BERITA TERKINIHEADLINEMATTA OPINI

Paradigma Warna

×

Paradigma Warna

Sebarkan artikel ini

Oleh Gatot Sugiharto

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Ada yang ganjil dalam perjalanan peradaban manusia. Kesalahan yang dilakukan berulang-ulang perlahan kehilangan wajah kesalahannya. Mula-mula dibiarkan, kemudian dibiasakan, diwariskan sebagai kewajaran, hingga suatu ketika memperoleh legitimasi. Sebaliknya, sesuatu yang benar dapat disingkirkan hanya karena tidak lagi menguntungkan mereka yang menentukan ukuran kebenaran.
Begitulah manusia mewarnai kenyataan.

Seekor anjing, misalnya, dapat dipandang hina hanya karena manusia gagal membedakan ketentuan mengenai kesucian ritual dengan nilai keberadaan makhluk itu sendiri. Penilaian terhadap satu sifat meluas menjadi penghakiman terhadap keseluruhan. Bukankah manusia sering memperlakukan sesamanya dengan cara serupa? Kesalahan seseorang dijadikan identitas yang melekat, seolah manusia tidak memiliki kemungkinan untuk belajar dan berubah.

Sejarah menyimpan paradoks yang lebih mengusik. Manusia mengenal ajaran cinta kasih, keadilan, dan kemanusiaan. Namun, pengetahuan yang sama tidak selalu mencegahnya melakukan penindasan. Bahkan mereka yang pernah berjuang melawan ketidakadilan dapat mengulanginya ketika kekuasaan berpindah ke tangan mereka.

Aristoteles telah membicarakan persoalan akrasia: manusia dapat bertindak bertentangan dengan penilaian terbaiknya sendiri. Berabad-abad kemudian, persoalan itu belum kehilangan relevansinya. Kita semakin pandai menjelaskan kebaikan, tetapi belum tentu semakin bersedia melakukannya.

Mungkin karena akal tidak selalu bekerja untuk mencari kebenaran. Dalam keadaan tertentu, ia justru sibuk menciptakan pembenaran bagi kepentingan, ketakutan, dan ambisi pemiliknya.

Di situlah warna menjadi persoalan. Kekuasaan dapat membuat satu penafsiran tampak mutlak. Kebiasaan dapat membuat kekeliruan terasa alamiah. Pendidikan pun dapat kehilangan maknanya apabila hanya menghasilkan manusia yang cerdas menghitung keuntungan, tetapi tidak terlatih mempertanyakan akibat perbuatannya.

Lalu apa yang sesungguhnya gagal diwariskan oleh peradaban: pengetahuan, atau kesadaran untuk menggunakan pengetahuan itu secara bertanggung jawab?

Saya teringat bahasa ibu. Bukan semata bahasa yang diucapkan seorang perempuan kepada anaknya, melainkan metafora tentang pengalaman pertama manusia mengenal pemeliharaan, kepekaan, dan cinta kasih. Bahasa yang sering hadir tanpa kalimat: melalui tatapan, sentuhan, dan kesediaan menjaga kehidupan.

Barangkali manusia tidak benar-benar kehilangan kemampuan mencintai. Ia hanya semakin terampil mengabaikannya, bahkan ketika akalnya mengetahui akibat dari pengabaian tersebut.

Kanvas kehidupan tidak pernah kekurangan warna. Manusialah yang memilih warna mana hendak digoreskan, mana hendak ditutupi, dan mana yang sengaja dihapus dari ingatan.

Yang menggelisahkan saya bukanlah banyaknya perbedaan warna dalam pikiran manusia, melainkan ketika sebuah warna dipaksakan sebagai kebenaran, sementara penderitaan yang ditimbulkannya dianggap tidak pernah ada.

Betapa ironisnya, manusia mampu mewariskan pengetahuan tentang kesalahan selama berabad-abad, tetapi masih harus belajar untuk tidak mengulanginya.

Seni kesadaran
Sosial & Budaya

Penulis: Gatot Sultan
Editor: Redaksi