BERITA TERKINIHEADLINENUSANTARAPEMERINTAHAN

Menhut dan Kepala BNPB Pantau Karhutla Jambi dari Udara, 8 Hektare Masih dalam Penanganan

×

Menhut dan Kepala BNPB Pantau Karhutla Jambi dari Udara, 8 Hektare Masih dalam Penanganan

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, JAMBI – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto dan Gubernur Jambi Al Haris memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi.

Upaya tersebut dilakukan melalui rapat koordinasi teknis sekaligus pemantauan kondisi lapangan dari udara, Rabu (2/9/2026).

Rapat koordinasi digelar di VIP Room Bandara Sultan Thaha Jambi dengan melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, BNPB, BPBD, serta sejumlah pihak terkait.

Pembahasan difokuskan pada perkembangan karhutla, pelaksanaan pemadaman melalui jalur darat dan udara, hingga langkah mitigasi menghadapi periode puncak musim kemarau.

Usai rapat, Raja Juli Antoni, Suharyanto, dan Al Haris bersama rombongan melakukan patroli udara menggunakan pesawat Cessna 208B milik BNPB.

Patroli menyusuri wilayah Kabupaten Muaro Jambi, termasuk kawasan Sungai Gelam dan Pulau Mentaro. Pemantauan dilakukan untuk melihat langsung kondisi lapangan sekaligus memverifikasi informasi titik panas yang terdeteksi melalui sistem pemantauan.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan, berdasarkan perkembangan hingga sehari sebelumnya, luas areal yang terbakar di Jambi mencapai sekitar 13 hektare.

Dari luasan tersebut, sekitar 5 hektare telah berhasil dipadamkan, sementara sekitar 8 hektare masih dalam proses penanganan.

“Untuk Jambi, alhamdulillah, luas yang terbakar per hari kemarin itu 13 hektare. Kemudian sehari kemarin bisa dipadamkan 5 hektare, jadi hari ini sedang memadamkan 8 hektare,” kata Suharyanto.

Ia menjelaskan, data karhutla dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan. Setiap hotspot yang terdeteksi perlu diperiksa untuk memastikan apakah merupakan titik api kebakaran atau sumber panas lainnya.

Informasi hotspot dari SiPongi Kementerian Kehutanan menjadi salah satu acuan bagi petugas dalam menentukan lokasi yang perlu diverifikasi dan ditindaklanjuti.

Dalam patroli udara tersebut, rombongan juga menemukan lokasi yang terindikasi sebagai kebakaran baru dengan luasan relatif kecil. Temuan itu selanjutnya menjadi bahan bagi satuan tugas untuk dilakukan pengecekan dan penanganan.

“Setiap hari data-data ini bisa terpantau secara real time. Mudah-mudahan yang 8 hektare hari ini dipadamkan betul-betul padam dan tidak ada lagi titik api,” ujar Suharyanto.

Menurutnya, operasi pemadaman darat, operasi udara, hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus dioptimalkan untuk mendukung pengendalian karhutla.

Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengingatkan seluruh pihak agar tidak lengah menghadapi perubahan kondisi hotspot yang berlangsung cepat.

Ia menyebut, secara nasional setelah sebelumnya sejumlah provinsi prioritas menunjukkan tren penurunan, peningkatan hotspot kembali terpantau, terutama di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

“Oleh karena itu besok kami ke Pontianak untuk bertemu kembali dengan seluruh stakeholder, dengan Gubernur, Kapolda, Pangdam, merapatkan barisan kembali, melakukan evaluasi, sekaligus membuat rencana apa yang bisa kita lakukan untuk memitigasi dan memastikan agar angka, baik hotspot maupun fire spot yang sudah diverifikasi, dapat turun,” kata Raja Juli.

Khusus untuk Jambi, Raja Juli menilai penanganan karhutla menunjukkan perkembangan yang relatif baik. Namun, kondisi tersebut tetap membutuhkan kewaspadaan karena hotspot dapat kembali muncul dalam waktu singkat.

September, kata dia, menjadi periode penting dalam pengendalian karhutla. Karena itu, kesiapsiagaan seluruh unsur perlu dipertahankan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, masyarakat hingga para pihak terkait.

“Puncak karhutla ini adalah bulan September. Ini medan perjuangan, ladang perjuangannya justru di September ini. Jadi semua pihak, pemerintah, TNI, Polri, termasuk masyarakat, diharapkan bersama-sama berpartisipasi untuk mengatasi persoalan karhutla ini,” tegasnya.

Gubernur Jambi Al Haris mengatakan pemerintah daerah bersama satuan tugas terus mengutamakan kecepatan respons ketika menemukan titik kebakaran.

Menurutnya, pemadaman melalui jalur darat segera dilakukan dan dapat diperkuat dengan dukungan water bombing apabila kondisi membutuhkan penanganan dari udara.

“Begitu ada kebakaran, langsung kita kejar titik api di mana, langsung ada pemadaman dengan tim Satgas di daerah, lalu diikuti lagi dengan water bombing yang telah disiapkan BNPB,” ujar Al Haris.

Al Haris juga menyoroti karakteristik lahan gambut yang membutuhkan penanganan hingga tahap pendinginan. Api yang terlihat padam belum tentu sepenuhnya hilang karena bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah.

“Lahan gambut itu api tidak muncul, asapnya ada. Bahkan dalam hitungan jam bisa muncul lagi api baru di tempat yang sama. Itulah risiko lahan gambut. Tugas kami adalah mengawal sampai tuntas pendinginannya,” katanya.

Patroli udara turut diikuti Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Mayjen TNI Budi Irawan, Kapolda Jambi Irjen Pol. Krisno Halomoan Siregar, dan Danrem 042/Garuda Putih Brigjen TNI Nyamin.

Patroli dengan rute Bandara Sultan Thaha–Muaro Jambi–Bandara Sultan Thaha tersebut berlangsung sekitar satu jam, dengan fokus pemantauan di kawasan Sungai Gelam dan Pulau Mentaro.

Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Jambi, TNI, Polri, BNPB, BPBD, serta unsur Satgas Karhutla berkomitmen melanjutkan patroli, verifikasi hotspot, pemadaman, pendinginan, dan dukungan operasi udara untuk mencegah kebakaran meluas serta menekan dampaknya terhadap masyarakat.(*)

Penulis: Jolyot
Editor: Redaksi