BERITA TERKINIHEADLINEMATTA OPINI

Peradaban yang Kehilangan Arah

×

Peradaban yang Kehilangan Arah

Sebarkan artikel ini

Oleh: Gatot Sugiharto

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Setiap hari ada saja nama baru yang menjadi sasaran. Potongan video beredar, komentar bermunculan, dugaan perlahan berubah menjadi penghakiman. Orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal ikut marah, saling menghina, lalu membenci.

Ketika keributan mulai mereda, muncul cerita baru, wajah baru, sasaran baru. Begitu seterusnya.

Saya tidak tahu sejak kapan kita mulai terbiasa menyaksikan martabat orang lain dipermainkan. Yang menyedihkan, penderitaan seseorang kini bisa menjadi hiburan bagi banyak orang.

Di rumah, kita mengajari anak-anak agar tidak berbohong, tidak menghina, dan menghormati sesama. Namun, melalui layar telepon genggam, mereka justru menyaksikan orang-orang dewasa mempertontonkan hal sebaliknya.

Saya membayangkan seorang anak bertanya kepada ayahnya, “Kalau menghina itu salah, mengapa orang dewasa masih melakukannya?”

Pertanyaan sederhana yang barangkali sulit dijawab, bahkan oleh mereka yang memiliki begitu banyak gelar pendidikan.

Ada sesuatu yang mengusik pikiran saya melihat perjalanan kehidupan manusia belakangan ini.

Kita semakin maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Informasi bergerak begitu cepat, dunia terasa semakin dekat. Namun, kedekatan itu tidak selalu membuat kita semakin memahami perasaan sesama.

Dalam politik, perbedaan pandangan dan kritik terhadap kekuasaan merupakan bagian penting dari demokrasi. Tetapi ketika kepentingan politik dijadikan alasan untuk memfitnah, menghina, atau mengadu domba, kita sedang mempertaruhkan sesuatu yang lebih berharga daripada kemenangan: martabat manusia.

Lebih mengusik lagi ketika perilaku demikian justru dipertontonkan oleh sebagian orang yang berpendidikan tinggi, memiliki jabatan terhormat, atau dikenal memahami ajaran moral dan agama.

Seolah ilmu telah menjadi mahkota, sementara adab yang seharusnya menyertainya tertinggal entah di mana.

Padahal, jauh sebelum berbagai kemajuan modern hadir, leluhur kita telah mewariskan kebijaksanaan tentang menjaga lisan, menghormati sesama, menahan amarah, dan hidup berdampingan.

Tentu masa lalu tidak seluruhnya baik. Namun, tidak semua kebijaksanaan lama harus kita tinggalkan hanya karena zaman telah berubah.

Agama pun mengajarkan kejujuran, keadilan, kesabaran, dan cinta kasih. Nilai-nilai yang begitu mudah kita ucapkan, tetapi terkadang begitu sulit kita hadirkan dalam tindakan.

Barangkali kita terlalu sibuk mempertahankan siapa yang benar, sampai lupa memeriksa apakah cara kita memperjuangkan kebenaran itu sendiri sudah benar.

Kesabaran bukan berarti membiarkan ketidakadilan. Ada saatnya kita harus berani mengatakan bahwa sesuatu itu salah. Tetapi ketegasan tidak harus kehilangan kesantunan. Membela kebenaran tidak memberi kita hak menggunakan kebohongan.

Kegelisahan serupa saya rasakan ketika melihat hubungan manusia dengan alam.

Kita menikmati hasil bumi, tetapi sering abai terhadap luka yang ditinggalkan. Sungai menanggung limbah, udara menanggung asap, hutan kehilangan pepohonannya.

Ketika keuntungan hari ini menjadi ukuran segala sesuatu, kepentingan kehidupan esok begitu mudah disisihkan.

Padahal, ada anak-anak yang belum dilahirkan, yang kelak harus ikut menanggung akibat dari keputusan yang tidak pernah mereka buat.

Dalam persoalan moral maupun ekologi, saya melihat satu kegelisahan yang sama: manusia terkadang begitu pandai memperjuangkan kepentingannya, tetapi lupa mempertimbangkan penderitaan yang ditinggalkan bagi kehidupan lain.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa seluruh manusia telah kehilangan hati nuraninya.

Masih banyak orang yang menjaga kejujuran, membantu tanpa ingin dikenal, memilih berdamai ketika memiliki alasan untuk membalas, dan tetap peduli meskipun kehidupannya sendiri tidak mudah.

Merekalah yang membuat saya percaya bahwa harapan belum hilang.

Saya sendiri pun tidak luput dari kesalahan. Dalam perjalanan hidup, mungkin pernah terlalu cepat menilai, terbawa emosi, atau kurang sabar memahami orang lain.

Sampai hari ini saya masih belajar menjadi manusia yang lebih bijaksana.

Karena itu, tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Saya justru sedang mengajak diri sendiri untuk berkaca, memeriksa kembali sesuatu yang mungkin perlahan kita abaikan: hati nurani.

Saya percaya Tuhan tidak tidur. Setiap perbuatan memiliki pertanggungjawabannya. Namun, keyakinan itu bukan alasan untuk berharap keburukan menimpa orang yang tidak kita sukai. Justru menjadi pengingat agar kita lebih berhati-hati dengan perkataan dan tindakan sendiri.

Bagi saya, cinta kasih bukan kelemahan. Ia tidak berarti membenarkan kesalahan atau berdiam diri menghadapi ketidakadilan. Cinta kasih adalah keberanian untuk memperbaiki sesuatu tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.

Barangkali peradaban kita tidak kekurangan orang pintar. Kita memiliki banyak ilmuwan, pemikir, pemimpin, lembaga pendidikan, dan rumah ibadah.

Tetapi kecerdasan tidak dengan sendirinya melahirkan kebijaksanaan. Pengetahuan tentang kebaikan pun tidak selalu membuat seseorang berbuat baik.

Ada jarak antara apa yang kita ketahui dan apa yang kita lakukan. Jarak itulah yang semestinya terus kita periksa.

Saya masih percaya bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memperbaiki dirinya. Bahwa warisan terbaik bagi generasi mendatang bukan hanya kemajuan teknologi, kekayaan, atau bangunan yang menjulang tinggi.

Melainkan juga keteladanan tentang bagaimana manusia memperlakukan sesamanya, menghormati perbedaan, menjaga alam, dan tetap memelihara cinta kasih.

Mungkin kita tidak mampu memperbaiki seluruh persoalan dunia. Tetapi setidaknya kita masih dapat memulai dari sesuatu yang paling dekat: diri sendiri.

Sebab peradaban tidak hanya dibentuk oleh keputusan besar para penguasa. Ia juga tumbuh dari kebiasaan kecil manusia dalam memperlakukan kehidupan.

Dan sebelum kita terlalu jauh menyalahkan zaman yang berubah, barangkali ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri:

Jika anak-anak yang belum lahir kelak mewarisi cara kita memperlakukan sesama dan bumi hari ini, peradaban seperti apa yang sebenarnya sedang kita tinggalkan untuk mereka?

Penulis: Gatot Sultan
Editor: Redaksi