MATTANEWS.CO, PRABUMULIH – Di sebuah kampung, hiduplah seorang juragan yang akrab disapa Pak Aji. Dalam waktu dua hari, ia akan menggelar hajatan besar sebagai ungkapan rasa syukur.
Persiapan dilakukan sejak pagi hingga malam. Tenda mulai berdiri, dapur umum mengepul, dan berbagai keperluan terus berdatangan. Karena kesibukan itu, Pak Aji meminta bantuan tetangganya, Pak Soleh, yang dikenal ramah dan ringan tangan.
“Pak Soleh, saya titip tolong bagikan undangan ini, ya. Saya sudah tidak sempat lagi keliling,” ujar Pak Aji sambil menyerahkan setumpuk amplop yang sudah ditulisi nama para tamu, lengkap dengan gelar dan jabatannya.
“Insyaallah siap, Pak Aji,” jawab Pak Soleh tanpa banyak bicara.
Seharian penuh Pak Soleh berkeliling kampung. Satu per satu undangan ia antarkan dengan penuh tanggung jawab. Tak satu pun terlewat.
Hari yang dinanti pun tiba. Hajatan berlangsung meriah. Para tamu berdatangan, memenuhi kursi yang telah disediakan. Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa hingga acara hampir usai.
Namun di tengah kebahagiaan itu, Pak Aji merasa ada yang kurang.
“Pak Soleh ke mana, ya? Kok dari tadi tidak kelihatan?” tanyanya kepada salah seorang tetangga.
“Sepertinya memang tidak datang, Pak,” jawab singkat tetangganya.
Acara selesai. Semua tamu pulang dengan membawa kesan baik. Meski bersyukur hajatan berjalan lancar, Pak Aji masih menyimpan tanda tanya mengapa Pak Soleh tidak hadir.
Keesokan harinya, keduanya bertemu di jalan kampung.
“Pak Soleh, kemarin kenapa tidak datang ke hajatan saya? Apa sedang sakit?” tanya Pak Aji.
Pak Soleh hanya tersenyum tipis.
“Saya tidak menerima undangan, Pak. Bapak hanya menitipkan saya untuk membagikan undangan yang sudah tertulis nama-namanya. Nama saya tidak ada di antaranya. Jadi saya pikir memang tidak diundang.”
Mendengar jawaban itu, Pak Aji terdiam. Wajahnya berubah malu. Di tengah kesibukan menyiapkan acara besar, ternyata ia justru melupakan orang yang telah membantunya dengan tulus.
Sejak saat itu, Pak Aji menyadari bahwa perhatian sekecil apa pun memiliki arti besar. Seseorang yang membantu kita bukan hanya layak menerima ucapan terima kasih, tetapi juga pantas mendapat tempat sebagai tamu yang dihargai.
Pesan moral: Kesibukan jangan sampai membuat kita lupa menghargai orang-orang terdekat. Terkadang, bukan bantuan yang mereka harapkan, melainkan penghargaan dan rasa dihargai.
Nama tokoh dan latar dalam kisah ini sepenuhnya bersifat fiktif. Kesamaan nama atau peristiwa dengan kejadian nyata hanyalah kebetulan semata.














