MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Ketimpangan terang itu nyata. Di pusat Kota Putussibau, lampu menyala stabil 24 jam. Namun hanya beberapa puluh kilometer dari ibukota Kabupaten Kapuas Hulu itu, tepatnya di Dusun Suruk, Kecamatan Bunut Hulu dan Tekudak Kecamatan Kalis, warga harus menjalani hidup dengan jantung listrik yang berdebar tak karuan hidup-mati, hidup-mati, hingga 10 kali dalam sehari.
Kondisi memilukan ini diungkapkan langsung oleh Yuni, warga Suruk, Kecamatan Bunut Hulu, yang menjadi corong suara masyarakat yang sudah terlalu lama memendam lelah.
“Semalam ndak ada mati om. Tapi tgl 9 kemaren itu sampai kurang lebih 10 kali matinya,” ujar Yuni kepada wartawan, Senin (15/9/2026) pagi, sesaat setelah kampungnya kembali padam sekitar pukul 09.15 WIB kepada wartawan Mattanews.co.
Bagi Yuni dan ratusan warga Suruk lainnya, mati lampu bukanlah sebuah musibah insidentil. Ia adalah jadwal harian yang tak pernah tertulis.
“Kalau mati lampu ada terus om kami dikampung,” tuturnya lirih melalui tulisan di WhatsApp kepada wartawan.
Yang membuat luka semakin perih adalah sikap diam tanpa pemberitahuan. Warga mengaku sangat legawa jika pemadaman dilakukan karena ada perbaikan dari PLN. Yang mereka sesalkan adalah pemadaman yang datang seperti pencuri di siang bolong.
“Kalau petugas PLN ada pemberitahuan ndak masalah masyarakat, cuma kadang mereka tanpa pemberitahuan tiba-tiba mati,” tegas Yuni.
Penderitaan warga Suruk mencapai titik nadir dalam dua pekan terakhir. Selain pemadaman brutal 10 kali sehari pada 9 September lalu, mereka juga harus menanggung derita pemadaman 12 jam non-stop.
“Kaya kemaren pas pemasangan gardu tambahan mati hampir 12 jam om, jam set 12 malam baru nyala,” kenang Yuni.
Dua belas jam. Dari matahari terik hingga tengah malam buta. Bayangkan anak-anak belajar dengan lilin, ibu-ibu yang bahan dagangannya di kulkas membusuk, dan bapak-bapak yang pulang dari ladang tak bisa beristirahat dengan layak.
Dampaknya merembet jauh lebih kejam dari sekadar gelap. Di Suruk, listrik adalah nyawa kedua. Ketika listrik padam, maka padam pula satu-satunya jendela mereka ke dunia luar.
“Jaringan om. Kami disini kalau mati lampu, jaringannya hilang juga,” ungkap Yuni.
Tower telekomunikasi ikut lumpuh. Suruk yang berada di pedalaman Bunut Hulu seketika menjadi kampung yang terisolir total. Tidak bisa menelepon keluarga yang sakit, tidak bisa menghubungi guru anak, tidak bisa mengakses informasi apapun. Mereka terputus.
Dan kini, kerusakan materiil mulai menghantui. Aliran listrik yang tidak stabil, tegangan yang naik-turun tak beraturan, menjadi algojo bagi alat elektronik warga yang dibeli dengan hasil bertahun-tahun menabung.
“Ada yang rusak om. Untuk dirumah kami belum ada yang rusak om. Cuma wattnya ndak stabil. Alat elektronik, ada beberapa masyarakat yang kulkasnya rusak om,” kata Yuni, menggambarkan kepanikan warga yang setiap kali listrik padam-hidup, harus was-was.
Kulkas rusak bukan perkara sepele di Suruk. Di kampung yang jauh dari pasar harian, kulkas adalah lumbung kehidupan. Tempat menyimpan ikan hasil sungai, sayur, dan stok lauk untuk seminggu. Jika rusak, kerugian bisa mencapai jutaan rupiah.
Di ujung wawancara, Yuni menyampaikan harapan yang sangat sederhana, namun justru dari kesederhanaan itulah terdengar jeritan keadilan yang paling keras.
“Harapannya jangan padam hidup terus, kalau bisa listrik dikampung disesuaikan dengan di Putussibau. Kalau di Putussibau jarang mati, usahakan di kampung jangan mati juga om. Mungkin kalau sesekali ndak masalah, tapi kalau setiap hari mati 2-3 kali kan susah masyarakatnya om, “tutur Yuni
Warga Suruk tidak meminta istana yang terang benderang. Mereka hanya meminta hak yang sama, hak untuk mendapat listrik yang layak, stabil, dan manusiawi. Hak untuk tidak hidup dalam ketakutan setiap kali langit mendung dan lampu berkedip.
Kini, penderitaan yang sama dialami Abun, warga Tekudak, Kecamatan Kalis. Jika Yuni harus pasrah melihat kulkas tetangganya rusak, Abun harus berdarah-darah mempertahankan dapur usahanya tetap mengepul.
Karena listrik adalah nadi usahanya, setiap pemadaman berarti usahanya berhenti total. Agar usahanya tetap berjalan, Abun terpaksa menghidupkan mesin genset. Sebuah solusi yang menyayat dompet.
“Harus merogoh kocek lebih untuk membeli minyak untuk menghidupkan mesin genset agar usaha berjalan,” keluh Abun saat dikonfirmasi wartawan.
Abun ceritakan ini adalah biaya tambahan yang tidak pernah diperhitungkan. Di saat warga kota Putussibau menjalankan usaha dengan listrik PLN yang murah dan stabil, warga Tekudak harus membeli bensin atau solar eceran yang harganya jauh lebih mahal hanya untuk sekadar bisa buka usaha.
“Listrik padam, pengeluaran membengkak, keuntungan menipis. ini berdampak merugikan karena ada biaya tambahan seperti pembelian minyak,” tegas Abun.
Tak hanya usaha, kata Abun perabot rumah tangga menjadi korban. Tegangan listrik yang naik-turun menjadi pembunuh diam-diam.
“Ada beberapa perabotan rumah tangga pun rusak faktor tegangan listrik naik turun dan pemadaman listrik hampir setiap hari dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu,” ungkap Abun.
Menurut Abun, puncak dari semua kekecewaan ini bermuara pada satu pertanyaan sedih yang dilontarkan Abun, mewakili suara ribuan warga pedalaman Kapuas Hulu lainnya. Sebuah pertanyaan tentang keadilan.
“Ia meminta kepada PLN kenapa kami yang di kampung selalu menjadi tumbal padahal sama-sama bayar, sedangkan ibukota Kapuas Hulu Putussibau aman hidup 24 jam,” ujar Abun dengan nada getir.
Ya, kenapa harus kampung yang menjadi tumbal? Padahal kWh yang dibayar sama. Rekening yang datang setiap bulan sama-sama harus dilunasi.
“Kewajiban warga kampung dan warga kota adalah sama, tapi hak atas listrik yang stabil ternyata berbeda jauh, “tutup Abun.
Kini dua Desa dari dua kecamatan yang berbeda, Suruk di Bunut Hulu dan Tekudak di Kalis, telah bersuara. Mereka tidak meminta pemakluman. Mereka meminta kejelasan, pemerataan, dan tanggung jawab.
Hingga berita ini diturunkan, warga Suruk, Kecamatan Bunut Hulu masih menunggu jawaban dan tindakan nyata. Mereka masih menunggu kapan keadilan terang itu benar-benar sampai ke ujung kabel di kampung mereka. (*)














