MATTANEWS.CO, SULBAR, — Bak telur di ujung tanduk, ungkapan inilah yang terucap dari bibir Kurniawan, 47 tahun, warga Desa Lalatterong, Kecamatan Cendana, Kabupaten Majene. Sejak dinyatakan terjangkit Corona oleh medis, Kurniawan harus rela kehilangan sumber mata pencaharian satu-satunya sebagai sopir angkot tujuan Majene, Sulbar – Makassar, Sulsel.
“Saya divonis Corona sekitar November 2019 lalu setelah menjalani pemeriksaan di Puskesmas, karena kami sebagai sopir lintas provinsi diwajibkan untuk tes kesehatan,” ujarnya ketika ditemui di kediamannya di Lalatterong pekan lalu.
Kurniawan telah menjalani profesi tersebut selama 4 tahun. Tak jarang, dia mampu meraup penghasilan hingga 2 juta rupiah sekali narik. Meski ia rasa pendapatan itu kurang, namun jumlah itu masih mampu menutupi kebutuhan keluarganya sehari-hari.
“Saya memiliki banyak pelanggan dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum. Sering juga saya mendapat orderan berupa pengiriman barang, baik dari Majene ke Makassar maupun sebaliknya,” kata dia.
Namun apa daya, mesin pencari uang harus mogok jalan lantaran orderan tak kunjung datang. Menurut dia, para pelanggannya tidak lagi memakai jasanya karena takut tertular oleh virus asal Wuhan, China yang menjangkiti tubuhnya itu. “Mungkin mereka jijik dan takut tertular oleh saya waktu itu,” kata Kurniawan.
Tak hanya itu, dia bahkan dijauhi. Tetangga maupun kerabatnya yang selama ini hidup rukun bersamanya tak lagi datang menyapa, apalagi untuk bertamu ke rumahnya. Mereka malah lari ketakutan ketika lewat di sekitar rumah Kurniawan. “Saya merasa terasing, sedih dan malu,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Kurniawan hidup didampingi sang istri, Wati, 38 Tahun, dan 3 orang buah hatinya. Anak sulungnya, Ardiawan seorang mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan tinggi di salah satu kampus di Makassar. Sedang anak kedua dan terakhir masih di bangku sekolah SMA. “Sekarang ini saya harus memutar otak untuk memenuhi biaya sekolah anak kami,” ujarnya.
Usai menjalani masa karantina, Kurniawan pun terpaksa memulai kehidupan baru. Kendaraan roda empat yang ia gunakan untuk bekerja itu telah raib di pasaran. Itu dilakukannya karena terdesak oleh kebutuhan keluarga sehari-hari. “Saya terpaksa menjual mobil untuk biaya makan dan uang saku anak kami,” kata dia.
Kini keadaan kembali normal. Kurniawan yang dibantu istrinya menjalani pekerjaan baru yakni berjualan kue keliling. Jenis jajanan yang mereka jual berupa kuliner tradisional Mandar seperti, Bolu Paranggi, Baye, Baruas dan sebagainya.
“Penghasilannya jauh lebih rendah ketimbang saya sebagai sopir. Saya merasa keluarga kami seperti telur di ujung tanduk,” kata dia.















