MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG – Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, Ferry Saragih, S. Sit., M.H., menyebutkan bukan pada kesalahan pengukuran tapi kesalahan dalam penunjukan batas.
Hal itu diungkapkannya sehari usai viralnya pemberitaan di media sosial yang memuat artikel Kades di Tulungagung Keluhkan Lambatnya Penerbitan Perubahan Sertifikat PTSL 2019 Desa Mojoarum, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Rabu (11/10/2023).
“Jadi bukan kesalahan pengukuran tapi kesalahan dalam penunjukan batas. Berkasnya itu misalnya 100 yang ditunjukan 200, ada juga kadangkala berkasnya 100 yang ditunjukkan 50, 50 dengan dipecah-pecah,” ucap Ferry dihadapan Ketua dan Anggota Pokmas didampingi Kepala Desa Mojoarum Hj. Emmy Siksowati di kantor BPN Tulungagung.
“Makanya, kemarin juga banyak kasus yang pecah-pecah, dan ini saya tutup berkasnya, tidak boleh lagi karena kasus-kasus pernah terjadi karena menganggap teman-teman di desa itu menggampangkan, ini adalah produk hukum. Oh ini tinggal robek atau coret padahal ini di tempat kita adalah data seumur hidup,” imbuhnya.
Menurut Ferry, bahwasanya data-data yang dikasihkan oleh bapak-bapak Pokmas Desa Mojoarum dan Ibu Kades itu adalah sebuah dokumen yang akan pertanggungjawaban di Pengadilan.
“Kalau data ini tidak benar berarti cacat hukum sertifikat itu,” ujarnya.
Ferry menambahkan dari keterangan para Kepala Seksi (BPN Tulungagung tahun 2019) akhirnya ia memahami inti dari permasalahan yang dikeluhkan oleh Pokmas Desa Mojoarum tersebut sebenarnya terjadinya mis komunikasi.
Hal itu terjadi, sambung dia, dipicu koordinasi antara petugas pengukuran dengan Pokmas Desa Mojoarum tidak banyak melalui dari BPN.
“Adanya banyak pemecahan bidang, dan ini sebenarnya yang terjadi di Desa dengan Pokmas dengan petugas ukur memecah tanpa koordinasi sehingga sertifikat yang terbit itu tidak sesuai,” tambahnya.
“Jadi tolong dan intinya teman media jangan sampai berakibat opini karena keluar ini beritanya. Harapan saya klarifikasi saja, saya kan kalau ada di kantor pasti teman media saya temui, tidak pernah saya menolak kecuali saya tidak ada ditempat. Kita sama-sama belajar dan ini sebenarnya tidak ada masalah hanya masalah komunikasi,” sambungnya.
Lebih lanjut Ferry menjelaskan ia mengaku baru mengetahui ceritanya bahwasanya Pokmas Desa Mojoarum ikut program PTSL tahun 2019 setelah mencuatnya pemberitaan di salah satu media online.
Setelah itu, jelas dia, ia mengklarifikasi semua dan akhirnya menarik semua data, sehingga apa yang diberitakan itu menurutnya dengan bahasa sangat memojokkan.
“Saya klarifikasi data dari Pokmas Desa Mojoarum itu kemarin tidak benar 90 bidang masuk di BPN, yang benar itu berkas 79 bidang yang masuk di BPN,” terangnya.
“69 perubahan sertifikat itu siap diambil,” imbuhnya.
“Yang 10 ini problem kita , nanti saya akan panggil petugas ukur lama sudah ada yang pensiun tetap akan diselesaikan dalam waktu 1-2 minggu, kalau memang tidak bisa kita akan batalkan secara aturan karena tidak memenuhi syarat dan ketentuan peraturan,” pungkasnya.
Tempat sama, Cesy salah satu pegawai Pengumpul Data Yuridis BPN Tulungagung mengatakan hal serupa bahwasanya revisi sertifikat dari Pokmas Desa Mojoarum dari 79 itu yang 10 belum bisa direvisi karena alasan terkait luasnya 2 kali lipat.
“Maka kami sering menghubungi dan koordinasi dengan Pak Ali Ketua Pokmasnya untuk segera diambil yang sudah selesai dan apa yang belum dipenuhi kami sarankan agar segera dipenuhi tapi Pak Ali sulit untuk ditelepon dan kesini jarang,” kata perempuan berparas cantik itu.
Sementara itu, Kepala Desa Mojoarum, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Emmy Siksowati menuturkan ia mengaku bersyukur penantian begitu panjang dari tahun 2019 akhirnya 69 perubahan sertifikat PTSL sudah bisa diambil, meskipun 10 lainnya masih belum jadi.
“Plong (Lega.red) akhirnya saya tidak punya beban karena warga saya adalah prioritas utama desa yang saya cintai,” tutur wanita berhijab ini sembari tersenyum itu.
“Mudah-mudahan kedepannya tidak terjadi kejadian seperti yang dialami oleh Desanya, dan jangan sampai ada Mojoarum-Mojoarum yang lain. Semoga diberi kelancaran dan sukses selalu untuk BPN Tulungagung,” sambungnya.















