BERITA TERKINIHEADLINENUSANTARAPEMERINTAHAN

Bara Api Belum Padam, Enam Hektare TPA Supit Urang Masih dalam Penanganan

×

Bara Api Belum Padam, Enam Hektare TPA Supit Urang Masih dalam Penanganan

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, MALANG – Dua belas hari sejak kebakaran melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang, petugas gabungan masih berjibaku mengatasi sumber panas yang tertinggal di dalam timbunan sampah. Meski sebagian besar kawasan mulai terkendali, ancaman kebakaran belum sepenuhnya hilang.

Persoalan utama kini berada di bawah permukaan. Timbunan sampah dengan ketebalan mencapai sekitar 30 meter menyimpan bara yang sewaktu-waktu dapat memunculkan kembali api.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran M., M.AP., mengungkapkan bahwa petugas masih memusatkan perhatian pada enam hektare kawasan terdampak. Rinciannya, empat hektare berada di area old landfill dan dua hektare lainnya di new landfill.

Dari keseluruhan lahan yang terbakar seluas kurang lebih 13 hektare, sekitar 60 persen telah berhasil dikendalikan. Namun, petugas masih harus menangani 40 persen area lainnya melalui pembasahan dan pendinginan secara intensif.

Raymond menjelaskan, munculnya kembali api menjadi salah satu risiko yang harus diantisipasi. Suhu panas yang tersimpan dalam tumpukan sampah dapat memicu bara kembali menyala, terutama ketika kondisi temperatur berubah pada malam hari.

“Posisi sekarang memang sedang dilakukan pembasahan. Pada waktu siang, panasnya menguap, tetapi pada malam hari apinya bisa keluar lagi. Titik api memang tidak banyak, tetapi lokasinya berjauhan. Kalau tidak segera ditangani, bara tersebut berpotensi menambah titik api baru, baik di old landfill maupun new landfill,” ungkap Raymond, Senin (2/11/2026).

Ia menilai perkembangan pemadaman mulai menunjukkan hasil. Kendati demikian, petugas belum dapat menghentikan operasi karena asap masih muncul di beberapa bagian kawasan.

Enam hektare yang masih menjadi prioritas tersebut membutuhkan penanganan berbeda sesuai kondisi lapangan. DLH terus memantau penyebaran titik panas agar bara tidak berkembang menjadi sumber kebakaran baru.

“Kalau dihitung dari total area yang terbakar sekitar 13 hektare, sekarang masih tersisa kurang lebih enam hektare yang harus kami tangani. Empat hektare di old landfill dan dua hektare di new landfill. Sekitar 60 persen sudah bisa dikondisikan, tetapi sisanya masih membutuhkan penanganan,” jelasnya.

Kedalaman Timbunan Jadi Kendala Utama

Kebakaran di kawasan landfill memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Api tidak hanya membakar material di permukaan, tetapi juga dapat menjalar ke lapisan sampah yang lebih dalam.

Karakter tersebut membuat penyiraman dari atas belum cukup untuk mengakhiri kebakaran. Petugas harus menurunkan temperatur hingga ke bagian terdalam agar bara tidak kembali menyala.

Raymond menegaskan, kondisi TPA baru dapat dinyatakan aman setelah asap benar-benar berhenti keluar dari timbunan. Selama tanda tersebut masih terlihat, proses pendinginan harus terus berlanjut.

“Api ini keluar dari dalam sampah. Proses pendinginannya harus sampai ke bawah. Dengan kondisi seperti itu, belum bisa dianggap aman meskipun bagian permukaannya terlihat terkendali. Bisa dipastikan aman apabila asap sudah tidak keluar lagi. Saat ini, asap masih terlihat di empat hektare old landfill dan dua hektare new landfill,” tegas Raymond.

Untuk menjaga efektivitas operasi, petugas gabungan menjalankan pembasahan sejak pukul 07.30 WIB hingga sore hari. DLH juga membagi personel menjadi dua shift agar pengawasan dan penanganan tetap berjalan sesuai kebutuhan.

