BERITA TERKININUSANTARATNI DAN POLRI

Di Ujung Kapuas Hulu: Dandim dan Pelajar Putussibau Disatukan Layar KKRI

×

Di Ujung Kapuas Hulu: Dandim dan Pelajar Putussibau Disatukan Layar KKRI

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Rabu pagi, 23 September 2026. Di aula SMAN 1 Putussibau, layar besar menyala. Dari layar itu, suara dari Jakarta terdengar – Grand Launching Ekstrakurikuler KKRI jenjang pendidikan menengah resmi dimulai.

Di barisan depan, seorang perwira dengan loreng lengkap duduk di antara pelajar berseragam putih abu-abu. Ia adalah Dandim 1206 Putussibau Letkol Arm Andreas Prabowo Putro.

Di sampingnya, Pasiter Kapten Arm Supratno, Kepala Dinas Pendidikan Kapuas Hulu Petrus Kusnandi, dan Wakil Kepala Sekolah Mutiyani Djuharsi.

Ini bukan sekadar video conference. Ini adalah pertemuan dua dunia yang sering berjalan terpisah: militer dan sekolah.

Di layar, Jenderal TNI Gabriel Lema berbicara tentang cadangan pertahanan. Lalu Wamendikdasmen Atip Latipulhayat berbicara tentang pendidikan. Dua kutub yang berbeda, tetapi pesannya sama Indonesia butuh generasi yang tidak hanya pintar, tetapi tahan banting.

Putussibau adalah beranda depan Indonesia. Berbatasan langsung dengan Malaysia. Tantangannya tidak sama dengan di Jawa. Di sinilah relevansi KKRI diuji.

“Generasi muda adalah aset dan masa depan bangsa. Karena itu, pembentukan karakter, kedisiplinan dan semangat kebangsaan perlu ditanamkan sejak dini melalui lingkungan pendidikan,” kata Letkol Andreas.

Kalimat itu tidak panjang, tetapi menohok. Di wilayah perbatasan, nasionalisme tidak boleh hanya menjadi jargon.

Bagi Andreas, ekstrakurikuler bukan kegiatan pengisi waktu luang. Ia adalah laboratorium karakter.

“Melalui kegiatan ekstrakurikuler, para siswa diharapkan tidak hanya mampu mengembangkan kemampuan dan bakatnya, tetapi juga memiliki kepercayaan diri, jiwa kepemimpinan serta kepedulian terhadap lingkungan dan sesama,” ujarnya.

Sementara, Petrus Kusnandi mengangguk. Sebagai Kepala Dinas Pendidikan, ia melihat KKRI sebagai antidot di tengah gempuran disrupsi digital.

Di akhir kegiatan, tidak ada upacara berlebihan. Hanya foto bersama dan janji yang belum terucap: bahwa dari sekolah di ujung Kapuas Hulu ini, akan lahir generasi yang tidak hanya tahu cara membuka ponsel pintar, tetapi juga tahu cara menjaga tanah air. (*)

Penulis: Bayu Hary Widodo
Editor: Riki Okta Putra