MATTANEWS.CO, SIDOARJO – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sidoarjo berkolaborasi bersama Organisasi Jurnalis Online Sidoarjo (JOSS), Komisi D DPRD Sidoarjo, serta 75 perwakilan siswa-siswi dari SMPN 1 Sidoarjo menggelar jumpa pers dengan tema “Klik Cerdas Tanpa Bias: Kolaborasi Kominfo dan Jejaring Pers untuk Menangkal Hoax”.
Kolaborasi Jumpa pers 2025 dihadiri oleh Dinda Bestari dari Diskominfo, Zahlul Yussar dari DPRD Sidoarjo sekretaris komisi D, Joko Susilo, SE adalah Ketua dari organisasi media Jurnalis Online Siber Sidoarjo (JOSS) dan seluruh anggotanya. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis 20 November 2025 di aula SMP Negeri 1 Sidoarjo di Jl. Raya Ponti, Wismasarinadi, Magersari, Kec. Sidoarjo.
Jumpa Pers ini merupakan upaya bersama untuk memperkuat literasi digital masyarakat dalam menangkal hoax khususnya generasi muda, dalam menghadapi arus informasi yang semakin cepat dan komplek. Bagaimana menerima berita informasi dengan bijak dari berbagai sisi, tanpa terpengaruh sebelum tahu kebenarannya.
Dalam sambutannya, perwakilan Diskominfo Sidoarjo menegaskan bahwa tantangan terbesar di era digital bukan hanya banjir informasi, tetapi juga meningkatnya penyebaran hoaks yang dapat memecah belah, menimbulkan keresahan, dan merugikan masyarakat. Melalui kegiatan ini, Diskominfo menekankan pentingnya kemampuan verifikasi informasi, memahami sumber yang kredibel, serta mengedepankan etika dalam bermedia digital.
Sementara itu, Agus Susilo Ketua Organisasi Jurnalis Online Sidoarjo menyampaikan bahwa jurnalis memiliki tanggung jawab moral untuk menyajikan berita yang akurat, berimbang, dan bebas kepentingan.
“Dengan memberikan pelatihan, pendampingan, dan edukasi kepada pelajar, jurnalis berharap para generasi muda semakin terampil memilah informasi dan tidak menjadi bagian dari rantai penyebaran hoax/disinformasi,” ujar Agus Susilo Ketua JOSS.
Zahlul Yussar, S.I.Kom., Sekretaris Komisi D DPRD Sidoarjo juga menegaskan pentingnya bijak dalam bemedia sosial dan komitmennya dalam mendukung kebijakan program literasi digital di sekolah-sekolah. Lingkungan pendidikan dinilai sebagai benteng awal untuk menanamkan sikap kritis, objektif, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi hoax yang disebarkan untuk menyesatkan.
“Sebagai generasi muda kita harus melek informasi dan teknologi karena di era digital ini platform baru bermunculan yang sangat digandrungi oleh generasi saat ini”, ujarnya.
“Dengan mencari informasi baru dari sumber yang lain memungkinkan kita menemukan sumber yang jelas,” imbuhnya.
“Jangan sampai kita diadu domba oleh informasi yang belum tentu kebenarannya, maka dari itu kita harus cerdas dalam membandingkan berita dari berbagai media yang ada dan berimbang,” sambung Yussar.
Bertepatan dengan “Hari Anak Nasional” setiap 20 November, kehadiran murid dari SMPN 1 Sidoarjo memberikan warna tersendiri dalam jumpa pers ini. Para pelajar menjadi contoh generasi yang adaptif terhadap teknologi, namun juga perlu dibekali kecakapan digital agar mampu menggunakan internet secara aman, bertanggung jawab, dan produktif.
Mereka turut menyampaikan pandangan serta pengalaman terkait penyebaran berita palsu di lingkungan mereka dan cara mereka menghadapinya. Acara berlangsung komunikatif.
Arjuna, siswa dari kelas 7a berkesempatan bertanya kepada narasumber, “bagaimana sikap kita jika mendapatkan informasi dari media yang terpercaya namun ternyata beritanya hoax”. Pertanyaan tersebut dijawab oleh Zahlul Yussar, “Cari sumber informasi dari media yang lain dan terpercaya jika terbukti hoax abaikan karena datanya tidak sesuai dengan kenyataan”, jawab Yussar.
Menangkal hoaks bukan hanya tugas pemerintah atau jurnalis, tetapi tanggung jawab bersama. Dengan klik yang cerdas dan tanpa bias, masyarakat diharapkan mampu menciptakan ruang digital yang sehat, informatif, dan bebas dari informasi yang manipulasi/hoax.














