Hidup Sebatang Kara, Nenek di Tasikmalaya Bersyukur dengan Penghasilan 30 Ribu Seminggu

MATTANEWS.CO, TASIKMALAYA – Kemiskinan masih menjadi masalah utama di Indonesia. Di Kabupaten Tasikmalaya contohnya, seorang nenek hidup sebatang kara selama puluhan tahun di sebuah rumah tak layak huni miliknya.

Nenek Imi (78), warga Kampung Pancabakti 1 RT/RW 013/003 Desa Cintabodas Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menghabiskan sisa hidupnya di sebuah gubuk reyot berukuran sempit tanpa suami dan anak.

Bacaan Lainnya

Bangunan berbahan kayu dan bambu yang mulai keropos, tak hanya membuat kita pengap tetapi juga rawan ambruk setiap saat jika ada angin kencang dan hujan.

Hampir seluruh aktivitas Nenek Imi dilakukan dalam bangunan sempit berukuran 3×4 meter persegi itu.

Terdapat tungku dan sejumlah ranting kering berwarna hitam yang menandakan sisa-sisa pembakaran.

Lokasi tungku yang berada tepat di tengah bangunan itu, mengakibatkan banyak jelaga menempel di dinding ruangan.

Di samping tungku, ada sebuah kamar yang sekilas mirip dengan gudang. Sehingga kamar itu digunakan untuk tempat beristirahat Nenek Imi.

Saat dikunjungi di kediamannya, nenek Imi sedang terbaring sakit lebih dari satu minggu, beruntung ada tetangga yang selalu mengurusnya.

“Alhamdulilah sudah ada mantri ke rumah untuk memeriksa Nenek, jadi tidak perlu ke rumah sakit,” ujar Nenek Imi dengan suara pelan nyaris tak terdengar, Kamis (22/7/2021)

Selain bersama kucing-kucing yang selalu datang ke rumahnya, Nenek Imi tak dapat menikmati masa tuanya.

Untuk itu dia dengan senang hati berbagi tempat tidur di kasur butut dan merelakan kain lusuh yang biasa digunakannya, rela dijadikan selimut kucing-kucing agar tak kedinginan.

“Dahulu nenek pernah menikah, namun sudah puluhan tahun suaminya meninggal dan belum sempat dikaruniai anak, jadi nenek hidup sendirian selama puluhan tahun,” paparnya.

Hidup tanpa suami dan seorang anak dengan tubuh yang semakin rentah digerogoti usia, membuatnya tak patah arang untuk bekerja jika ada tetangga yang membutuhkannya.

Apalagi, dia juga tak memiliki penghasilan setiap hari untuk menyambung hidup. Untuk kebutuhan makan, kadang-kadang ada tetangga yang iba dan mengirimkan makanan.

Dalam satu minggu biasanya 1 atau 2 hari ia dapat panggilan pekerjaan sebagai tukang potong rumput dan mendapatkan upah 30 ribu sehari.

Bisa dibayangkan jika dalam seminggu ia hanya bekerja sehari, upah 30 ribu itu harus mencukupi kebutuhan sehari-hari selama 1 minggu.

“Walaupun dapat 30 ribu dalam seminggu, nenek harus terap bersyukur atas pemberian Tuhan, karena rizki itu kan bukan dinilai hanya dari uang saja, setiap helaan nafas kita itu adalah rizki,” jelasnya.

Selain itu, Nenek Imi harus kuat berjalan ke kolam ikan yang ada tempat mandinya untuk mandi setiap hari.

Terkadang, jika terlalu capek dan mengetahui kondisi kesehatannya menurun, dia menumpang mandi ke rumah tetangganya yang berada di sebelahnya.

“Nenek tidak memiliki WC di Rumah, jadi harus berjalan jauh untuk mandi dan membawa air ke rumah untuk kebutuhan minum,” tandasnya.

 

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait