BeritaBERITA TERKINIHEADLINEhomeMATTA OPININUSANTARAPENDIDIKAN

Founder BG-Kesehatan, Febri Zulian : Pentingnya Edukasi Bahaya HIV/AIDS untuk Masyarakat 

×

Founder BG-Kesehatan, Febri Zulian : Pentingnya Edukasi Bahaya HIV/AIDS untuk Masyarakat 

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Palembang menjadi peringkat pertama dengan jumlah penyandang HIV/AIDS terbesar di Sumsel pada tahun 2023, mencapai 870 orang. Kasus HIV/AIDS di Palembang mengalami lonjakan signifikan, dari 658 orang pada tahun 2022, meningkat sebanyak 212 orang.

“Iya, pada Januari hingga Mei 2024 sudah ada 409 kasus baru HIV/AIDS. Melihat jumlah tersebut, diprediksi kasus 2024 hingga akhir tahun akan sama dengan kasus pada tahun 2023,” kata Pengelola Program HIV Dinkes Sumsel, Irma, Kamis (25/7/2024).

Fenomena ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Sumsel. Bahkan jika dijumlahkan, Palembang tetap menduduki peringkat pertama. Di Lubuklinggau, terdapat 26 kasus HIV/AIDS (14 HIV dan 12 AIDS), diikuti oleh Ogan Komering Ulu (OKU) Timur dengan 23 kasus (10 HIV dan 13 AIDS), Banyuasin 19 kasus (17 HIV dan 2 AIDS), serta Prabumulih juga 19 kasus (16 HIV dan 3 AIDS).

Di sisi lain, Musi Banyuasin memiliki 18 kasus (15 HIV dan 3 AIDS), Muara Enim 18 kasus (9 HIV dan 9 AIDS), OKI 15 kasus (10 HIV dan 5 AIDS), Lahat 11 kasus (8 HIV dan 3 AIDS), dan OKU 11 kasus (7 HIV dan 4 AIDS).

Menanggapi fenomena tersebut, Febri Zulian, Founder Bujang Gadis Kesehatan, menyatakan keprihatinan dan kekhawatiran khusus terhadap masalah ini. Dia menyoroti pentingnya edukasi masyarakat mengenai bahaya HIV/AIDS, mengingat bahwa sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini.

“Kita harus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai HIV/AIDS, sehingga mereka dapat menghindari faktor risiko terjadinya penyakit ini. Sekali tertular, tidak dapat disembuhkan,” ujar Febri.

Tokoh pemuda Palembang ini juga menekankan perlunya kerjasama semua pihak untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Sosialisasi mengenai bahaya HIV/AIDS bisa dilakukan melalui berbagai media termasuk media sosial, pemberitaan, bahkan sosialisasi langsung ke masyarakat.

Dengan penyebaran informasi yang lebih luas, Febri berharap masyarakat dapat lebih sadar akan bahaya ini dan selalu waspada terhadap HIV/AIDS.

“Banyak sekali penularan HIV/AIDS, terutama melalui hubungan intim dan penggunaan obat-obatan terlarang. Kami ingin masyarakat memahami bahwa setiap aktivitas tersebut memiliki risiko. Dengan meningkatkan kesadaran ini, kami berharap dapat mengurangi perilaku berisiko di kalangan masyarakat,” tambahnya.

Lebih lanjut, Febri mengungkapkan keprihatinannya terhadap jumlah anak muda yang terlibat dalam aktivitas yang berisiko, seperti menginap di hotel meskipun masih di bawah umur. Ini juga dapat menjadi salah satu faktor penyebaran HIV/AIDS, dan dia mengimbau pihak terkait untuk lebih peduli terhadap hal ini.

“Kita harus melindungi generasi muda dengan memberikan pendidikan, pengajaran agama, dan upaya pencegahan. Ini bukanlah pekerjaan satu orang, melainkan butuh keterlibatan semua pihak,” pungkasnya.