Tidak hanya mengatur pembagian waktu, tim turut mengevaluasi pola pergerakan di lapangan. Penyisiran yang sebelumnya berlangsung dari timur ke barat kini berubah dengan memulai penanganan dari arah barat menuju timur.

Pergeseran arah tersebut bertujuan memperluas jangkauan petugas terhadap titik-titik panas yang tersebar. Dengan demikian, setiap bagian kawasan dapat memperoleh penanganan secara lebih terukur.

Kawasan Tebing Selatan Butuh Penanganan Khusus

Selain kedalaman timbunan, kondisi geografis TPA juga menjadi tantangan tersendiri. Kawasan selatan memiliki kontur tebing yang menyulitkan akses kendaraan pemadam dan alat berat.

Untuk menjangkau area tersebut, dukungan helikopter water bombing dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur masih dibutuhkan. Pemadaman udara membantu petugas menangani lokasi yang berisiko apabila dijangkau melalui jalur darat.

Pada saat bersamaan, DLH menyiapkan tambahan pompa untuk memperkuat distribusi air. Tim merencanakan pengambilan air dari sungai di sisi selatan, tidak jauh dari titik awal kebakaran.

“Water bombing masih ada bantuan dari provinsi melalui gubernur. Untuk penanganan lebih detail, kami juga menyiapkan peralatan tambahan seperti pompa air. Air akan diambil dari sungai di sisi selatan, dekat titik awal kebakaran, kemudian dipompa menggunakan dua kali pompa untuk penyiraman di kawasan tebing,” terangnya.

Raymond mengatakan, kemiringan timbunan di kawasan selatan berpotensi menimbulkan longsor. Karena itu, petugas tidak bisa sembarangan membuka akses atau mengerahkan alat berat ke lokasi tersebut.

DLH memilih mengutamakan keselamatan personel dalam menentukan langkah penanganan. Risiko tertimbun material sampah menjadi pertimbangan serius sebelum petugas memasuki kawasan dengan kondisi lereng yang tidak stabil.

“Lokasi sisi selatan cukup sulit dijangkau. Kami membutuhkan teknik dan peralatan khusus. Water bombing masih diperlukan untuk lokasi tebing tinggi tersebut. Tidak mungkin teman-teman dipaksakan masuk karena kondisi tumpukan sampahnya miring. Kalau sampai terbelah atau longsor, materialnya bisa menimpa petugas di lokasi,” paparnya.

Injeksi Air untuk Menjangkau Bara di Lapisan Bawah

Curah hujan tinggi tidak serta-merta menyelesaikan kebakaran di TPA Supit Urang. Air hujan hanya membasahi bagian yang terjangkau, sedangkan sumber panas masih berpotensi bertahan di lapisan terdalam.

Raymond menjelaskan bahwa kebakaran landfill berbeda dengan kebakaran hutan. Api pada kebakaran hutan umumnya menjalar melalui vegetasi di atas tanah. Sebaliknya, kebakaran di TPA dapat merambat ke dalam tumpukan material sampah.

Dengan ketebalan mencapai sekitar 30 meter, proses pemadaman membutuhkan metode yang mampu menjangkau sumber panas di bawah permukaan. Salah satu upaya yang terus dilakukan ialah penyiraman menggunakan sistem injeksi air.

“Ini berbeda dengan kebakaran hutan. Kalau hutan, kebakarannya berada di atas tanah. Sedangkan di TPA, posisi api masuk ke bawah timbunan sampah yang ketebalannya kurang lebih 30 meter. Makanya penyiraman dengan sistem injeksi air yang dilakukan teman-teman BPBD bersama tim terkait akan terus dilakukan,” ungkapnya, Senin (2/11/2026).

Melalui metode tersebut, petugas berupaya memasukkan air ke bagian timbunan yang tidak dapat dijangkau penyiraman konvensional. Langkah ini penting untuk menekan suhu sekaligus mencegah bara kembali berkembang.

