BERITA TERKINIHEADLINEMATTA OPINI

Ketika Manusia Kehilangan Manusia

×

Ketika Manusia Kehilangan Manusia

Sebarkan artikel ini

Oleh: Gatot Sugiharto

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Di sebuah ruang rapat, penderitaan manusia terkadang cukup diwakili satu kata ‘terdampak’.

Istilah itu memang diperlukan. Tetapi setelah rapat selesai, ada keluarga yang masih memikirkan biaya berobat, anak-anak yang terganggu kesehatannya, dan orang-orang yang kehilangan penghidupan. Hidup mereka tidak serta-merta membaik hanya karena persoalannya telah dibicarakan.

Saya sering bertanya, kapan sebenarnya manusia mulai kehilangan kepekaannya terhadap manusia lain?

Mungkin bukan karena kita tidak peduli. Bisa jadi karena terlalu lama terbiasa melihat kehidupan dari kejauhan. Kita mendengar persoalan, membicarakan penyelesaian, tetapi jarang benar-benar mendengarkan manusia yang mengalaminya.

Kebiasaan semacam itu rupanya tidak hanya terjadi dalam kehidupan sosial.

Di rumah, seorang ayah merasa telah memberikan segalanya, sementara anaknya hanya berharap didengarkan. Keduanya saling menyayangi. Tidak ada yang berniat menyakiti. Tetapi ada sesuatu yang hilang di antara mereka, dan sering kali tak seorang pun tahu bagaimana memulainya kembali.

Begitu pula hubungan kita dengan alam. Sungai, hutan, tanah, bahkan udara, semakin sering dipandang berdasarkan nilai ekonominya. Kita memahami manfaatnya, tetapi belum tentu menghormati kehidupan yang bergantung padanya.

Anehnya, semua berlangsung ketika manusia semakin cerdas.

Barangkali persoalan peradaban kita bukan kekurangan ilmu pengetahuan, melainkan semakin renggangnya hubungan antara pengetahuan dan nurani.

Yang lebih mengusik, sesuatu yang keliru jika terus dibiarkan bisa berubah menjadi kebiasaan. Lama-kelamaan terasa wajar. Anak-anak menyaksikannya, tumbuh bersamanya, lalu mewarisinya sebagai cara hidup.

Kita menyebut diri berbudaya, berbicara tentang Tuhan dan cinta kasih. Namun terkadang masih kesulitan menghargai kehidupan yang paling dekat dengan kita.

Tentu mudah menunjuk kesalahan orang lain. Saya pun tidak yakin kita sepenuhnya terbebas dari kebiasaan yang sama.

Karena itu, cinta kasih tidak cukup hanya dengan bersikap lembut. Ada saatnya kita harus berani mengingatkan, menolak ketidakadilan, bahkan mengakui kesalahan sendiri. Bukan karena membenci manusia, tetapi justru karena kehidupan manusia terlalu berharga untuk dibiarkan terluka.

Saya tidak tahu sejak kapan kehilangan itu bermula.

Tetapi ada sesuatu yang patut kita renungkan bersama.

Jangan-jangan manusia tidak sedang kehilangan kemanusiaannya secara tiba-tiba. Kita justru sedang membiasakan kehilangan itu, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya tidak lagi merasa ada yang hilang.

Lalu, apa sesungguhnya yang sedang kita wariskan kepada anak-anak kita?

Penulis: Gatot Sultan
Editor: Redaksi