MATTANEWS.CO, MALANG — Museum Panji Malang menyimpan sebuah Al-Qur’an tua asal Banda Aceh yang tercatat menggunakan kertas Eropa.
Koleksi bernomor inventaris 109 tersebut menjadi salah satu artefak yang merekam perjalanan sejarah Islam sekaligus perkembangan tradisi tulis di Nusantara.
Pemerhati budaya Malang sekaligus pengelola Museum Panji, Dwi Cahyono, mengatakan manuskrip tersebut merupakan hibah dari Kerajaan Aceh dan memiliki keterkaitan dengan sejarah Kesultanan Aceh Darussalam.
“Ini salah satu koleksi yang ada di Museum Panji. Ini hibah dari Kerajaan Aceh,” ujar Dwi saat menjelaskan koleksi tersebut, Minggu (6/9/2026).
Berdasarkan informasi pada papan koleksi, Al-Qur’an tersebut berasal dari Aceh, Banda Aceh, dan dikaitkan dengan periode Sultan Mahmud Syah sekitar 1760 Masehi.
Namun, pencantuman periode tersebut tidak serta-merta menjadi kepastian tahun penulisan manuskrip. Penentuan usia secara lebih presisi memerlukan kajian kodikologi, paleografi, serta pemeriksaan material.
Penggunaan kertas Eropa menjadi bagian menarik dari manuskrip tersebut. Material ini dapat menjadi petunjuk mengenai adanya jaringan perdagangan dan pertukaran barang antarkawasan yang telah berlangsung di Nusantara pada masa lalu.
Dalam konteks sejarah, Aceh merupakan salah satu pusat penting perkembangan Islam, perdagangan, dan tradisi keilmuan di kawasan barat Nusantara.
Manuskrip Al-Qur’an menjadi salah satu jejak material yang dapat membantu melihat perkembangan tradisi keagamaan dan budaya tulis masyarakat Aceh.
Kehadiran manuskrip tersebut di Museum Panji juga memperlihatkan perjalanan warisan budaya dari Aceh hingga Malang.
Koleksi itu memperkaya perspektif pengunjung bahwa sejarah Nusantara dibentuk oleh hubungan antardaerah, pertukaran pengetahuan, serta perjalanan budaya lintas wilayah.
Dwi menilai museum tidak hanya berfungsi menyimpan benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran masyarakat.
Melalui Al-Qur’an tua tersebut, pengunjung dapat mengenal perkembangan Islam, tradisi manuskrip, penggunaan material tulis, hingga jaringan budaya yang menghubungkan berbagai wilayah Nusantara.
Koleksi tersebut pada akhirnya menjadi pengingat bahwa sebuah artefak dapat membawa jejak panjang perjalanan peradaban dari Aceh hingga Malang dan tetap memiliki nilai pengetahuan bagi generasi masa kini.














