MATTANEWS.CO, KOTA MALANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim hujan. Salah satu langkah yang kini menjadi perhatian ialah menjaga kelancaran sungai dan drainase melalui Gerakan Angkat Sampah dan Sedimen (GASS).
Gerakan ini mengajak pemerintah dan masyarakat turun langsung membersihkan lingkungan. Mereka menyasar tumpukan sampah, endapan lumpur, hingga pepohonan tumbang yang berpotensi menghambat aliran air. Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah preventif untuk menekan risiko banjir.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond Hotigoran Matondang, mengatakan GASS kali ini menjangkau tiga wilayah kelurahan.
Petugas dan warga menyisir Sungai Mewek yang melintasi Kelurahan Balearjosari dan Arjosari, Kecamatan Blimbing. Mereka juga membersihkan Sungai Muharto di Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang.
Menurutnya, pembersihan sungai menjadi penting karena sejumlah material dapat menghambat aliran air ketika hujan turun. Bahkan, petugas menemukan rumpun bambu tumbang yang mengganggu aliran Sungai Mewek.
“Menjelang musim hujan, biasanya ada sampah yang tersangkut di drainase dan tadi juga ada rumpun pohon bambu yang tumbang ke sungai. Sehingga, perlu dilakukan perapian dan pembersihan agar tidak menghambat aliran dan tidak menyebabkan banjir,” ujar Raymond, Minggu (8/11/2026).
Lebih lanjut, Raymond mengungkapkan bahwa kapasitas sejumlah sungai dan saluran drainase di Kota Malang sebenarnya cukup memadai. Namun, persoalan muncul ketika sampah, sedimentasi, dan tanaman tumbang menutup sebagian jalur aliran air.
Oleh sebeb itu, Pemkot Malang tidak hanya mengandalkan kapasitas infrastruktur. Pemerintah juga perlu menjaga kebersihan dan memastikan air mengalir tanpa hambatan.
Untuk mendukung langkah tersebut, DLH mengajak berbagai unsur terlibat langsung. Kolaborasi ini mencakup perangkat kelurahan, Linmas, pengurus RT/RW, warga, BPBD, kepolisian, serta jajaran Koramil.
Selain membersihkan sungai, Pemkot Malang juga mendorong GASS sebagai gerakan rutin setiap pekan. Setiap kelurahan dapat menentukan waktu dan bentuk kegiatan sesuai kebutuhan lingkungan masing-masing.
Raymond menegaskan bahwa gerakan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto melalui program Indonesia Asri. Pemkot Malang juga siap mendukung pelaksanaan kegiatan dengan menyediakan peralatan, termasuk alat berat dan gergaji mesin.
“Pelaksanaan GASS sendiri digerakkan di seluruh penjuru Kota Malang, di mana tiap kelurahan menggelar kegiatan ini sesuai dengan kondisi dan waktunya masing-masing. Kami juga akan memberikan dukungan penuh mulai dari menyediakan alat berat hingga gergaji mesin untuk memudahkan pembersihan dan pengangkutan sampah,” tuturnya.
Di sisi lain, Camat Blimbing, I Ketut Widi Eka Wirawan, menyoroti tantangan geografis dalam menjaga kebersihan sungai di wilayahnya. Kontur sungai yang curam dan padatnya permukiman di sepanjang sempadan membutuhkan penanganan yang cermat.
Untuk mengatasi kendala tersebut, pihak kecamatan mengandalkan partisipasi warga. Mereka bergotong royong mengangkat sampah dan sedimen secara manual agar tidak menyumbat aliran sungai.
Ketut menilai keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga lingkungan. Terlebih, kondisi geografis di sejumlah titik tidak selalu memungkinkan penggunaan peralatan berat.
“Dengan berbagai keterbatasan, kami maksimalkan sinergi dan gotong royong bersama warga. Kami angkut sampah dan sedimen secara manual agar tidak menghambat aliran sungai,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ketut mengidentifikasi tiga kelurahan di Kecamatan Blimbing yang rawan terdampak banjir. Ketiganya meliputi Kelurahan Purwodadi, Blimbing, dan Purwantoro. Sementara itu, Kelurahan Arjosari umumnya hanya mengalami genangan sesaat.
Selain menggerakkan GASS, Kecamatan Blimbing juga mengoptimalkan program RT Berkelas. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat sekaligus mendorong penanganan persoalan lingkungan dari tingkat wilayah terkecil.
Melalui langkah tersebut, Pemkot Malang ingin membangun pola pencegahan banjir yang melibatkan pemerintah dan masyarakat. Sebab, menjaga kelancaran sungai tidak cukup hanya mengandalkan penanganan ketika banjir terjadi. Kesadaran menjaga kebersihan lingkungan juga harus tumbuh secara berkelanjutan.














