MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG – Tradisi nyethe yang lekat dengan budaya ngopi masyarakat Tulungagung mendapat ruang baru untuk berkembang. Polres Tulungagung Polda Jawa Timur menggelar Lomba Seni Cethe Polres Tulungagung Cup 2026, sebagai upaya melestarikan seni cethe sekaligus mengangkatnya menjadi karya kreatif bernilai budaya dan ekonomi.
Kegiatan yang terbuka untuk umum tersebut mulai digelar pada Rabu, 16 September 2026. Babak penyisihan dilaksanakan di masing-masing Polsek jajaran Polres Tulungagung.
Kasihumas Polres Tulungagung, Iptu Nanang Murdianto, dalam keterangan resminya, Rabu (16/9/2026), mengatakan lomba tersebut menjadi bagian dari upaya kepolisian untuk ikut menjaga dan mengenalkan seni cethe khas Tulungagung kepada masyarakat luas.
“Lomba seni membatik rokok atau nyethe khas Tulungagung ini digelar untuk melestarikan tradisi lokal sekaligus mengangkat ampas kopi atau cethe menjadi karya seni yang memiliki nilai tinggi,” kata Nanang.
Menurutnya, cethe bukan sekadar bagian dari tradisi menikmati kopi. Di tangan para seniman dan pecinta cethe, ampas kopi dapat diolah menjadi media untuk menghasilkan beragam motif dan karya artistik.
Karya tersebut antara lain berupa motif batik, tulisan, hingga gambar tokoh pewayangan dengan tingkat kerumitan dan kreativitas yang beragam.
Lestarikan Warisan Budaya Tulungagung
Nanang menjelaskan, penyelenggaraan Lomba Seni Cethe Polres Tulungagung Cup 2026 memiliki sejumlah tujuan. Salah satunya adalah menjaga cethe sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Tulungagung agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Melalui kompetisi tersebut, masyarakat diharapkan semakin mengenal cethe sebagai salah satu kekayaan budaya khas daerah.
Selain pelestarian budaya, lomba juga menjadi wadah bagi para perajin, seniman, komunitas cethe, maupun pecinta kopi untuk menyalurkan kreativitas.
“Harapannya, para seniman dan pecinta cethe memiliki ruang untuk berekspresi dan menunjukkan kreativitas mereka melalui berbagai motif dan karya,” ujarnya.
Dorong Ekonomi Warung Kopi
Tidak hanya berbicara mengenai seni dan budaya, kegiatan tersebut juga diharapkan memberikan dampak terhadap sektor ekonomi masyarakat.
Tradisi cethe selama ini tidak terlepas dari keberadaan warung kopi yang menjadi ruang berkumpul masyarakat. Karena itu, berkembangnya seni cethe dinilai dapat ikut meningkatkan daya tarik wisata serta menggerakkan aktivitas ekonomi lokal.
“Tradisi cethe juga dapat menjadi daya tarik wisata daerah sekaligus mendorong perputaran ekonomi di warung-warung kopi yang selama ini menjadi pusat berkumpulnya masyarakat,” jelas Nanang.
Selain itu, lomba diharapkan mampu mempererat silaturahmi antarwarga. Tradisi yang tumbuh dari ruang sosial masyarakat tersebut diharapkan tetap menjadi sarana membangun kebersamaan.
Grand Final Digelar 18 September
Rangkaian Lomba Seni Cethe Polres Tulungagung Cup 2026 berlangsung selama tiga hari.
Pada 16 September 2026, peserta mengikuti babak penyisihan yang dilaksanakan di Polsek masing-masing jajaran Polres Tulungagung.
Selanjutnya, 17 September 2026 digunakan untuk persiapan menuju babak final.
Sementara itu, Grand Final Lomba Seni Cethe Polres Tulungagung Cup 2026 akan digelar pada 18 September 2026 di Semar Mesem Cafe, Kelurahan Jepun, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung.
Panitia juga telah menyiapkan piala dan uang pembinaan bagi para peserta yang berhasil menjadi juara.
Digelarnya kompetisi tersebut menjadi penegasan bahwa tradisi lokal tidak harus berhenti sebagai kebiasaan masyarakat. Dengan kreativitas dan ruang yang tepat, cethe dapat terus berkembang sebagai karya seni sekaligus bagian dari identitas budaya Tulungagung.
Kini, tantangannya bukan sekadar mempertahankan tradisi nyethe, tetapi memastikan seni cethe tetap hidup, dikenal generasi muda, dan mampu memberi nilai tambah bagi masyarakat serta daerah.














