Reporter : Anang
PALEMBANG, Mattanews.co – Danrem 044/Garuda Dempo Brigjen TNI Jauhari Agus Suraji memaparkan ada banyak kendala yang ditemukan tim pemadaman karhutla di lapangan
Kendala tersebut yang membuat kebakaran lahan di sejumlah wilayah semakin luas. Kendala yang ditemukan dilapangan diantaranya area lokasi lahan terbakar sulit diakses.
Contohnya kebakaran di Lais, Musi Banyuasin, dimana lahan terbakar berada di lahan mineral namun untuk menjangkaunya harus melalui lahan gambut yang penuh dengan semak belukar dan sungai.
“Kendala kita memang akses ke lokasi terbakar yang sulit dijangkau. Karena itu pemadaman dilakukan maksimal dengan waterbombing menggunakan helikopter. Meski harus dilakukan berhari-hari dan dibom air secara berulang, namun memang cukup sulit memadamkan karhutla,” jelasnya.
Kendala lain yang ditemukan yakni ketersediaan air yang mulai berkurang, serta angin kencang di wilayah Sumsel. Dengan begitu, api cepat merambat, terutama di area yang materialnya sudah kering seperti ranting pohon dan semak belukar.
“Biasanya kan kebakaran lahan terjadi di OKI, Musi Banyuasin yang semuanya dominasi lahan gambut, namun kondisinya saat ini lahan gambut masih basah. Sehingga lebih banyak terbakar di lahan mineral karena memang materialnya banyak sudah kering,” jelasnya.
Ia mengatakan, upaya untuk meminimalisir karhutla juga dilakukan dengan teknik modifikasi cuaca sehingga bisa tercipta hujan buatan. Karena itu juga, saat ini sudah standby dan beroperasi 14 armada helikopter dan pesawat. Baik dipergunakan untuk patroli, waterbombing maupun hujan buatan.
Untuk memaksimalkan upaya pencegahan karhutla, pihaknya juga masif melakukan sosialisasi kepada masyarakat hingga tingkat desa untuk tidak membakar lahan dengan tujuan apapun. Bahkan Jauhari sudah mengeluarkan kebijakan untuk jajaran dibawahnya seperti Dandim hingga Babinsa untuk tidak meninggalkan tempat selama musim kemarau yang berpotensi terjadi karhutla.
“Saya sudah perintahkan ke Dandim, Danramil hingga Babinsa untuk tidak boleh pulang sebelum karhutla padam tuntas. Ini penekanan awal dari saya, kami juga meminta mereka untuk terus menyosialisasikan kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar,” jelasnya.
Bersama Polri, Pemda, Manggala Agni dan sebagainya, juga masif dan aktif memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Namun diakui Jauhari, kebiasaan dan budaya masyarakat membuka lahan dengan cara dibakar masih terjadi.
“Sudah banyak masyarakat yang membakar lahan di Sumsel diproses oleh Polda Sumsel,” jelasnya.
Jauhari mengatakan, untuk musim kemarau tahun ini, pihaknya sudah menyiagakan dan menyebar 2.330 kekuatan personil. Penempatannya menyebar di daerah rawan karhutla. “Jika kebakaran lahan kian meluas, kami pun akan menambah kekuatan,” pungkasnya.
Editor : Chitet














