbagai karakteristiknya. Saat ini perusahaan mitra APP Group juga telah memiliki alat untuk menilai potensi karhutla berdasarkan tingkat kerawanan di lahan gambut,” kata Anis.

Ia menambahkan pelatihan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas personel dan membuka wawasan peserta sebelum turun langsung ke lapangan dalam melakukan upaya pencegahan dini dan edukasi kepada masyarakat.

“Sejak awal harus kita lakukan pencegahan dini. Kadangkala ada masyarakat yang membuka lahan dengan membakar dan apabila api merambat ke lahan gambut akan sangat sulit dipadamkan,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Umum APHI Soewarso dalam paparannya mengenai antisipasi dan mitigasi pencegahan karhutla di ekosistem gambut menegaskan bahwa kebakaran lahan gambut bukan sekadar persoalan api, melainkan juga berkaitan dengan tata kelola, hidrologi gambut, perilaku masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.

“Karhutla di lahan gambut bukan hanya persoalan api, tetapi juga persoalan tata kelola, perilaku, hidrologi gambut, dan keberlanjutan masa depan Indonesia,” kata Soewarso.

Ia menjelaskan sejumlah langkah prioritas dalam pengendalian karhutla perlu diperkuat, antara lain penguatan monitoring Tinggi Muka Air Tanah (TMAT), optimalisasi early warning system, patroli terpadu, serta pelibatan masyarakat melalui Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Desa Makmur Peduli Alam (DMPA).

Selain itu, integrasi data lintas lembaga dan edukasi publik berkelanjutan juga dinilai penting untuk memperkuat mitigasi karhutla.

Menurut Soewarso, ancaman karhutla pada 2026 diperkirakan meningkat akibat fenomena El Niño ekstrem yang berpotensi menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan di sejumlah wilayah rawan gambut.

Soewarso juga menyampaikan apresiasi kepada tiga perusahaan anggota APHI Sumatera Selatan, yakni PT Bumi Mekar Hijau, PT Bumi Andalas Permai, dan PT Rimba Hutani Mas yang menerima penghargaan dari Polda Sumsel atas dedikasi terbaik dalam upaya pencegahan dan pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta peningkatan produktivitas lahan di wilayah Sumatera Selatan sebagai bagian dari penguatan sinergi multipihak dalam menjaga kawasan hutan dan lahan secara berkelanjutan.

Ketua Komda APHI Sumatera Selatan Iwan Setiawan mengatakan perusahaan anggota APHI di Sumatera Selatan akan terus memperkuat sinergi dan koordinasi dengan pemerintah, aparat penegak hukum, masyarakat, serta para pemangku kepentingan lainnya dalam upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurut dia, kolaborasi multipihak menjadi faktor penting dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau serta meminimalkan risiko kebakaran, khususnya di kawasan rawan gambut.

“Kami juga mendorong seluruh anggota APHI untuk terus meningkatkan upaya pencegahan karhutla melalui edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar konsesi mengenai bahaya membuka lahan dengan cara membakar yang dapat memicu bencana karhutla. Upaya pencegahan harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan agar kesadaran masyarakat semakin meningkat dan risiko kebakaran dapat ditekan,” kata Iwan.

Melalui penguatan sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak, APHI menegaskan komitmennya untuk terus mengajak seluruh anggota menjalankan praktik usaha kehutanan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat pengendalian karhutla di Indonesia (**).