MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Di tengah gemuruh Festival Budaya Perbatasan 2026 yang digelar Kementerian Kebudayaan di Pasar Wisata Badau pada 19-21 September 2026, ada satu cerita yang tidak ditampilkan di panggung utama, tapi dampaknya paling nyata bagi perut warga perbatasan.
Cerita itu datang dari Pojok UMKM di sudut Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Nanga Badau. Di pojok sederhana itu, tidak ada tarian, yang ada adalah tumpukan ikan segar Tapah, Jelawat, dan Seladang yang siap menyeberang ke Malaysia.
Di balik pojok itu, ada sosok Henry Sinuraya, Kepala Kantor Bea Cukai Nanga Badau. Ia menjadi arsitek dari sebuah kerja senyap menyulap PLBN yang biasanya hanya jadi tempat pemeriksaan menjadi jalan tol ekspor bagi UMKM.
“Pengembangan ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan merupakan salah satu fokus utama kami dalam menjalankan fungsi trade facilitator dan industrial assistance,” kata Henry Sinuraya saat dikonfirmasi. Senin (21/9/2026).
Pernyataan Henry bukan basa-basi. Ia datang dengan data.
Menurut data resmi Bea Cukai Nanga Badau yang dipaparkan Henry Sinuraya, tren ekspor dari perbatasan Kapuas Hulu menunjukkan grafik yang terus menanjak.
Sepanjang tahun 2025, UMKM binaan di wilayah perbatasan berhasil menyumbang devisa ekspor sebesar Rp4,38 miliar. Capaian ini ditopang oleh komoditi perikanan air tawar unggulan yang selama ini hanya dianggap ikan konsumsi lokal.
Rinciannya: Frozen Seladang 14,8 ton dengan nilai Rp 1,1 miliar, Frozen Tapah 13,1 ton senilai Rp 833,2 juta, Frozen Jelawat 9,5 ton senilai Rp 755 juta, dan Fresh Tapah 3,5 ton senilai Rp 212,8 juta.
Memasuki tahun 2026, hingga September saja, angka devisa sudah kembali menyentuh Rp 4 miliar. Yang menarik, ada pergeseran selera pasar yang ditangkap oleh tim Bea Cukai.
“Jika tahun lalu pasar masih didominasi produk beku (frozen), tahun ini pasar di negara tetangga lebih menyukai ikan segar (fresh),” jelas Henry.
Data 2026 hingga September membuktikan hal itu: Fresh Tapah 15 ton (Rp 901,4 juta), Fresh Jelawat 13,8 ton (Rp 1,1 miliar), Fresh Patin/Seladang 10,2 ton (Rp 715,2 juta), serta Fresh Tengalan 5,3 ton (Rp 315,9 juta).
Pergeseran dari frozen ke fresh ini, menurut Henry, menunjukkan semakin efisiennya rantai logistik dan layanan di PLBN.
Henry Sinuraya menegaskan, capaian devisa itu tidak datang tiba-tiba. Ada metode kerja kolaboratif yang ia bangun bersama Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Kabupaten Kapuas Hulu, Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, dan Karantina Ikan.
“Kami memberikan asistensi berkesinambungan, mulai dari tahap pre-export hingga post-export. Mulai dari legalitas usaha, tata cara kepabeanan, hingga standar kemasan agar lolos di pasar internasional,” ujar Henry.
Dalam Festival Budaya Perbatasan ini, metode itu diwujudkan secara fisik melalui Pojok UMKM Badau. Pojok ini menjadi pusat promosi dan display produk-produk unggulan UMKM binaan agar lebih dikenal luas oleh pengunjung festival, termasuk calon pembeli dari Malaysia yang datang ke PLBN.
Sinergi juga dilakukan di lapangan. Bea Cukai mempermudah prosedur kepabeanan, sementara Karantina Ikan bertugas melakukan pemeriksaan kesehatan serta penerbitan Health Certificate guna menjamin kualitas komoditi sesuai standar internasional. BPPD dan Pemkab Kapuas Hulu bertugas memetakan UMKM potensial dan membina mereka.
“Kehadiran Bea Cukai Badau beserta kolaborasi lintas instansi pada acara budaya maupun pelayanan perbatasan merupakan wujud nyata hadirnya negara di garis depan perbatasan untuk memajukan perekonomian masyarakat lokal,” kata Henry.
Sinergi ini mendapat apresiasi dari Bupati Kapuas Hulu. Bupati menilai, potensi perikanan lokal terbukti memiliki daya saing tinggi di pasar mancanegara.
Lebih dari sekadar angka devisa, Henry menjelaskan bahwa geliat ekspor ini memberikan efek ganda (multiplier effect).
“Ketika aktivitas budidaya dan perdagangan meningkat, itu tidak hanya mengangkat perekonomian nelayan dan UMKM, tetapi juga berhasil mendukung penyediaan gizi masyarakat di kawasan perbatasan melalui pemenuhan sumber protein yang murah, terjangkau, dan berkualitas tinggi,” jelasnya.
Artinya, ikan yang tidak masuk grade ekspor tetap bisa dinikmati warga perbatasan dengan harga terjangkau, meningkatkan ketahanan pangan lokal.
Di akhir wawancara, Henry Sinuraya mengajak seluruh pelaku usaha dan masyarakat lokal untuk tidak ragu memanfaatkan fasilitas di PLBN Nanga Badau.
“Kami mengajak seluruh pelaku usaha untuk memanfaatkan kemudahan fasilitas layanan di PLBN Nanga Badau, melakukan perdagangan internasional secara legal, dan bersama-sama mendorong komoditi unggulan Kapuas Hulu agar semakin berdaya saing di pasar global,” pungkasnya. (*)














