Reporter : Dewan Richardi
Batanghari, Mattanews.co – Minimnya fasilitas dan sarana prasarana pendidikan bagi Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Batanghari Jambi, ditanggapi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batanghari melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PDK) Kabupaten Batanghari Jambi.
Kepala Dinas (Kadis) PDK Batanghari Jamila mengatakan, pendidikan SAD yang berada di Sungai Terap Kecamatan Batin XXIV Kabupaten Batanghari Jambi bukan diabaikan, namun ada dinas terkait lainnya yang menunjang pendidikan bagi SAD tersebut.
“Kami bukan tidak mau memperhatikan pendidikan untuk komunitas SAD, itu kan sudah ditangani oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Kejari Batanghari,” ujarnya, saat ditulis Selasa (19/11/2019).
Tugas DLH Kabupaten Batanghari sendiri, bertanggungjawab mencari dan memberi tunjangan bagi guru yang akan melakukan proses belajar mengajar (PBM) di daerah tersebut.
Namun hingga sekarang, pihak DLH Kabupaten Batanghari tidak melapor secara fisik kegiatan apa yang dilakukan ke Dinas PDK Kabupaten Batanghari.
“Kita juga bingung apa yang harus dilakukan untuk menanggapi hal tersebut. Sementara menyangkut dinas yang saya pimpin, karena dulu pemkab sudah membicarakan ini melalui rapat dengan pihak terkait,” ungkapnya.
Untuk masalah ini, dia meminta DLH dan Kejari Kabupaten Batanghari Jambi dapat menjalankan apa yang sudah menjadi tanggungjawabnya. Serta melakukan apa yang sudah menjadi program Pemkab Batanghari dalam mensejahterakan pendidikan.
Di tahun 2020 mendatang, Dinas PDK Kabupaten Batanghari akan mendata dan mengutus para guru untuk mengajar di pemukiman SAD tersebut. Namun tetap menggandeng pihak yang sudah ditugaskan Pemkab Batanghari.
“Secepatnya akan survei lapangan. Kami minta Dinas Kesehatan (Dinkes), DLH dan Kejari Kabupaten Batanghari, untuk melakukan dan memastikan program ini. Sehingga anak-anak SAD dapat perhatian dari pemerintahan,” ucapnya.
Sebelumnya, Kader Pendidikan SAD Sungai Terap Kecamatan Batin XXIV Kabupaten Batanghari Jambi Pesiap Bungo mengungkapkan, meraka sangat mendambakan sarana dan prasarana pendidikan, agar anak-anak SAD bisa mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak lainnya.
“Saya dibawa ke Jakarta dalam rangka pelatihan pendidikan dasar untuk mengajari adik – adik di sini. Tapi itu bukan program pemda, namun pemerintah pusat melalui lembaga yang peduli sama kami,” ujarnya.
Dia berharap Pemkab Batanghari agar bisa memperhatikan pendidikan SAD, karena mereka juga layak mendapat perhatian dari pemerintah setempat.
Salah satunya Dinkes Batanghari melalui Puskesmas Durian Luncuk, yang seminggu sekali mendatangi, memeriksa dan memberikan pengobatan graris kepada komunitas SAD.
Editor : Nefri














