MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Hentakan kaki penari Dayak berpadu dengan alunan sape menggema di Entibab, Desa Nanga Dangkan, Kecamatan Silat Hulu.
Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan puncak Gawai Entibab Ningkau Kandau Bedangkan 2026 yang resmi ditutup Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan. Kamis (25 Juni 2026)
Gawai adat tahunan itu menjadi bukti denyut nadi budaya Dayak di pedalaman Kapuas Hulu masih kuat berdetak. Turut hadir anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu, para kepala OPD, unsur Forkopimcam Silat Hulu, perangkat desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga perantau yang pulang kampung khusus untuk bergawai.
*Disambut Adat, Tuak Pemali Jadi Pembuka*
Sejak pagi, warga berjejer di jalan masuk Entibab menyambut kedatangan Bupati Fransiskus Diaan beserta rombongan. Prosesi penyambutan dibuka dengan pengalungan syal tenun motif Dayak oleh Kepala Desa Nanga Dangkan kepada Bupati. Tak berhenti di situ, tuak adat disuguhkan sebagai tanda penghormatan tertinggi bagi tamu.
Rombongan kemudian diarak menuju pentas utama. Di sepanjang jalan, penari-penari cilik hingga dewasa menampilkan tarian penyambutan.
Busana manik, bulu enggang, dan perisai kayu mendominasi. Musik tradisional dari gendang, gong, dan sape mengiringi langkah kaki Bupati.
Kemeriahan berlanjut dengan ritual pembukaan tempayan tuak pemali. Anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu yang mendapat kehormatan membuka tempayan, didampingi para tetua adat.
Begitu tempayan dibuka, sorak sorai warga pecah. Tuak pemali kemudian diedarkan kepada para tamu dan tokoh sesuai tata cara adat.
“Ini simbol dimulainya gawai. Tuak pemali adalah doa dan syukur kita kepada Jubata atas hasil panen dan keselamatan kampung,” ujar salah satu tetua adat Entibab.
*Pentas Budaya hingga Perlombaan Rakyat*
Gawai Entibab Ningkau Kandau Bedangkan 2026 diisi beragam agenda selama sepekan. Ada lomba sumpit, menumbuk padi, tari kreasi Dayak, lagu daerah, hingga pameran kerajinan tangan.
Stand UMKM memamerkan anyaman rotan, madu hutan, kopi lokal, dan kuliner khas seperti lemang, paing, dan kue tumpi.
Di malam puncak, pentas utama tak pernah sepi. Sanggar-sanggar seni dari Silat Hulu dan kecamatan tetangga bergantian unjuk kebolehan. Suara tawa anak-anak berbaur dengan cerita orang tua tentang makna gawai yang diwariskan leluhur.
*Bupati Fransiskus Diaan: Gawai Adalah Syukur dan Identitas*
Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan menyampaikan rasa bangga melihat antusiasme warga menjaga tradisi. Ia mengapresiasi kerja keras panitia, tokoh adat, dan seluruh masyarakat Desa Nanga Dangkan.
“Gawai bukan hanya sebagai ungkapan rasa syukur atas berkat dan hasil usaha yang diperoleh, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan, memperkuat persatuan, serta menjaga identitas budaya masyarakat Dayak,” tegas Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan dalam sambutannya.
Bupati menekankan, di tengah gempuran modernisasi, gawai adalah benteng identitas. “Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi? Adat ini milik kita bersama. Jangan sampai anak cucu hanya kenal gawai dari cerita,” ucapnya.
*Dorong Jadi Daya Tarik Wisata dan Ekonomi Kreatif*
Bupati melihat potensi besar gawai sebagai penggerak sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Kapuas Hulu. Ia berharap event budaya seperti Gawai Entibab dikemas lebih profesional dan dipromosikan keluar daerah.
“Saya berharap generasi muda terus mencintai dan melestarikan adat istiadat sebagai warisan berharga yang dapat mendukung pembangunan daerah, pariwisata, dan ekonomi kreatif di Kabupaten Kapuas Hulu,” kata Fransiskus Diaan.
Menurutnya, penari, pemusik, perajin, hingga pelaku kuliner tradisional bisa hidup dari budaya. “UMKM jalan, sanggar dapat job, anak muda punya panggung. Itu semua efek domino dari gawai kalau dikelola serius,” tambah Bupati.
Pemkab Kapuas Hulu, lanjut Fransiskus Diaan, berkomitmen memfasilitasi pelestarian budaya. Mulai dari bantuan kegiatan adat, pembinaan sanggar, hingga mengusulkan Gawai Entibab masuk kalender event pariwisata Kalbar.
*Gong Tanda Usai, Semangat Tak Pernah Padam*
Penutupan ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Fransiskus Diaan sebanyak tiga kali. Dentang gong bersahutan dengan riuh tepuk tangan warga. Meski gawai resmi berakhir, semangat kebersamaan dan kecintaan pada adat tak lantas padam.
“Gawai tahun ini selesai, tapi tugas kita menjaga budaya tidak pernah selesai. Sampai jumpa di Gawai Entibab 2027,” pungkas Fransiskus Diaan. (*)