DLH juga menyiapkan tahapan penanganan lanjutan melalui pengerukan material sampah. Setelah itu, petugas berencana menggunakan tanah urug maupun sirtu (pasir batu) untuk menutup area yang membutuhkan penanganan.

Metode tersebut diharapkan dapat membantu membuka lapisan yang menyimpan panas sekaligus mengisolasi bagian yang telah ditangani.

“Berikutnya akan diproses pengerukan tanah maupun sirtu. Mudah-mudahan minggu ini sudah dilakukan pengerukan tanah atau sirtu di lokasi tersebut,” imbuh Raymond.

178 Kali Penerbangan Water Bombing, Operasi Libatkan Banyak Armada

Skala kebakaran yang melanda TPA Supit Urang menuntut keterlibatan berbagai unsur penanganan. Laporan BPBD Kota Malang untuk periode 21–30 Oktober 2026 mencatat, operasi pemadaman berlangsung melalui kombinasi pengerahan personel, kendaraan, alat berat, dan dukungan udara.

Selama operasi, petugas menggunakan mobil pemadam kebakaran, mobil tangki air, serta water cannon. Mereka juga mengerahkan excavator, bulldozer, dan dump truck untuk membongkar serta memindahkan timbunan sampah.

Dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui helikopter water bombing turut memperkuat upaya pemadaman. Dalam catatan BPBD, helikopter tersebut telah melaksanakan 178 kali penerbangan untuk menjatuhkan air pada 25–29 Oktober 2026.

Meski berbagai sumber daya telah dikerahkan, kondisi lapangan masih menyulitkan petugas. Ketebalan sampah, sebaran titik panas, keterbatasan air, angin kencang, serta medan yang tidak stabil memperpanjang proses pemadaman.

Kebakaran juga menimbulkan dampak terhadap sejumlah infrastruktur pengelolaan sampah. DLH mencatat kerusakan pipa lindi akibat paparan panas dan kerusakan lapisan permukaan landfill.

Sistem drainase serta sejumlah fasilitas pendukung lainnya juga berpotensi mengalami gangguan. Kondisi tersebut menambah pekerjaan pemulihan setelah operasi pemadaman selesai.

Dampak lainnya menyangkut kualitas lingkungan di sekitar kawasan TPA. Asap dan bau menyengat berpotensi mengganggu masyarakat, terutama melalui risiko ISPA, iritasi mata, serta gangguan tenggorokan.

Aktivitas pengelolaan sampah pun ikut terdampak. Sebagian kawasan masih digunakan untuk operasi pemadaman dan pemulihan sehingga pengelola harus menyesuaikan kegiatan penimbunan sampah.

DLH Fokus Pastikan Tidak Ada Bara yang Tersisa

Memasuki hari ke-12, DLH Kota Malang masih memprioritaskan penghilangan sumber panas di seluruh area terdampak. Raymond menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin terburu-buru menyatakan kebakaran selesai hanya karena kobaran api tidak lagi terlihat.

Menurutnya, keberhasilan pemadaman harus diukur dari kondisi bagian dalam timbunan. Petugas harus memastikan suhu telah turun dan asap tidak lagi muncul dari kawasan yang sebelumnya terbakar.

Karena itu, pembasahan, injeksi air, serta pemantauan titik panas tetap menjadi bagian penting dari operasi. DLH juga terus memperhatikan keselamatan petugas, terutama ketika menangani kawasan dengan kondisi geografis berisiko.

“Penanganan tetap kami lakukan secara bertahap. Yang terpenting sekarang bagaimana titik panas di dalam timbunan bisa benar-benar didinginkan. Kami tidak ingin hanya terlihat padam di permukaan, tetapi ternyata bara masih tersimpan di bawah dan kembali memunculkan kebakaran,” pungkas Raymond.

Penulis: M Solikin
Editor: Selfy