MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Sumatera Selatan mulai mengalami penurunan. Meski demikian, ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian karena kualitas udara di sejumlah wilayah belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan data sementara Dinas Kesehatan Sumatera Selatan per 18 Oktober 2026, tercatat sebanyak 89 kasus ISPA. Angka tersebut menunjukkan perkembangan positif setelah sebelumnya kasus gangguan pernapasan meningkat seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, Ira Peimadesa, mengungkapkan bahwa jumlah kasus ISPA telah melewati puncaknya dan berangsur turun pada periode berikutnya.
“Pernah kita mencapai puncaknya di minggu ke-40. Setelah itu, kasus ISPA terus menurun pada minggu berikutnya. Sampai hari ini juga turun, alhamdulillah,” kata Ira, Senin (19/10/2026).
Ira menjelaskan, angka kasus yang tercatat saat ini masih bersifat sementara. Data tersebut belum mengalami pembaruan hingga sore hari sehingga perkembangan terbaru masih terus dipantau oleh Dinas Kesehatan Sumatera Selatan.
Pemantauan tetap dilakukan mengingat dampak karhutla terhadap kualitas udara belum sepenuhnya berakhir. Kondisi ini membuat masyarakat perlu tetap berhati-hati meskipun jumlah penderita ISPA mulai berkurang.
Dari kelompok usia, kasus ISPA paling banyak ditemukan pada masyarakat berusia di atas lima tahun. Sementara berdasarkan jenis kelamin, perempuan tercatat sebagai kelompok yang banyak mengalami gangguan pernapasan tersebut, termasuk mereka yang berada dalam rentang usia produktif 18 hingga 45 tahun.
Menurut Ira, tingginya kasus pada kelompok usia produktif diduga berhubungan dengan aktivitas masyarakat di luar ruangan. Paparan polusi udara dan partikel debu yang terbawa kabut asap berpotensi meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.
Oleh karena itu, penurunan angka kasus tidak boleh membuat masyarakat lengah. Udara yang tampak lebih cerah belum tentu menandakan kondisi lingkungan sudah benar-benar aman untuk dihirup.
Dinas Kesehatan Sumatera Selatan mengingatkan warga agar membatasi kegiatan di luar rumah, terutama saat kabut asap kembali menebal atau kualitas udara mengalami penurunan. Apabila harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel polusi.
Upaya menjaga kesehatan juga perlu dilakukan melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta memenuhi kebutuhan cairan setiap hari.
Warga yang mulai merasakan gejala gangguan pernapasan, seperti batuk, pilek, sesak napas, maupun iritasi tenggorokan, diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan.
Dinkes Sumsel berharap tren penurunan kasus ISPA dapat terus berlanjut. Namun, selama kebakaran hutan dan lahan masih menimbulkan ancaman kabut asap, kewaspadaan masyarakat dan langkah pencegahan terhadap dampak kesehatan tetap harus dijaga.














