MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Kalau biasanya polisi berpangkat AKBP dan Kompol duduk di balik meja ber-AC, memberi perintah lewat HT, Senin pagi ini (19/10/2026) Putussibau menyaksikan pemandangan yang hampir punah.
Kapolres Kapuas Hulu AKBP Wisnu Perdana Putra dan Wakapolres Kompol Muslimin, rela menanggalkan gengsi jabatan, berdiri di tengah debu dan deru knalpot, di dua titik paling semrawut di Kota Putussibau Ibukota Kabupaten Kapuas Hulu.
Ini bukan pencitraan. Ini tamparan halus bagi budaya pejabat yang alergi turun ke lapangan.
Pukul 06.45 WIB, Bundaran Pancasila. Saat anak-anak SMP dan SD beradu cepat dengan motor dan mobil yang ugal-ugalan, sosok bertubuh tegap dengan seragam coklat lengkap dengan melati di pundak terlihat mengangkat tangan, meniup peluit.
Dia adalah Kapolres Wisnu. Tanpa ajudan yang membukakan jalan, ia sendiri yang menghentikan arus kendaraan. Tangannya yang biasa menandatangani surat perintah, pagi itu menggandeng tangan kecil seorang siswi SD yang ketakutan menyeberang.
“Pelan-pelan, Nak. Hati-hati,” ucapnya.
Di tempat berbeda, 3 km dari sana, pemandangan serupa terjadi di neraka kecil bernama Simpang Empat Pasar Pagi. Di sinilah hukum rimba lalu lintas berlaku. Pick-up sayur parkir sembarangan, ojek menyerobot, emak-emak bawa keranjang belanjaan nyaris terserempet.
Di tengah kekacauan itulah, Kompol Muslimin berdiri. Wakapolres yang biasanya memimpin apel itu, pagi ini dengan sabar menuntun seorang nenek membawa karung beras, mengatur motor yang nyelonong, dan menegur dengan senyum, bukan dengan bentakan.
Warga melongo. Beberapa merekam diam-diam.
“Seumur-umur baru liat Kapolres dan Waka yang mau begini. Biasanya yang turun anggota bintara. Ini bosnya langsung. Kami jadi malu kalau masih ugal-ugalan,” kata Pak Joni, tukang ojek di Pasar Pagi.
Memang, inilah yang hilang dari Polri selama ini kehadiran pemimpin di jalan, bukan hanya di spanduk.
Melalui Kasi Humas IPTU Jamali, S.A.P., M.H., Kapolres menegaskan, pengaturan lalin bukan tugas rendahan. Justru dari sinilah nyawa diselamatkan.
“Pengaturan lalu lintas adalah pelayanan paling dasar dan paling dirasakan masyarakat. Di sinilah Polri diuji, apakah benar-benar bersama masyarakat atau hanya slogan,” kata Jamali menyampaikan pesan Kapolres.
Ia mengingatkan, Bundaran Pancasila dan Pasar Pagi adalah titik rawan laka, terutama anak sekolah dan pejalan kaki.
Pesan akhirnya menggigit Patuhi aturan. Pakai helm. Jangan kebut-kebutan. Karena di jalan, yang jadi korban bukan hanya pengendara, tapi juga anak orang lain yang ingin sekolah.
Senin pagi di Putussibau akhirnya membuktikan satu hal. Wibawa seorang Kapolres tidak luntur karena mengatur lalu lintas.
Justru di situlah wibawanya naik. Di peluit yang ditiup, di tangan anak kecil yang diseberangkan, dan di senyum emak-emak pasar yang merasa dijaga. (*)














