MATTANEWS.CO, MEMPAWAH – Saat meninjau progres pembangunan rumah milik Rahmad Sabli di Desa Sungai Purun Kecil, Dansatgas TMMD Ke-124 Letkol Inf Benu Supriyantoko tampak tersenyum melihat warga yang antusias membantu mengaci dinding rumah.
Ia mengapresiasi keterlibatan masyarakat yang menurutnya menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih mengakar kuat di desa ini.
“Pemandangan seperti ini sangat membanggakan. Warga ikut turun tangan, tidak hanya menonton. Ini yang kami harapkan dari pelaksanaan TMMD, keterlibatan aktif semua elemen,” ujar Letkol Benu.
Menurutnya, partisipasi masyarakat sangat menentukan keberhasilan program TMMD. Apalagi rumah milik Rahmad Sabli merupakan simbol kepedulian bersama terhadap kebutuhan warga yang kurang mampu.
Dengan warga terlibat langsung, pekerjaan terasa lebih ringan dan kebersamaan semakin terasa.
“Kami mungkin yang memulai, tapi warga yang menyempurnakan dengan kerja keras dan ketulusan,” tambah Dansatgas.
Ia pun berharap semangat ini terus tumbuh pasca TMMD.
“Kalau semangat gotong royong ini dijaga, saya yakin Desa Sungai Purun Kecil akan semakin maju dan mandiri,” tuturnya.
Zakaria tak pernah menyangka akan dipuji langsung oleh Dansatgas TMMD Ke-124 saat ia sedang mengaci dinding rumah Rahmad Sabli.
Menurutnya, apresiasi dari seorang Komandan Satgas menjadi penyemangat tersendiri bagi masyarakat yang bergotong royong tanpa pamrih.
“Tiba-tiba beliau datang, lihat kami kerja, lalu bilang terima kasih dan sangat mengapresiasi. Rasanya bangga sekali,” ujar Zakaria sambil tersenyum.
Bagi warga, membantu pembangunan RTLH bukan hanya bentuk kepedulian, tapi juga rasa memiliki terhadap program TMMD yang dijalankan di kampung mereka.
“Ini bukan rumah saya, tapi saya merasa ikut bertanggung jawab,” tambahnya.
Ia juga mengaku kagum dengan kedekatan para prajurit TNI yang tidak hanya bekerja, tetapi juga menyatu dengan warga.
“Mereka kerja sama kami, makan sama, istirahat bareng. Rasanya seperti keluarga besar,” ungkapnya.
Ia berharap TMMD terus dilakukan di desa-desa lain yang membutuhkan, karena lebih dari sekadar membangun fisik, TMMD juga membangun solidaritas antarwarga dan prajurit.
Suasana pembangunan rumah layak huni (RTLH) di lokasi TMMD Ke-124 Desa Sungai Purun Kecil menjadi ajang belajar yang berkesan bagi Fikri (17).
Ia mengaku tertarik dan penasaran melihat proses pembangunan yang dilakukan para prajurit. Keingintahuannya membawanya untuk mendekat dan akhirnya terlibat langsung dalam pekerjaan ringan seperti mengaduk semen.
“Awalnya cuma nonton aja, tapi Om TNI ngajak ikut bantu. Saya malah diajari cara aduk semen yang benar, harus pas campurannya, nggak boleh terlalu encer,” ujar Fikri yang kini mengaku lebih menghargai pekerjaan tukang bangunan.
Fikri juga merasa pengalaman ini menjadi bekal yang berguna.
“Siapa tahu suatu saat nanti saya bisa bantu bangun rumah sendiri. Setidaknya sekarang saya ngerti dasar-dasarnya,” tambahnya.
Melihat para prajurit bekerja tanpa lelah dan tetap ramah membuat Fikri dan teman-temannya merasa nyaman.
Ia juga kagum dengan kedisiplinan dan kekompakan Satgas TMMD yang mampu menyelesaikan pembangunan dengan cepat dan rapi.
Program TMMD bukan hanya membangun fisik, tapi juga karakter generasi muda di desa. Dari sebuah campuran semen, tumbuh rasa ingin tahu, semangat gotong royong, dan harapan baru bagi masa depan.
Dibalik kesibukan pembangunan rumah layak huni di Desa Sungai Purun Kecil, Satgas TMMD Ke-124 menemukan hal yang menggembirakan.
Beberapa remaja desa mulai menunjukkan minat dan ikut serta dalam kegiatan pembangunan. Salah satunya adalah Fikri, seorang pemuda yang rajin bertanya dan akhirnya ikut turun tangan, mulai dari mengaduk semen hingga mengangkat ember cor.
Sertu Subagio, salah satu prajurit yang membimbing remaja tersebut, mengaku senang melihat antusiasme mereka.
“Dia datang bukan untuk main, tapi benar-benar ingin belajar. Saya anggap ini hal positif karena mereka jadi tahu bagaimana proses membangun rumah dari awal,” katanya.
Menurut Subagio, proses membangun tidak hanya soal fisik, tapi juga soal kedisiplinan, kerja sama, dan tanggung jawab.
“Kami ajarkan dari hal kecil seperti takaran semen dan air, posisi mengaduk, sampai pentingnya saling membantu. Ini jadi bekal hidup juga buat mereka,” tambahnya.
Ia berharap kehadiran TMMD bisa memantik semangat generasi muda untuk lebih peduli dengan pembangunan desa.
“Kalau remajanya terlibat, artinya semangat gotong royong masih kuat. Itu modal besar untuk masa depan,” ujarnya.
Dari kegiatan sederhana di lapangan, prajurit dan remaja desa saling bertukar pengalaman. Satgas TMMD bukan hanya membangun rumah, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan keterampilan generasi muda desa.














