BERITA TERKINI

Begini Cara SMPN 10 Prabumulih Modifikasi Teknik Belajar Daring dan Luring

×

Begini Cara SMPN 10 Prabumulih Modifikasi Teknik Belajar Daring dan Luring

Sebarkan artikel ini
Foto: Eka Cahyadi Purwanto SE MSi bersama guru IPA di SMPN 10 Prabumulih focus pada HP saat melaksanakan PJJ

Reporter: EP

PRABUMULIH,Mattanews.co – Badai pandemi viru corona mempengaruhi semua sektor di dunia, sektor Pendidikan pun saat ini gonjang ganjing menemukan formula baru dalam mengajar dan menyampaikan materi agar target kurikulum dapat tercapai meski di masa pandemi.

Apalagi di Kota Prabumulih, yang sempat memasuki zona hijau, namun kini beralih lagi ke zona orange membuat para orang tua bahkan Pemerintah sendiri harus secara intens memberikan informasi terbaru terhadap kebijakan yang harus dijalankan dan diikuti oleh pihak sekolah, selain mengacu kepada Aturan dari Pemerintah Pusat.

Sejak masuk tahun ajaran baru, Satuan Pendidikan di Kota Prabumulih, terkhusus SMA dan SMP sempat melakukan pertemuan tatap muka, dalam rangka melakukan sosialisasi terbatas khusus untuk siswa baru, namun hal ini terpaksa harus dihentikan karena perubahan zona Kota Prabumulih, dari sebelumnya sudah masuk Hijau berubah menjadi kuning, lalu saat ini Orange.

Sejak itu, para guru kembali melaksanakan persiapan semaksimal mungkin untuk melakukan pembelajaran dari jarak jauh (PJJ), baik melalui luar jaringan (Luring) ataupun dalam jaringan (Daring). para guru yang harus berjuang mencerdaskan anak bangsa di tengah pandemi virus Corona, di Kota Prabumulih.

Seorang guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  SMPN 10 Prabumulih, Eka Cahyadi Purwanto SE, M.Si, menuturkan dirinya sudah mencoba beberapa aplikasi untuk dapat menyesuaikan kepada seluruh siswa dan orang tua agar dapat mengikuti PJJ, mulai dari aplikasi yang paling mudah hingga aplikasi yang sering digunakan webinar tingkat Nasional, seperti Whatsapp, google class room, google form hingga zoom meeting dan telpon biasa.

“Semua ada min plusnya,” ujar Eka yang juga Wakil Kepala Sekolah SMPN 10 Bidang Sarana ini, Senin (27/07/2020).

Di ruangan berwarna cream dan merah itu, ia menjelaskan untuk sementara ini pihak sekolah atau tenaga pengajar memilih aplikasi paling sedikit kendalanya, yaitu whtasapp yang dikombinasikan dengan google form, dan solusi terakhir PJJ adalah melalui telpon, agar siswa tidak ketinggalan pembelajaran

Warga Perumahan Pangkul Jawa Kecamatan Cambai ini mengakui, sangat banyak suka duka dalam melaksanakan PJJ, kurang lebih selama empat bulan ini, diakuinya sukanya atau positifnya dalam penerapan PJJ ini, hanya rekap nilai dan absensi yang lebih mudah.

Namun jika memang diminta harus memilih, dikatakan Eka, ia tentu memilih pembelajaran tatap muka langsung, “Itu lebih efektif dalam penyampaian materi,” ucapnya, sambil sesekali memantau belajar murid lewat androidnya.

Beber ayah tiga anak ini, whatssapp merupakan salah satu aplikasi yang digunakan untuk mengirim materi yang sudah di design sesederhana mungkin menggunakan aplikasi power point, hingga tugas yang juga dikirimkan melalui whatsapp.

Pihaknya sudah mencoba beberapa aplikasi yang biasa digunakan, dan yang efektif untuk pelaksanakan PJJ ditengah pandemi adalah whatsapp, Karena sebagian besar semuanya memiliki, sedangkan aplikasi lain ada yang HP orang tua tidak support.

Sedangkan untuk siswa yang orang tuanya tidak memiliki HP, pihak sekolah memiliki kebijakan dengan memberikan tugas kepada guru untuk bertanggung jawab atas siswa yang tidak memiliki sarana tersebut.

Beberapa solusi yang ditawarkan di sekolah ini, diantaranya adalah gabungan dengan teman lain yang bertetangga, karena ada yang namanya tutor sebaya, ini bisa juga menjadi solusi, atau melalui HP keluarga jauh.

Dengan ada perwakilan guru untuk mewakili siswa yang ada ditempat tinggal siswa dapat memberikan kemudahan para siswa untuk mendapatkan berbagai informasi baik dari guru mata pelajaran maupun dari Sekolah.

Diakhir perbincangan pria pemilik postur tubuh tinggi ini, mengatakan sebenarnya PJJ memang kurang efektif daripada tatap muka, namun hal ini tetap lebih baik. Berada ditengah pandemi memberikan peluang kepada para guru untuk benar-benar bekerja dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang guru yang harus mencerdaskan peserta didiknya.

Editor: Fly