BERITA TERKINI

Belajar Tatap Muka, Siswa Bahagia Orang Tua Dilema

×

Belajar Tatap Muka, Siswa Bahagia Orang Tua Dilema

Sebarkan artikel ini
Sekolah tatap muka di Ciamis.
Sekolah tatap muka di Ciamis.

MATTANEWS.CO, CIAMIS – Para pelajar di Kabupaten Ciamis Jawa Barat sumringah saat mulai masuk sekolah dengan metode Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Masa percobaan PTM tersebut tengah dilakukan di Ciamis. Di sisi lain, Rini Kusrini Ibunda Kirana Maharani khawatir jika anaknya melakukan kontak langsung dengan orang lain, terlebih Covid-19 tetaplah menjadi momok bagi masyarakat.

Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Ciamis, sejak Senin (19/04/2021) telah mengeluarkan kebijakan PTM meski masa percobaan untuk Sekolah Dasar (SD) Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat.

Kebahagian terpancar dari Kirana Maharani, siswi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Sindangkasih, karena kini ia dapat bertemu dan belajar secara langsung bersama teman-temannya. Maklum, Kirana adalah siswi baru kelas 1 (satu) yang belum pernah bertemu lagi teman sekelasnya semenjak mendaftar di sekolah.

Meski terlihat gugup, Kirana bersama teman-temannya tetap nampak menikmati pembelajaran saat di Sekolah. Hingga pertanyaanpun mulai diutarakan Kirana, bolehkah dia bemain dengan teman-teman sekelas?. Kekhawatiran mulai muncul dari Ibundanya, karena menurutnya anak-anak belum terlalu paham dengan bagaimana itu jaga jarak sesuai protokol kesehatan.

Sehari sebelum bersekolah, Ibunda Kirana sejak mendapat kabar akan belajar tatap muka di sekolah, Kirana meminta Ibunya untuk menyiapkan perlengkapan sekolah. Mulai dari mempersiapkan seragam, tas dan alat tulis, hingga botol minuman karakter berbentuk Dora.

“Anaku kelihatan senang sekali. Dia semangat mau sekolah, tapi malah aku yang hawatir,” ujar Rini saat diwawancara Selasa, (20/04/2021).

Kebijakan pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Disdik dimulai pada hari Senin, uji coba PTM dilaksanakan denga sistem bagi sift (masuk bergilir). Kebijakan tatap muka terbatas ini tidak juga dipaksakan kepada pihak sekolah maupun orang tua/wali murid. Sebab, wali murid lebih dahulu membuat surat pernyataan bila mengizinkan anaknya untuk belajar tatap muka di sekolah walaupun dalam situasi Covid-19.

“Aku berfikir positive aja, mungkin pemerintah Kabupaten Ciamis sudah memprediksi bahwa covid sudah mulai aman di Ciamis,” ungkap Rini.

Mematuhi protokol kesehatan ditekankan juga oleh Disdik Ciamis. Penyelenggaraan pembelajaran harus sesuai protokol kesehatan, yakni mengatur tempat duduk dengan jarak, memakai masker dan mencuci tangan dengan sabun. Selain itu, tenaga pengajar pun harus sudah divaksin terlebih dahulu.

Kebijakan tersebut juga diujicoba, hal ini karena kesadaran orang tua juga belum sepenuhnya ada. Belajar Dari Rumah (BDR), dengan membuat kelompok-kelompok belajar siswa tidak maksimal, dikarenakan kunjungan guru ke rumah siswa terkadang siswa dan orang tua tidak berada di tempat.

Bak gayung bersambut, kebijakan itupun telah mendapat restu dari Tim Satgas Covid-19 Ciamis, dan Disdik akan terus memantau kegiatan itu sembari melakukan evaluasi. Sebab, siswa juga perlu dikenalkan dengan lingkungan sekolah dengan suasana baru ditengah pandemi.

Kepala Disdik Ciamis Asep Saeful Rahmat mengatakan hari pertama ujicoba, digelar di sekolah yang melaksanakan ketentuan sesuai protokol kesehatan. Menurut data yang dihimpun darinya, untuk tingkat SD ada sekitar 744 sekolah sudah melaksanakan ujicoba PTM.

“Untuk tingkat SD memang banyak, karena sebagian besar guru SD sudah divaksin, ada 80 persen,” kata Asep.

Sedangkan, para orang tua sendiri masih dilematis. antara mengantarkan anak-anaknya itu masuk kelas, atau masih dengan sistem daring. Karena orang tua diberikan pilihan apakah anaknya masuk kelas PTM atau BDM.

Di sisi lain juga memang disadari, pertemuan tatap muka antara guru dan siswa perlu dilakukan, untuk membangun hubungan emosional antara guru dan siswa itu sangat penting demi perkembangan akademik anak. Kami sudah paham dengan protokol kesehatan dan sudah sering dibiasakan kepada anggota keluarga. Tapi, apakah protokol ini bisa dijalankan dalam lingkungan sekolah?, sebab namanya anak-anak kebiasaan baru ini butuh cara yang lebih tepat untuk dilakukan.

Selanjutnya, untuk jenjang sekolah menengah pertama (SMP/Mts) ada 23 sekolah 20 SMP dan 3 MTs. Sedangkan tingkat SMA  ada empat sekolah, kemudian Madrasah Aliyah ada lima sekolah.

“Kalau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak ada yang menggelar PTM,”tambah Asep. Antusias para siswa sangat tinggi saat mengikuti pembelajaran, meskipun cara pembelajaran diatur secara bergiliran.