MATTANEWS.CO, OKI – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, mulai memperketat langkah perlindungan masyarakat menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap.
Sebanyak 80.000 masker dan 5.000 vitamin disiapkan untuk masyarakat. Di sektor pendidikan, sekolah diminta mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten OKI H Alamsyah mengatakan distribusi masker dan vitamin telah dimulai sejak Senin (24/8). Bantuan tersebut disalurkan secara bertahap, terutama di lokasi yang memiliki aktivitas dan mobilitas masyarakat cukup tinggi.
“Kemarin mulai kita sebar. Ketersediaan stok saat ini ada 80.000 pcs masker serta 5.000 vitamin,” kata Alamsyah, Selasa (25/8).
Menurut dia, pembagian logistik kesehatan akan terus disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Pemerintah daerah berupaya memastikan warga yang tetap harus beraktivitas di tengah paparan asap memiliki perlindungan dasar.
Selain distribusi masker dan vitamin, Dinas Kesehatan OKI memperkuat sosialisasi mengenai pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Warga diminta mengenakan masker ketika berada di luar rumah dan membatasi paparan asap. Masyarakat juga dianjurkan memperbanyak minum air putih, mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat cukup, serta menjaga kebersihan tangan.
“Keluhan seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, iritasi mata, hingga sesak napas perlu diwaspadai. Warga yang mengalami gejala tersebut diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” katanya.
Dampak kualitas udara juga menjadi perhatian pemerintah daerah di lingkungan sekolah. Kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, tetapi aktivitas siswa di luar ruangan harus menyesuaikan kondisi udara.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten OKI Muhammad Refly mengatakan olahraga dan kegiatan ekstrakurikuler dapat dikurangi atau dihentikan sementara apabila kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.
“Kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Namun, aktivitas di luar ruangan, seperti olahraga dan kegiatan ekstrakurikuler, perlu dikurangi atau ditiadakan sementara jika kondisi udara tidak sehat,” ujar Refly.
Sekolah juga diminta lebih aktif memantau kondisi kesehatan siswa selama kegiatan belajar berlangsung.
Jika siswa mengalami keluhan seperti tenggorokan teriritasi, mata perih, batuk, atau sesak napas, sekolah diminta memberikan penanganan awal dan segera berkoordinasi dengan orang tua.
Pemkab OKI, kata Refly, akan mengikuti perkembangan kualitas udara untuk menentukan kebijakan berikutnya. Koordinasi antarlembaga juga diperkuat agar respons pemerintah dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
“Prinsipnya, pemerintah hadir untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikannya. Namun, pada saat yang sama, kesehatan dan keselamatan mereka harus menjadi prioritas utama,” tandasnya.














